Bengkel Belakang Perumahan.

Bengkel Belakang Perumahan.


Siang itu, aku merasa berada disuatu tempat. Tempatnya kecil seperti sebuah bengkel terbengkalai yang berada dibelakang suatu deretan perumahan. Sebuah bengkel yang bertembok. Atap yang terbuat dari Seng. Cukup tinggi. Dengan enam tiang pipa yang mulai berkarat sebagai penyangganya. Serta beralaskan lantai yang beberapa tampak menganga.

Teronggok satu daun pagar berjari-jari besi yang kecil dan berkarat terbengkalai disana. Didepan beberapa pohon pisang yang masih tampak seger, seperti baru tersirami oleh air hujan. Sedangkan disamping-sampingnya terdapat perkakas dan perlengkapan perbengkelan yang tampak menghitam karena tumpahan oli.

Baca juga :
Cupit Nesting dan Cincin Kawin

Disekitar bengkel, ada persawahan kecil yang terdiri atas beberapa petak saja. Sepertinya belum lama ditanami, karena daun padi yang masih kecil, tertata dengan rapinya serta warna air yang semu bening kecoklat-coklatan. Pun pematangnya yang sudah kering. Seperti sudah berbulan-bulan tak turun hujan.

Berjejer rumah yang hanya terlihat dari belakangnya saja. Kebanyakan berlantai dua dengan polesan semen sederhana yang rata, dari bawah sampai atas. Tampak pula water toren merah-orange diatasnya.

Di tengah deretan rumah itu, terpotong sebagai pintu masuk. Penghubung antara bengkel dengan jalan raya. Lumayan besar, setidaknya seukuran mobil masih bisa melewatinya.

Tempat itu tampak sangat kecil untuk sebuah bengkell. Dan juga kurang strategis. Berada di belakang perumahan yang bertingkat. Pun juga di pinggiran sawah, yang memanjang jauh kebelakang.

Mobil Carry

Aku, Ridwan (teman kantor) dan Sekar (Teman kantor) berada di sana. Ada beberapa orang lainnya yang sama sekali tak ku kenal. Yang sedang bersiap-siap untuk menuju suatu lokasi.

Terdapat mobil Carry. Mobil antik yang kecil. Aku berinisiatif untuk memodifikasi tempat duduknya agar muat dimasuki oleh semua orang. Pun aku merasa senang, karena bisa memuat si Sekar yang didunia nyata dia memiliki badan besar. Begitu juga pada saat itu yang memiliki postur yang sama.

Sekar mengingatkan bahwa bukan mereka saja yang akan masuk kedalam mobil Carry itu. Tapi masih ada beberapa orang lain belum masih. Seketika, aku panik. Bagaimana caranya aku memodifikasinya?

Mobil itu terparkir didepan bengkel. Menghadap ke sebelah timur (kurasa). Didepan, tampak jalan yang jauh memanjang. Diujungnya, terlihat seperti kabut pagi yang biasa terjadi di area persawahan. Dengan Kontur tanah yang tidak rata dan juga mengering. Yang hanya cukup memuat satu kendaraan roda empat, dengan samping kanan kirinya terdapat petak sawah yang baru ditanami.

Pun akhirnya berangkat. Tanpa aku mengetahui, bagaimana nasib orang yang tadinya tidak aku perhitungkan saat memdoifikasi mobil carry ketika diingatkan oleh si Sekar.


0 Response to "Bengkel Belakang Perumahan."

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel