PUNCAK SIKUNIR - DIENG (WONOSOBO)

PUNCAK SIKUNIR  - DIENG (WONOSOBO)

anbusenja - PUNCAK SIKUNIR DIENG



SEKILAS

28 April 2014 - Merupakan perjalanan yang bisa dibilang nekat. Tanpa persiapana informasi yang kurang matang serta peralatan yang dibawa pun juga terasa kurang. Namun karena itu juga, perjalanan ini terasa merasa ada kesannya tersendiri.

Puncak Sikunir Dieng, Berlokasi dengan bukit Sikunir dengan puncaknya Sikunir, yang berada di desa Sambungan - Dieng - Wonosobo dengan ketinggiannya yaitu 2.306mdpl.




Di beberapa artikel menyebutnya sebagai tempat terbaik untuk menikmati detik-detik matahari terbit atau dari para pelaku Traveller sering menyebutnya Golden Sunrise.

Baca juga :



RENCANA PERJALANAN SAAT MENGURAS TANDON AIR

Saat itu, tindakan nekat bukan hal asing lagi bagiku. Entah sudah berapa kali kegiatan-kegiatan seperti itu aku lakukan tanpa persiapan panjang. Baik peralatan maupun berbekal informasi yang cukup agar perjalanan lebih aman. Kalimat "Persiapan" seperti mitos saja kala itu.


Baca juga : Informasi Unik Seputar Gunung Lawu

Kalo diingat-ingat kok lucu ya. Padahal nggak tahu letak lucunya dimana. Wkwkwkw.. anggap aja gitu.

Saat itu, aku di minta sama Dwi (adalah partner perjalanan ku saat sama-sama masih bujang) untuk membantunya untuk menguras tandon air miliknya dirumah.

Ia berpikir bahwa badan ku ramping, lebih tepatnya nggak kerawat sih. Kering. Jadi bisa sangat mudah untuk keluar masuk tandon. Sedangkan Dwi sendiri lebih berisi, atau kelebihan sedikitlah isinya. Jadi dianya bisa masuk (sebenarnya) tapi nggak menjamin bisa keluar dari Tandon airnya. Apalagi tandonnya terbuat dari plastik atom. Hehehe

Sore itu, setelah beres membersihkan tandon, ketika menyeduh kopi dan roti di loteng atas. Tak lupa kami berbincang soal rencana perjalanan lagi. Kemudian arah pembicaraan berubah haluan dengan membicarakan rencana untuk pergi ke Puncak Sikunir Dieng.

Akunya yang malah baru denger soal Puncak Sikunir Dieng. Alhasil, jadi pendengar yang baik aja lah, saat Dwi menceritakan keistimewaan Puncak Sikunir Dieng. Sambil mengangguk tanda mengerti. Padahal mah, masih loading alias Telmisembari membatin "emang dimana sih puncak sikunir dieng itu. Hihihi..."

Setelah di dongengin sampai adzan magrib udah selesai barulah ngeh. Mungkin efek kopi yang belum sampai ubun-ubun kali ya. Oke. Cuz.

PERSIAPAN ALA KADARNYA

Oke. Persiapannya hanya ala kadarnya. Dan Hasilnya tersiksa karenanya. Beneran. Nggak Bohong Deh.
Setelah adzan magrib dilanjutkan dengan Sholat. Aku dan Dwi akhir sepakat untuk berangkat pada saat malam itu juga. Kebetulan bertepatan dengan malam minggu dan Dwi sedang ditinggal sama istrinya. Mendadak jomblo lah pokoknya dia.


Baca Juga : Pendakian Gunung Ungaran via Jalur Mawar - Jimbaran

Kemudian balik ke kantor. Untuk ambil peralatan yang perlu-perlu saja. Khususnya alat penghangat dan alat penerangan.

Karena dadakan (yang sudah sering banget aku lakuin saat itu), nggak ada celana panjang yang bisa aku pakai malam itu. Akhirnya Gresek-gresek dan menemukan celana pensil yang bercementel di jemuran yang langsung. Entah milik siapa, aku ambil tanpa ijin yang punya. Hahaah


TAKDIR BERDUA

Sesaat sebelum berangkat. Aku dan Dwi sudah berusaha buat mengiming-imingi para jomblower yang masih di kantor.
Saat itu, jika ada yang malam-malam masih di kantor tanpa ada agenda lebur, sudah di pastikan jika dia Jomblo. Termasuk aku sendiri yang sudah menginap di kantor sejak pertama masuk. Wkwkwkw. Dan itu sudah sejak 5 tahun terakhir
Hasilnya Nihil. Nggak ada yang mau. Hem, emang udah di takdirin berdua nih, mau gag mau kami menerima takdir kami untuk berpergian berdua aja.


Baca juga : Pendakian Gunung Andong via Jalur Sawit

kalau tak salah, pukul 22:00 kami mulai berangkat dari kantorku. Tak lupa, aku mengenakan celana pinjaman yang aku ambil dari jemuran. Dah kayak maling jemuran gitu deh.



BERANGKAT MENUJU WONOSOBO


anbusenja - PUNCAK SIKUNIR DIENG

Rute yang kami lalui saat itu adalah Menuju ke Kota Magelang, dilanjutkan menuju Temanggung.

Saat ditemanggung, kami beristirahat sejenak di tepi jalanan. Berhenti diangkringan untuk mencari secangkir minuman hangat. Kira-kira jam 23:30. Udaranya sudah cukup membuat ku menggigil. Nggak tahu lah kalo si Dwi. Dia kan punya cadangan lemak lebih banyak dariku. Heheh...

20 menit kemudian, kami melanjutkan perjalanan. Jalur kami selanjutnya adalah lewat jalur basecamp dari Gunung SS (Sumbing Sindoro).

Dan wah, saat melewati jalur ini. Banyak menguras tenaga. Bukan karena capak berjalan tapi karena menahan dingin.

Inilah akibat melakukan perjalanan tanpa persiapan. Saat itu, peralatan mendaki memang masih belum lengkap. Bahkan untuk atribut sekalipun. Miris ya. Hehehe.. Tapi gag apalah, aku menerima apa adanya kok. Ngempet tapi . Hehehe



ALUN-ALUN WONOSOBO

anbusenja PUNCAK SIKUNIR DIENG

anbusenja PUNCAK SIKUNIR DIENG

Sekitar jam 01:00 dini hari. Kami tiba di alun-alun Wonosobo. Dinginnya malam itu, sampai memegang foto untuk memotret saja masih saja gemeteran. Hehehe.

Di ALun-ALun Wonosobo kami berhenti cukup lama. Selain mengistarahatkan Mesin motor yang sudah di genjot tanpa berhenti, juga karena kami sebenarnya tidak tahu jalan. Nekat kan ya. Hahaha.


Baca Juga : Pendakian Gunung Lawu via Jalur Cemoro Kandang

Saat itu, kami masih belum terbiasa dengan google maps. Jadi, perjalanan kami dari Jogja, sebenarnya lebih lebih banyak menggunakan ilmu tebak menebak "bener ini gag yo jalannya?| atau nggak "ketok e dalan mrene deh" dengan ilmu menerawang tersebut, kami tiba disini. Alun-alun Wonosobo. Mantul.

Disini, kebetulan kami bertemu dengan dua orang (kelihatan jomblo juga) cowok. Kami samperin dan iseng-iseng tanya, ternyata tujuan kami sama. Kami pun mengekor ke mereka.

KEDINGINAN DIENG PLETUE

Ditinggal guide dadakan

Kami masih mengekor kepada dua orang didepan kami. Begitulah kami. Suka menemukan hal-hal yang serba kebetulan. Padahal, aku sendiri tidak percaya yang namanya kebetulan. Hehehe.

Saat menuju kesini. Ternyata dinginnya lebih parah euy. Ya iyalah, lokasi wilayah dieng aja sudah berada diatas MDPL yang cukup tinggi. Apalagi atribut ku yang udah kayak mau ngantor aja. Pakai celana kain pensil, tanpa kaos kaki. Yasudahlah. Hahaha..

Itulah kenapa, persiapan itu perlu dilakukan. Tak usah detail-detail dulu. Lakukan persiapan dalam point penting-penting dulu. Maka lainnya otomatis akan mengikut.


Baca juga ya : Cemburu itu Penyakit. Sudah tahukan kamu?

Lalu, setelah kami mendekati kawah. Kami tertinggal cukup jauh. Sepertinya mereka tidak tahu jika kami tertinggal. Atau kami sengaja ditinggal. Yasudahlah. Kami cukup bersyukur bisa di temani sampai sini. Sini mana kami juga nggak tahu. Wkwkwk. Padahal saat itu jam sudah menunjukan pukul 02:00.

Diantah berantah, di tengah-tengah jalan. Horor.

Kebetulan, kami menemukan api unggun di pinggir jalan. Tak peduli apa yang terjadi, langsung aja lari menghampiri tuh perapian. Adem e cuy.


Penghangat Berjalan - Mesin Mobil yang Panas.

Berhubung waktu terus berjalan. Kamu dengan sangat berat hati meninggalkan perapian itu yang sudah menghangatkan tubuh kami.

Bye..bye.. Perapian.

Lanjut perjalanan kami, ke desa Sambungan. Lokasi bukit Sikunir berada. Menyusuri jalan raya yang semakin ke atas mengecil. Pun semakin ke atas suasana jalan juga semakin rame.

Sebagian mereka, atau malah semua yang ada di jalan raya itu para pejalan yang ingin ke Puncak Sikunir seperti kami.


Baca juga : Perjalanan ke Gunung Prau

Kami tertolong, kami ada teman, dan kami ada penghangat berjalan. Mesin Mobil. hehhe. Aku dan dwi selalu berjejer dengan mobil mesin nya memancarkan kehangatan. Walaupun kadang angin semilir membuyarkan kehangatan tersebut.

Namun, hal tersebut tidak berjalan seterusnya. Karena didepan, sudah mulai memasuki jalan perkampungan.

Saat itu, masih berdebu. Sebagian sudah diaspal, sebagai lain masih akan mau diaspal. Banyak material yang teronggok dibahu jalan.

Debu yang bertaburan, memaksa kami berjalan pelan. Apalagi jika ada mobil yang lewat bersisihan. Kami lebih baik mengalah ketimbang yang belakang setir marah-marah.

hahaha.

Desa Sambungan

Jam 3 pagi. Kurasa. Kami udah sampai di desa Sambungan. Desa terakhir untuk menuju Puncak Sikunir.

Kami melipir kesisi kanan. Yang tak tahunya adalah embung yang cukup besar. Baru kami sadari setelah kami turun.

Setelah motor terparkir, kami langsung saja menuju loket retribusi.

Jujur, aku lupa euy tiket waktu itu berapa. Kalo nggak salah, kami menyodorkan uang Rp.50.000m- masih ada kembalian.

0 Response to "PUNCAK SIKUNIR - DIENG (WONOSOBO)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel