PANTAI SARUMANIS | catper

PANTAI SARUMANIS

Kabupaten Kebumen


PANTAI SARUMANIS


(02/06/18) Panas-panas, mantai. Kedengerannya enak ya. Tapi bagaimana kalau itu terjadi ketika pas Puasa. Panas lah cuy,,,, tapi ngangenin suasanya nya.

Pantai Sarumanis merupakan jejeran pantai selatan yang berada diwilayah Kabupaten Kebumen Provinsi Jawa Tengah. Tepatnya di Desa Pasir - Kecamatan Ayah. Eit. Sampai sini jangan disalah pahami ya. Kalau kamu tadi sempat membaca Desa Pasir, aku pastikan kalau kamu tidak salah baca. Hehehe... Ternyata Desa Pasir (baca:sunagakure) tidak hanya di Naruto saja. 😄 

Berjarak kurang lebih satu - dua jam dari pusat kota Kebumen.

Berawal karena diajak oleh Ali Kahfi. Salah satu temen kantor. Mengajak untuk menemani dia saat membawa barang dari Jogja. Mengingat aku yang sedang tidak ada kegiatan, pun mengiyakan ajakannya. Dan singkat cerita aku dan Ali berangkat dari Jogja, jam 4 sore. Ambil barangnya, kemudian langsung berangkat kesana.




Perjalanan Jogja kerumahnya, di kebumen. Tidak ada yang menarik untuk aku tulis disini. Hanya perasaan seperti sedang mudik lebaran, yang sudah sering dirasakan bagi kalian yang saat ini sedang merantau.

Jadi, yang saat ini masih dirumah aja, dan belum pernah merasakan rasanya jadi anak rantau. Merantaulah. Nanti kalian akan sangat ingin untuk merasakan detik-detik akan pulang kampung. hehehe

Pas berkumandangnya Adzan Maghrib, kami sudah di Kebumen. Setelah membatalkan puasa di salah satu minimarket disana, kemudian ke Masjid Agung Kebumen untuk melaksanakan ibadah Shlolat Magrib.

Lantas setelah itu tidak langsung menuju kerumah si Ali, melainkan kami mencari mia ayam sebagai menu buka puasa kami hari itu. Setengah jam kami pakai untuk berbuka sekaligus beristihat, kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju rumahnya Ali yang ternyata masih satu jam lagi. Gilak. 😖

SUASANA DESANYA ALI

Sesampai di rumah Ali, kami pun segera menurunkan bawaan kemudian beranjak untuk beristirahat. Sebelum istirahat aku dipersilahkan untuk makan dengan menu yang sudah disediakan oleh Keluarga Ali.

Ketika berada di rumah ali, ternyata kondisi perkampungannya melebih ekspetasiku. Hanya satu kata yang bisa aku gambarkan. Menentramkan.

Baca juga :

Rumah Ali berada di pinggir jalan pas. Hanya berjarak beberapa meter saja dari terasnya. Sedangkan jalan tersebut, menurut Ali merupakan jalan penghubung ke salah satu desa di atasnya. Iya. Ternyata rumah Ai berada di atas ketinggian kota Kebumen. Dan masih ada desa lagi diatasnya. Jadi, tak mengherankan jika sekitar jam 9 malam, aku sudah merasakan kedinginan. 😁

Di jam-jam tersebut, ternyata masih ramai. Bukan karena bisingnya jalan penghubung didepan rumah Ali, melainkan lantnan rayat Al Quran yang mendayu di malam Bulan Ramadhan, berasal dari masjid dibelakang rumah Ali. Kondisi yang hampir tidak pernah aku jumpai selama di Jogja.

Ditambah dengan peneranganya jalan yang sangat terang. Cukup terang untuk menerangi jalan perkampungan.

Suasana seperti itu yang seketika mengingatkan ku ketika aku masih kecil. Ketika mamak belum menikah lagi, dan masih seringnya aku dan adik perempuanku berpergian kerumah Kakeknya. Ayahnya mamak. Tidak ada suatu kalimat yang bisa aku tuliskan untuk mewakili perasaanku saat itu. 😏

SEBELUM BALIK KE JOGJA

Pagi itu. Saat menjelang imsak. Aku berenjak bangun. Terbangun oleh suara orang memukul tiang listrik dengan kerasnya. Dan beruntungnya, tiang listrik itu TEPAT berada disamping kamar tidur milik adik Ali. Auto melek. 

Adalah tradisi yang pernah aku rasakan ketika aku masih sering menginap dirumah kakek nenek ku dikampung. Nostalgia waktu itu ternyata masih saja berlanjut.

Terlebih, kamar tidurnya nyaaaaaaman banget. Jika saja itu adalah kamarku, mungkin aku lebih memilih tidak sahur. Dan meneruskan sampai adzan shubuh. Tapi, kayaknya tidak mungkin deh, kalau kamarku memiliki lem sekuat itu. 😁

Kami sahur di rumah Ali. Dan kemudian, kamu lanjutkan ngobrol mbuh di ruang depan. Di kursi yang ia bawa dari Jogja.

Betul, kami dari Jogja membawa perlengkapan meja dan kursi tamu. Dia seperti sedang menghadiahkan untuk keluarganya, yang bahkan sampai tahun ke 9 ini, aku belum mampu melakukannya. Tapi Ali sudah bisa melakukannya di tahun ke 4 nya ia gabung di perusahaan tempat aku bekerja. Hebat kan dia.

Sakit lho rasanya kalau mengingat hal seperti itu. 😊

WAKTUNYA PULANG

Waktunya pulang cuy. Setelah adzan shubuh, Aku mulai memanasi mobil dari rental an, yang kami gunakan untuk membawa meja dan kursi dari jogja.

Masih pagi sekali. Udaranya bikin mager. Adem, sejuk, perfect lah untuk orang seperti ku yang banyak magerannya. Hahahah....

Entah, aku belum bisa mengilustrasikan lewat tulis, bagaimana enaknya saat dirumahnya Ali. Ya,,,seperti kebanyakan rumah yang berada di perkampungan gitulah.

Setelah pamit dengan orang tuanya Ali. Kami pun meninggalkan rumahnya untuk kembali ke Jogja. Dan sebelum kembali, kami berencana untuk mlipir ke salah satu tempat wisata, yang sebelumna udah disarankan oleh ALI - Pantai Sarumanis.


PANTAI SARUMANIS

Ini memang sudah direncakan sejak awal kok. Jadi saat pulang kami akan mampir kesalah satu tempat wisata di Kebumen. Lantas kami tidak langsung menuju ke Pantai nya, melainkan kami mampir ke tempat temannya Ali yang katanya sih baru pulang dari Kalimantan.

Disana kami pinjam kendaraan roda dua. Sedangkan mobil yang kami pakai, kami titipkan disana.

Dari rumah kawannya Ali, kurang lebih sejam an untuk menuju ke Pantai Sarumanis. Ternyata kami kepagian. Belum ada pengunjung yang datang. 😁 Kapan lagi menikmati pantai sesepi ini.

BERPAPASAN DENGAN PETUGAS RETRIBUSI

😄 Andai saja kami berangkat lebih pagi lagi, mungkin kami tidak bakal di tarik biaya masuk alias retribusi, Wkwkw... Karena saat kami dalam perjalanan menuju lokasi pantai Sarumanis, kami berpapasan dengan seseorang yang kami anggap salah satu pengunjung seperti kami.

Kami tahu, karena hanya dia saat itu yang kami jumpai saat menuju pantai Sarumanis. Seseorang yang kami anggap Pengunjung itu mengendarai motor matic dengan kencangnya saat melewati kami. Sedagkan kami, lebih memilih santai menikmati pemandangan disisi kiri kami yang sudah berbatasan langsung dengan pantai selatan.

Saat sampai di Pintu Masuk, kami mengenali kendaraan yang terparkir disamping pos tersebut, dan benar saja ternyata yang didalam pos adalah mbak-mbak yang melewati kami dengan tergesa-gesa.

😄 iya tadi. Andaikan saja kami lebih cepat 10 menit, mungkin kami bebas dari biaya retribusi. Wkwkwkw.... Sebenarnya hanya Rp.10.000,- per orang sih. Tapi yang namanya anak Perantauan lho, nominal segitu kan juga sangat berharga. Bisa beli makan di Burjo (Bubur Kacang Ijo) yang sekarnag sudah berganti nama dengan WARMINDO (Warung Makan Indomie). 😁 kalau orang perantaun yang berdomisili di Jogja tahulah apa itu.

PANTAINYA SEPI

(Parkiran)

Kalau di pantai-pantai di Jogja, jam 6 pagi saja biasanya sudah ada pengunjungnya. Walaupun sebagian merupakan warga lokal yang sedang melakukan aktifitasnya.

Saat kami tiba di parkiran, kami mendapati lima kendaraan roda dua. Kami sih menduga kalau itu adalah kendaraan warga lokal yang melakukan aktifitasna disana.

Oh Iya. Parkiran di Pantai Sarumanis ini ternyata cukup luas lho. Bisa menampung puluhan Mobil dan Bus. Dan lahan parkirannya juga datar meskipun berdebu. Itu karena kondisi lahan parkirannya masih berupa tanah, belum ada pavingan disana. Walaupun begitu ini sudah lebih dari cukup. Apalagi dari parkiran, pengunjung sudah bisa melihat pantai Selatan.


MELAKUKAN EXPLORE

(Gardu Pandang)

Berhubung masih sepi sih, jadi aku dan Ali berniat untuk melakukan explore di Pantai ini. Aku tidak tahu apakah Aii pernah ke sini. Tapi dengan melihat antusiasnya, sepertinya ini adalah pertama kalinya berkunjung kesini.

Pertama kali yang kami jajaki adalah gardu pandangnya.

Lokasinya tidak jauh dengan tempat parkir. Disini para pengelola menyediakan banyak sekali spot foto yang berbackground laut lepas nan biru. Dekorasi jalan yang terbuat dari kayu, menambahkan keindahan backgroundnya.

Tangan yang sejak awal sudah memegang Handphone dan menstandby kan kamera, pun secara otomatis memencet tombol capture nya. Mungkin ketika sudah ramai, tidak bakal mendapat pemandangan yang Yahui seperti ini.

(Gubug Reyot)

Entah apa yang dipikirkan pengelola, dengan membuat tempat beristirahat seperti ini.

Gubug Reyot, yang ketika aku hitung berjumlah sekitar 8 (delapan) gubug. Berlokasi di sebelah selatan, pas berada di pinggir jurang. Sekilas berada di antara semak-semak tebing. Gubug yang terbuat dari kayu, beratap seperti jerami yang mengerucut. Didalamnya hanya ada tempat duduk yang sengaja di satukan dengan dinding kayunya dan hanya berukuran 2 (dua) orang saja.

yaps, ini seperti membuatkan tempat untuk para pemuda melakukan zina. 😁 (sudah bisa membayangkan ya. Hehehe)

Baca Juga :

Karena masih sepi, jadi tak bisa mempergoki penghuni gubug. Padahal aku sudah memikirkan hal aneh-aneh. 😄 La gimana lho. Orang tempatnya seperti itu.

Terus aku membayangkan, ini kalau hujan gimana ya. Kan atapnya juga terlihat bolong dari bawah. Kayak nggak niat banget buat tempat ini. Atau niat membuatnya sebenarnya ada unsur lain. Ah entahlah. 😎

(Jalan turunan ber zig-zag)

Puas dengan spot diatas. Mengabadikan setiap sudut, giliran bagian bawah yang perlu di Explore.

Oke. Ini adalah spot yang paling aku suka. Jalan Setapan berzig-zag. Yang mendesain tempat ini memang oke banget lah. AKu suka.

Jalannya didesain berzig-zag. Dari sisi teknis dapat karena tidak akan membuat orang cepat lelah. Dari sisi Estetika pun juga dapat. Sepertinya memang sudah direncanakan secara matang deh, meskipun belum sepenuhnya sempurna. Tapi, hal tersebut tidak akan berlaku terhadap orang yang lebih suka berpandangan dari satu sisi aja. Anjay 😁😃

Ditengah-tengah jalan zig zag ini, ternyata juga menyediakan spot foto khusus lho. Kalau ada yang pernah sinetron terabsurd di stasiun televisi di Indonesia, yang menampilkan seseorang yang mengendarai Garuda, mungkin kamu bisa merasakan sensasinya disini.

Asal belum di bongkar aja sih. 😁

(Perahu Terdampar)

Bukan Perahu benaran lho. Hanya bentuknya saja menyerupai perahu. Aku bilang perahu terdampar karena teras yang diserupakan perahu dan berada di daratan. 😃 .

Warung berteraskan perahu ini, berada di ujung jalan berzig-zag bagian bawah. Warung ini memiliki Penempatan yang sangat strategis menurutku. Sebelum dan Sesudah melewati jalanan zig-zag, langsung disambut oleh Sebuah warung yang unik.

Hanya saja, aku tidak tahu menu apa saja yang disajikan disana. Karena pada saat itu, warung dalam kondisi tertutup.

(Jalan Landai di Pinggir Tebing)

Setelah melewati warung berteras perahu, maka jalan selanjutnya yang dilalui adalah jalan landai. Ada sedikit tanjakan dan turunan tapi tidak terlalu terasa.

Keamanannya hanya berupa pagar yang terbuat dari Bambu. Itupun juga sudah usang dan hanya ada dibeberapa titik saja.

Selain itu, jalan ini masih berupa tanah. Jadi, jika hujan akan becek, sedangkan saat panas akan berdebu.Ternyata datang lebih awal tidak ada salahnya juga ya. 😊

Oh iya. Waktu itu, ada beberapa jalan yang rusak. Mungkin karena longsor disebabkan tanah yang masih labil. Namun masih cukup aman asal tidak macam-macam. Mungkin kalau pas ramai-ramainya sih butuh banget kewaspadaaan. Karena tebing disisi selatannya tidak ada pembatasnya.

(Perkampungan dalam bentuk Perwarungan)

Makin kesini, kok tulisanku semakin ngaco ya. Bisa menciptakan kosakota yang masih tidak umum. Perwarungan - Apaan coba 😂. Tapi seperti itu sih kondisinya.

Seolah-olah, para penganjung disambut oleh sebuah perkampungan, namun semuanya menjanjakan jajanan. Tapi masih seperti hal nya diatas. Warung-warung disini masih tutup. Bahkan ada yang baru dibangun. Begitu juga dengan beberapa titik jalan yang cor-cor annya masih terlihat belum lama mengering.

Sempat berfikir juga dalam hati. Apakah pantai ini merupakan destinasi baru. Karena sejak awal masuk, aku melihat banyak pembangunan-pembangunan di berbagai sisi. Tapi yaudahlan, itu hanya lamunan sesaat kok. Heheh

(Ada masjid di Bibir Pantai)

Masih di dalam lokasi perwarungan kok. Hanya saja lokasi masjid ini berada di paling ujung. Juga ada toilet umumnya. 

Sekilas sih, masjid juga baru dibangun. Cat tembok yang belum kusam. Juga keramik yang masih anyar. Hemh, mungkin memang Pantai Srau ini adalah destinasi lama yang diperbaharui dan dikembangkan lagi.

dari yang belum menjadi di adakan, Dan dari yang ada dikembangkan, Asyik.

(Ada Camp Area Juga)

Ini dia. Lokasi Camp area yang berada pas di samping masjid. Lokasi nya cukup rata, tapi mesti berhati-hati karena aku lihat ada batu-batu kecil dan tampak tajam mencuat keatas. Pun juga ada beberapa tumbuhan berduri.

Sejujurnya, lokasi ini sangat pas menikmati suasana pantai secara maksimal. Mendirikan tenda kemudian bercengkrama. Membuat api unggun sembari melamun. Aish... jadi kesana lagi akunya.

PANTAI

0 Response to "PANTAI SARUMANIS | catper"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel