Bukit Pranji - Kebumen

BUKIT PRANJI KEBUMEN

Mlipir tipis di sela-sela jam kerja
Bukit Pranji - Kebumen
Gardu Pandang Bukit Pranji - Kebumen

(05/04/16) - Bukit Pranji, merupakan lokasi wisata yang bisa dibilang baru yang berada di Kebumen. Tepatnya di desa Pejagoan Ditandai dengan adanya warung yang sepertinya belum lama dibangun, serta jalur yang masih tampak baru dimana jalur tersebut berdampingan dengan jalur lama. Ditambahkan dengan fasilitas dan spot foto saat sudah puncak.

Bukit Pranji ini seperti versi Gunung Api Purba-nya Kebumen. Karena saat setelah sampai puncak, sepintas terlihat sama. Itu menurut pandanganku sih. 😉

PERJALANAN DINAS LUAR KOTA

Merencanakan Untuk Berbuat Nakal

Perjalanan ke Bukit Pranji, merupakan perjalanan yang pyur aku lakukan secara spontan. Tak ada perencanaan. (Kalau niat sih ada 😋).

Ketika perjalanan dinas sudah aku rampungkan, sedangkan waktu masih cukup untuk berpergian jadi ya kenapa tidak aku manfaatkan. Apalagi waktu itu juga masih sore. Belum petang-petang banget.

Bermula dari malam sebelumnya, dimana aku diberi instruksi oleh atasanku yang meminta agar bisa berangkat ke salah satu instansi di Kebumen. Ada salah satu dokumen yang belum sempat diselesaikan oleh karyawan yang ditujuk oleh kanntor sebelumnya, sedangkan karyawan tersebut kebetulan sedang ada pekerjaan lain yang tidak bisa diwakilkan.

Hal semacam ini sudah sering banget aku alami. Kalau bos ku bilang, katanya aku ini "ban serepnya" kantor. Hanya di butuhkan diwaktu-waktu terakhir saja. Entah aku harus bahagia atau sedih mengetahui kenyataan itu 😁.

Skipp >>>

Singkat cerita nih ;
  1. 07.00 - berangkat dari kantor
  2. 11.00 - sudah sampai dikantor yang dituju
  3. 15.00 - pemerikasaan dan serah terima dokumen selesai
Singkat kan. 😃 Ya kalau tidak aku begitukan malah akhirnya jadi curhat nanti. Hahaha.


Jam 15.00, secara teknis perjalanan dinas ku sudah selesai. Dan seharusnya aku harus kembali ke kantor Jogja. Hehehe,,, tetapi 😁 ketimbang langsung balik Jogja dan setibanya disana pastinya sudah di jam pulang kantor, alangkah lebih baiknya kalau kesempatan seperti ini dimanfaatkan dengan sangat baik. semisal - MLIPIR 😎

Modal Googling

Dengan pertimbangan di atas, lantas segera kubuka aplikasi Google kemudian mensearching lokasi wisata di sekitar Kebumen Kota. Banyak pilihan tentunya, tapi aku juga harus mempertimbangkan waktu menuju lokasinya. Kalau waktu pulang mah BEBAS 😃 orang sampai kantor akhirnya tetap malam. Hehehe



Pun akhirnya pilihan sudah ditetapkan. Mencari ketenangan dan sedikit tantangan, pilihan pun jatuh ke Bukit Cumbri. Perkiraan waktu untuk menikmat wisata disana juga sudah aku pertimbangankan.



Kondisi hari yang makin sore, maka aku tidak mau membuang-buang waktku ku lebih banyak. Pun aku langsung melesat kesana.





Bermodalkan Google Maps, aku jelajahi jalanan kota kebumen memakai motor matic - kendaraan operasional kantor. Waktu itu motor maticnya masih enak, karena memang masih baru. Buuuueda banget dengan sekarang yang udah legrek. Bekasan orang banyak 😃.




Selepas aku diputar-putarkan oleh google maps di jalanan kota, akhirnya trek diarahkan menuju jalan perkampungan. Yang seingatku setelah melewati jembatan dari arah alun-alun Kebumen kemudian belok kanan. Masih berupa aspal tapi semakin sempit. Disisi sebelah kiri jalan terdapat selokan. Kurang lebih seperti selokan mataram yang ada di Jogja.



Terus saja aku ikuti jalan tersebut sambil sesekali berhenti untuk mengecek jalur yang aku lalui sudah benar sesuai saran google map tidak.


Semakin Senja Tapi Tak Kunjung Tiba

Hal yang aku sesalkan saat itu adalah, aku sering lupa untuk mendokumentasikan jalur yang aku lalui. Mau kembali juga jauh, tapi kalau nggak kembali kok ada perasaan menyesal ya. 😁 Yasudahlah.

Rute perjalanan melewati pinggiran selokan kurang lebih sekitar 20 menit, sampai akhirnya oleh google maps aku disarankan untuk berbelok ke kiri. Tanjakan.


Bukit Pranji

Setelah belok kiri, sebagaimana sarannya g-m (red.Google-Map), DImana yang semula jalannya landai sekarang menjadi tanjakan. Yang semula aspal sekarang menjadi jalan cor-cor an. 

Pun aku mulai was-was karena hari semakin senja, dan perjalanan sepertinya masih lama.

Aku tidak takut gelap, yang aku takutkan adalah sampai sana sudah terlanjur petang (eh sama aja ding ya 😒), lantas aku mulai sedikit ngebut di tanjakan yang notabenya adalah makadaman. Ach... tidak apa-apa. motor kantor ini kan. 😸

Nyasar di Perkampungan

😆 Sok-sok an ngebut di belokan, ternyata malah nyasar diperkampungan. Untung saja, feeling ku lebih dulu mengingatkan, sehingga nyasarku tidak terlampau jauh. Untung ya. 😵

Beruntungnya lagi, di perkampungan yang mulai terlihat landai setelah sebelumnya di hajar tanjakan, sinyal internet dari provider yang aku pakai masih bisa ditangkap oleh Handphone (Kesannya kok ngece sekali ya. 😄😄) Jika tidak, maka dipastikan aku akan kembali lagi. Yah,, meskipun ada seseorang yang bisa aku tanya hanya akan membuang waktu semakin tersia-siakan.

Baca juga :

Lalu aku menyocokkan kembali jalurku dan memposisikan keberadaanku di Maps Google. Setelah yakin, langsung aku lanjutkan perjalanan untuk mengejar ketertinggalan. Sunset (Padahal gag bakal dapat, lawonng mendung 😄)

Jalan disini mulai bersahabat, meskipun masih di dominasi berupa jalan cor-cor an. Jalan-jalan sore diperkampungan memang sangat menyenangkan lho. Sampai-sampai terhanyut oleh buaian suasana senja, aku tak menyadari jika jalan mulai sepi. Lampu temaram sudah mulai menyala sebagai penyambut malam. Pun aku mulai bergegas. Dan sampai beberapa menit kemudian.

NANJAK KE BUKIT PRANJI

Parkiran

Sepanjang perjalan, semenjak mengetahui hari semakin sore, selalu saja didera perasaan was-was. Tapi setibanya sampai disuatu tempat yang didepannya terpasang papan nama yang terpasang didepan sebuah rumah, perasaan was-waspun secara tiba-tiba menghilang seketika.

Aku sudah sampai di pintu masuk Bukit Pranji.

Bukit Pranji
Basecamp dan pelataran Parkiran
Basecamp dari Bukit Pranji hanya lah sebuah rumah yang dipakai secara simbolis saja. Memiliki halaman yang cukup luas dengan alas berupa kerikil kali seukuran kelereng menyebar kesuluruh halamaan yang sepertinya sengaja di buat untuk lahan parkiran.

Dilahan parkir, yang dijaga oleh segelintir pemuda yang mungkin juga warga sekitar, terdapat beberapa kendaraan motor saja. Kalau tidak salah cuma ada 2-3 kendaraan. Termasuk matic kantorku.

Setidaknya aku diatas tidak sendirian. 😘 terlebih harus sudah sangat sore. Bahkan matahari senja saja sama sekali tak tampak. Mendung hitam yang menggantung di langit saja yang akan menemeni perjalanan ku atas. 😁

Jalur pendakian

Kalau tidak salah, aku hanya mengeluarkan uang sejumlah Rp.15.000,-. Ini sudah termasuk biaya masuk dan juga biaya parkir. Hem.. 😊 .. cukup lah bagi pelancong dari kota jauh nih.

Lalu aku mulai melangkahkan kaki menuju gerbang yang terbuat dari bambu. Ada tulisannya, tapi aku lupa ee.

Bukit Pranji
Pondok Istirahat

Sesaat setelah melewati gerbang pintung masuk, sudah disambut oleh tanjakan becek. Oh iya, perlu aku ingatkan juga, kalau tanah di bukit cumbri ini berupa tanah lempung. Jadi, jika hujan atau gerimis sekalipun, akan langsung membuat perjalananmu lebih menantang. Saking licinnya.

Bahkan aku tidak sadar jika hari itu, atau mungkin malam sebelumnya disekitar sini turun hujan. Melihat kondisi jalan yang lumayan berlumpur, sepertinya tempat ini baru saja diguyur hujan. 

jalan tanjakan setelah gerbang pintu masuk didesain agar tidak mudah rapuh, karena ada penghalangnya. Meskipun begitu, karena licinnya jalan tetap harus hati-hati.

Untungnya, saat itu aku memaksai sepatu trekking yang belum lama aku beli, jadi kekhawatiran untuk jungkel bisa sedikit berkurang. 😄

Trek pendakian seperti itu, nyaris sampai dengan atas. Jadi kalau mau kesini lagi, pastikan tidak memakai sapatu ketz ya. Biar sekalipun jungkel, tapi jungkelnya berfaedah. Apa maksudnya coba. wkwkkw 😅

Jalur Yang Unik

Ternyata hanya butuh waktu tidak lebih dari 30 menit untuk sampai atas. Singkat tapi menegangkan lho. 

Pas tahu sudah sampai atas, sejujurnya ada perasaan kecewalah. "hanya seperti ini sajakahI"  kata batinku saat itu. Belum ada semenit aku membatin, mata ini seolah di giring untuk memperhatikan jalan dipersimpangan yang telah ku lewati. Persimpangan Y terbalik. Tentu saja aku tak melihatnya.


Bukit Pranji
Setapak

Aku yang notabenya sangat terobsesi dengan sebuah jalan, jalur tersebut sudah cukup untuk mengobati kekecewaan ku.

Pertama-tama jalur ini menurun, melewati setapak yang sangat terlihat dibuat secaras sengaja. Setapak dipinggir batu besar yang langsung berhadapan dengan jurang. Kalau boleh aku taksir mungkin lebih 10 meter tingginya. Merinding dan sesaat geli seluruh badan tapi anehnya, aku malah senang. 😁 merasa tertantang mungkin ya.

Lalu jalur tersebut disambung dengan bambu yang dipakai untuk menghubungkan ke jalur lainnya.

Ini sudah lagi jalan setapak. Jalannya sudah menggantung. Bawahnya langsung sudah jurang. Tapi aku malah tetap ingin melanjutkan perjalanan. Jalan semakin menegangkan ketika aku mulai kehilangan dan terpelesat. 😣 Dengan adanya pagar pembatas maka aku selamat.

Barus sadar kalau alas sepatuku membawa gumpalan tanah liat yang melekat. Di pertemukan dengan bambu yang kulitnya cenderung halus. Maka alas bergerigi di sepatu trekking tak lagi berfungsi. 😳

Seperti yang aku katakan tadi. Jalur ini sudah cukup mengobati rasa kecewaku. Dari kecewa menjadi sangat puas. 😎

Baca Juga:


PUNCAK BUKIT PRANJI

Puncak Pranji Yang Sunyi

Sesampainya di atas, hanya terlihat dua orang saja. Seorang bapak dan seorang lagi lebih muda darinya, mungkin anaknya. Entahlah. Yang jelas, suasana puncak bukit pranji tampak sunyi. Dengan kondisi langit mendung dan hari sudah mendekati malam, suasana seakan seperti realiy show Uka-Uka. 😫 Kebumen punya euy.

Kemudian, datang dua pemuda tanggung. Yang langung menuju ke bibir tebing. Tempatku menikmati kesendirian dan kesunyian diatas bukit yang mulai dingin. Disusul dengan sepasang anak muda dari kejauhan.

Tidak lengkap rasannya jika berada di suatu tempat tapi tidak ada kenangannya. Lantas aku mengeluarkan kamera yang selalu ready  didalam tas kemudian mengambil beberapa spot dan beberapa sudut.

Gilak!1 ternyata dari sudut pandang mataku masih terlihat indah lho. Bahkan dalam kondisi sekalipun. Tapi sayangnya bisa lebih tinggi lagi. Mungkin,,, bakal banyak yang nggak mau datang kesini lagi. 😄 Tapi setelah di lihat di kamera, sama saja. Nggak ada estetika yang didapat.


Bukit Pranji - Pejagoan Kebumen
Camp Area - menuju puncak Pranji

Cahaya Temaram Menyambut Sang Malam

Malam sudah benar-benar datang dan senja pun berlalu. Aku bergegas kembali ke parkiran. Bukan karena takut gelap, tapi takut kesasar gara-gara handphone lobet. 😄 (aku nggak bawa charge soalnya).

Beranjak turun, dan dengan sisa baterai yang ada di handphone aku nyalakan lampu LED sebagai penerangan. Sedikit tergesa-gesa tapi tak mau terburu-buru. Menjelang malam adalah waktu bangsa jin berkeliaran. Seperti kata orang tua, ojo kesusu le wis pethuk surup. Baiklah .. aku ikuti saran itu, walau terkadang bulu roma berdiri beberapa kali. 😶

Seperti biasanya. Waktu kembali lebih cepat daripada saat mengawali. Aku tidak melihat jam, yang aku tahu memang sedikit lebih cepat. Untungnya tidak jungkel karena kondisi jalan menurun, berlumpur dan licin.

Sesampainya di parkiran, aku mencari toilet untuk menyeka tangan yang terkena lumpur dan tanah lempung saat diatas. Tapi setelah melihat jam akhirnya aku lebih memiliki langsung menaiki kendaraan dan pulang.

Baca Juga :


PERJALANAN PULANG

Aku bersyukur, memiliki kelebihan dengan bisa mengingat jalur yang pernah dilalui meskipun dalam kondisi yang berbeda. Siang dan Malam. Padahal aku tuh seorang pelupa lho.

Alhasil, aku tak perlu membuka handphone dengan sisa baterai yang ada untuk membuka maps. Santai sedikit tergesa-gesa (apa coba 😵) karena adzan maghrib berkumandang, sesegara mencari mushola untuk mengerjakan perintahNya.


20 menit. Mungkin, aku sudah hampir sampai di jalan datar samping selokan. Melihat waktu semakin gelap dan Iqomah dikumandangkan pun aku belok kan kendaraan ke mushola di kanan jalan.


Menunaikan kewajiban dan dilanjutkan perjalanan balik ke Jogja.

Sampai Jogja waktu itu kalau tidak salah sekitar pukul 22.00. Lewat Jalur Selatan yang sebagian sudah tahu, berukuran sangat lebar, aspal yang halus dan kondisi jalan yang sepi dari kendaraan.


Sungguh membuat ku ngantuk.


***

Itulah catatan perjalanan yang aku lakukan di sela-sela jam kerja. Yang mengenalku, jangan kasih tahukan ke atasanku ya. 😁

Terima kasih sudah menyimak, semoga bermanfaat dan ditunggu kunjungan ke catatan perjalanan lainnya.






0 Response to "Bukit Pranji - Kebumen"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel