PENDAKIAN GUNUNG PRAU - DIENG WONOSOBO

PENDAKIAN GUNUNG PRAU - DIENG WONOSOBO


anbusenja - PENDAKIAN GUNUNG PRAU - DIENG


ikhtisar

Ini adalah agendaku untuk yang kesekian kalinya dalam menjajakkan kaki diatas ketinggian. Pendakian Gunung Prau - Dieng. Gunung Prau memiliki pesona tersendiri, karena selain saat di puncaknya, dapat melihat bebeapa gunung secara bersamaan, seperti ;

  • Gunung Sumbing
  • Gunung Sindoro
  • Gunung Merbabu
  • Gunung Telomoyo
  • Gunung Lawu
Untuk Gunung Merapi, sayangnya tidak terlihat karena pas berada di belakang Gunung Merbabu jika dilihat dari Gunung Prau.







Ketinggian Gunung Prau

Banyak yang mengatakan jika Gunung Prau memiliki ketinggian 2565mdpl. Padahal, puncak tertinggi yang sebenarnya adalah 2590mdpl. Untuk alasannya, aku sendiri juga masih mencarinya kenapa sebagian banyak orang mengenalnya gunung prau berketinggian 2565 mdpl, padahal sejatinya lebih dari itu.


Akses Menuju Basecamp Gunung Prau

Jika dibanding dengan gunung-gunung lainnya, Gunung Prau memiliki akses yang sangat mudah dijangkau para pendaki. Baik yang memakai kendaraan roda dua, roda empat, bahkan roda enak sekaligus (truk ; hehehe)

Dikarenakan lokasi basecampnya hanya berjarak kurang lebih 100 meter dari jalan raya penghubung antara kota Wonosobo dan Wisata Dieng.


Aku rasa, dari semua basecamp gunung yang pernah aku kunjungi. Gunung Prau lah yang memiliki akses yang paling mudah.



PERENCANAAN

Anggota kelompok

ANggota kelompok ini bersama dengan teman-teman kantor, seperti

  • Mas cahyo,
  • Iqbal
  • Inka
  • dan AKu sendiri.

Awalnya, ada tujuh orang yang berminat ikut pendakian ini sebenarnya. Namun karena suatu hal, mereka membatalkanya. Alasan klise. Hahaha


Selain itu, tidak ada satupun dari kami yang pernah ke Gunung Prau. Satu-satunya petunjuk adalah aku yang pernah melakuan pendakian ke Puncak Sikunir bersama Dwi. Karena saat menuju ketempat tersebut, kami melewati basecamp.



***
Baca artikel  menarik lainnya  :


***
Namun tetap saja, jalannya tidak ingat. Jadi kami mengandalkan Google Maps.


Menyiapkan Peralatan

Sudah menjadi kebiasaan. Atau sudah menjadi karakter. Aku tak bisa memberatkan teman-teman lainnya meskipun aku tahu  bahwa sebenarnya mereka mampu. Entah, aku selalu menyibukan diriku sendiri. Kasihan, Jumawa. Bukan. Hanya sadar diri aja.

Alhasil, sebagian besar dari pendakian ini aku yang merencakana. Sedangkan lainnya lebih ke penyesuaian daripada keputusanku.


Mulai dari ;


  • menyiapkan peralatan yang harus dibawa setiap anggota
  • menyiapkan peralatan yang harus dibawa setiap tim,
  • waktu keberangkatan
  • jalur pendakian
  • dll
Dari semua yang ada diatas. Hanya point 1 & 2 yang secara totalitas aku kerjakan. Sisanya, taulah. Tak sesuai dengan ekspetasi. Tak apa, toh semua berjalan lancar., tapi semua berubah setelah negara api menyerang. Wkwkwkw

SERBA-SERBI MENUJU BASECAMP GUNUNG PRAU

Pukul 07.00

(Bangun Kepagian & Meeting Point)
Aku sudah siap Sejak pagi, stay di kantor (Padahal Mah gag kebiasa bangun sepagi itu.😄). Menyiapkan segala sesuatu yang bisa aku siapkan. Khususnya peralatan yang bisa aku masukan ke dalam kerilku.


PENDAKIAN GUNUNG PRAU - DIENG WONOSOBO
Packing sik
Dari dulu, aku memang tipe orang yang tak begitu suka jika harus merepotkan orang lain. Meskipun aku tahu bahwa sebeneranya mereka juga mampu, tapi aku lebih suka di repotkan dari merepotkan, sekalipun akhirnya membuatku susah sendiri. 😊



Dan sebagai lokasi yang paling center. Kantor yang dipilih sebagai titik point sebelum melakukan peerjalanan menuju Basecamp.

Pukul 09.00

Adalah rencana awal. Dimana jam segitu kami sudah harus berangkat. Dengan pertimbangan biar nantinya tidaka kemaleman dan juga agar mendapatkan tempat yang cukup strategis. Mengingat bahwa Gunung Prau merupakan Gunung yang ramai dengan kemudahan aksesnya. Baik akses menuju basecamp maupun akses menuju puncaknya yang masih terbilang gampang.

Tapi, mau gimana lagi, jam segitu masih belum ada yang datang.

Pukul 10.00

Inka datang. Dengan membawa peralatan yang dia bawa di tas kecilnya. Inka satu-satunya cewek di rombongan ini. Dan karena tubuh mungilnya, juga kami tak tega membawakan banyak alat ditasnya.



Bisa-bisa nih, jika si inka dibawain peralatan seperti yang kami bawa, bukan tas yang di gendong Inka, yang ada malah Inka yang di gendong tas. Wkwkw


Pukul 11.00

Iqbal datang, dan entah apa yang ia cari lalu di pergi lagi. AKu juga tak sempat menanyakan apa keperluannya.

Pukul 12.00

Kurang dikitlah, Mas Cahyo juga datang. Dan sama dengan iqbal, dia juga pergi entah kenapa. Wah. Jan tenan. Meh ngaret nganti jam piro iki mengko



Dan kemudian 30 menit kemudian. Mereka berdua, Mas cahyo dan iqbal datang hampir bersamaan. Aku juga nggak kepo-kepo banget mereka darimana. Yang aku pikirkan saat itu, mau jam berapa berangkatnya.


Pukul 13.00

Kami baru start dari kantor menuju Basecamp Gunung Prau. Tapi sebelum berangkat, kami menyempatkan untuk sholat dahulu. Selain agar tidak terburu-buru, juga biar di perjalanan diberi ketenangan dan keselamatan.



Saat perjalanan ke Basecamp kami menggunakan tiga kendaraan motor. Mas cahyo membonceng Inka, sedangkan aku dan Iqbal masing-masing membawa kendaraanya masing-masing.




Jalur yang kami 




Kami lewat jalur Borobudur sebagai jalan alternatif yang kami rasa paling cepat. Walaupun kami sama-sama belum pernah lewat sama, kami hanya berharap tidak disesatkan oleh Google Maps.


PENGALAMAN: sejak pendakian Gunung Prau ini lah, setiap pendakian menggunakan motor aku akan selalu memilih menggunakan motor sendiri. Meskipun tas yang bawa sama, tapi ketika dipakai saat berboncengan, rasa-rasanya bertambah berkali-kali lipat. Udah capek duluan sebelum melakukan pendakian. Hahaha ~

Pukul 14:00

Setelah satu jam perjalanan, kami sudah sampai di Muntilan. Perbatasan antara Jogja dan Jawa Tengah. Dari situ, aku baru sadar, ternyata aku belum sarapan sejak pagi, Hahaha,,,, sembari gas tipis-tipis, kami nyari warung yang bisa kami temui sepanjang jalan. Dan tadaaaaa... kami menemukan warung Chicken Noodle (Red.Mie Ayam)... 😅

30 menit, kami habiskan di Warung Mie AYam muntilan sembari melakukan ritual MAMANGUD (Mari Madang Ngudud).  Dan kami juga kaget saat melihat jam. Ternyata perjalanan kami belum ada setengahnya. Wkwkwkw  😄. Gas gaaaaan... 💨 



Awalnya untuk navigator, kami serahkan ke Inka. Karena dia bersama Mas Cahyo yang berada didepan. Sedangkan Aku dan Iqbal menjadi makmum dibelakang.




Ketika Melewai kawasan Borobudur, aku dan Iqbal menyalip




***




 mendi untuk membimbing kami dengan menggunakan G*ogle Maps, ya karena memang ia tak memegang setir. Jadi akan lebih leluasa mengotak-atik maps, mencari jalan alternatif dan, sebagainya. Dan untuk mepersingkat waktu, kami menggunakan rute terdekat,yaitu lewat daerah Borobudur.




...😪 namanya juga halangan, sesaat kami meninggalkan daerah Borobudur, kami berpapasan dengan Polantas yang tengah beroperasi. Ane dan Iqbal melintas tanpa ada halangan, pas giliran mas cahyo yang kebetulan di belakang dihentikan. Ane dan Iqbal yang sudah melintsa pun terhenti dan bertanya-tanya,,, ada apakah gerangan? 💢. Setelah kami usut, ternyata lampu kota nya mas cahyo mati. 😂.. nasib.




... dan halangan pun masih belum berakhir. Kami yang sejak tadi mengandalkan inka untuk membimbing kami untuk melewati jalur alternatif, dipemberhentian selanjutnya dan dengan polosnya ia kasih hape ke mas cahyo sambil bilang "mas, iki carane nganggo piye? (mas, ini cara pakainya gimana?" . 😂😂 wkwkwwkwk.... jadi selama ini, kami jalan tanpa arah. Asem tenan. cah kenthir.... ngunu kok yo meneng wae kit mw....




~16:00~

... kami sudah di jalur Jalan Purworejo-Wonosobo. Langit sudah mulai mendung. Kami pun bergegas agar segera sampai di basecamp Patak Banteng. Disepanjang jalur inipun, ane tak luput dari yang namanya cobaan gan. Lampu kota ane tiba-tiba lepas dari bodi motor. 😁 Seketika ane berhenti lah, memperbaikinya. Apalagi waktu terus berjalanan dan jalanan akan semakin gelap. Ketika malem penuh dengan lampu jalanan yang terang sajaa,,, ane masih tidak cukup memperhatikan jalan apalagi ini, yang lampuny copot... Wassalam tar jadinya.



...Ane gunain lem yang kebetulan ane simpan di jok motor. Sejak dikantor, ane sudah falling sebenere hal semacam ini kayaknya bakal menimpa ane diperjalanan. Dan terbukti kaaan.... 😖 ,, yaah, mau mengakui atau enggak,,, selama ini memang Falling jarang meleset.




... 20 menit berlalu, dan ane belum kelar ngebenerinnya. Mas Cahyo dan Iqbal sudah berlalu, karena ane berada dibelakang setelah memasuki jalur antar kabupaten ini. Jadi tak heran jika mereka tak menyadari jika ane terhalang karena ini.. hahaha,,, tapi saat ini ane sama sekali tak panik. Bukan ane yang kayak biasanya, secaraaa,, ane ini orangnya panikan. Selalu ada bisikan di telinga ane yang ane denger "Woles gan, beres-beres,, ra sah kuatir".. dan setelah itu, mas cahyo dan iqbal balik menghampiri ane. Dengan perlengkapan yang di bawa Inka, LAKBAN... akhirnya beres sudah. yang ane heranin, ini anak kok bisa-bisanya bawa Lakban. 😆 ah.. sudahlah.. yang penting beres dulu




~17:00~

...dikawasan Alun-alun wonosobo, kabut sudah mulai turun. Langitpun juga semakin gelap, mendung dan kabut menyelimuti sepanjang perjalanan kami menuju BaseCamp Patak Banteng. Pucuk di Cinta, Ulam pu tiba...kebetulan sekali kami bertemu dengn rombongan yang kebetuln juga ingin ke Prau. Disaat kami mulai khawatir dengan kabut ini yang membuat kami melewatkan BaseCamp Pathak Banteng. 😤😳 ...kami pun ngekor di belakang mereka, hingga akhirnyaa kami sampai di BaseCamp.



~18:00~

...Di BaseCamp Patak Banteng, sudah sangat ramai. Dari motor sampai dengan pendakinya. Pos pendaftarannya pun juga cukup padat. Kami pun antri dibelakang para pendaki lainnya. Eeee.. mungkin tak cocok jika disebut antri, karena sama sekali tak ada Rapi-rapi nya,,,, tapi yang ane lihat para pendaki yang ingin mendaftar ini berkumpul di depan loket, tapi tak saling berdesak-desak an. Mereka bertoleransi, mendahulukan yang sudah ada distu duluan, dan lebih sadar diri jika ada yang merasa belakang datang maka ia akan mendahulukan yang sudah datang duluan. 👌👍 mantab jiwa



~18:30~

...kami sudah mendaftarkan diri. Ane lupa tepatnya, ning seingat ane, biaya masuknya Rp.10.000,-/orang. Dari biaya itu, kami dikasih satu peta petunjuk sekaligus peraturan-peraturan yang harus kami lakukan sekaligus trasbag yang cukup Besar. Ane pribadi, salut dengan dengan Basecamp ini. Udah ramah pendakinya, ramah pengelolanya, ramah juga warganya (ane dan temen menitipkan motor di tempat salah satu warga disini, karena memang sudah penuh parkirannya. Dengan sopannya warga setempat mempersilahkan motornya di parkir dipekarangan rumahnya denga Rp,5000,- per motor. Bukan karena mereka hendak mengambil kesempatan karena parkiran penuh, tapi karena ane memang melihat keramahan yang mereka pancarkan saat mempersilahkan kami parkir di tempat mereka)



...Kami sempatkan istirahat dahulu sebelum lepas landas. Kami packing ulang di samping masjid yang tak jauh dari basecamp. Dan tak lupa kami juga melakukan kewajiban kami.




...saat istirahat, gara-gara teledor. Jaket nya mas Cahyo jatuh ke got depan Mushola. 😞 ... tak henti-hentinya halangan menimpa ni orang yeee,,, Karena memang ia meletakan daypack gag jauh dari got. Disenggol dikit, ambruk tu Daypack nya. Untungnya got nya gag busuk-busuk amat baunya. Yang disayangkan bukan baunya sebenere, tapi bisa tidaknya ia gunakan saat udah di puncak nanti. Udah ah,,, pikir entar-entar aja.




~19:00~

...Setelah sholat Isya', kami Gas. Tentu saja juga setelah membayar makanan yang kami pesan sedari tadi. Saat menunggu waktu sampai jam 7 ini. Trek awal yang kami lewati adalah rumah penduduk. Tanjakan berupa anak tangga yang berundak-undak yang berujung di ladang penduduk di atas rumah warga sekitar.



...Sampai dengan menemukan jalan makadam, kemudian kami ikuti jalanan tersebut. Di ujung jalan tersebut sudah menunggu petugas dari basecamp yang bertugas mengecek tiket retribusi yang kami dapat saat simaksi di bawah tadi. Ini dilakukan karena belakangan banyak pendaki yang membuat ulah diatas maupun disepanjang trek sampai puncak. Jadi tindakan tersebut sangatlah penting, mengingat jika ada apa-apa diatas, petugas BaseCamp lah yang menanganinya. Bukanlah masalah birokrasi atau biaya yang dikeluarkan. Tindakan tu sebenarnya dilakukan semata-mata demi kebaikan pendaki itu sendiri.




~20:00~

..Ane enggak memperhatikan papan ataupun plang saat kami tiba di warung kedua yang kami temui setelah melewati petugas dibawah. Mungkin ini adalah POS 1 satunya. Tak taulah... hehehe... ada beberapa pendaki yang beristirahat disini. Seperti kami, mereka juga melepas lelah sejenak. Sejak melewati petugas tadi, trek nya berubah jalan pematang sawah pada umumnya. Beda nya,, ini sangat berdebu. Debu yang cukup tebal yang memaksa kami untuk memakai masker atau buff yang sudah kami siapkan dari bawah.



...15 menit. Cukup mengistirahatkan otot yaang tegang karena kurangnya pemanasan. Dari sini trek masih berupa jalan setapak yang sangat berdebu. Kadang juga ada nih, pendaki yang usil, menyibak pasir yang sangat lebut ini pake kakinya dengan sengaja. Tentu saja yang dibelakang merasa tak nyaman dengan tingkah laku dari salah pendaki tak punya otak ini. 😄




~21:00~

...ane tak yakin kami sudah sampai mana di waktu ini. Yang ane ingat adalah waktu tempuh kami sampai di tempat kami mendirikan tenda adalah 5 jam. Dan ini sudah setengah perjalanan yang sudah kami tepuh.



,,,untuk trek, menurut ane sama sekali tak berbeda dengan awal trek saat mulai memasuki wilayah ladang penduduk yang berpasir dan berdebu itu. Namun ada juga, beberapa trek bonus yang cukup landai dan tak berpasir, namun tak lebih dari seperempat total trek yang kami lalui dari bawah sampai atas ini.




...Beberapa menit sebelum kami memasuki camping ground, tempat kami mendirikan tenda. Angin mulai kencang, diikuti suhu dingin yang terus menerpa tubuh kami, dan tambha rintik hujan mulai turun. Kami pun bergegas dengan sedikit memaksa tubuh yang sudah mulai kelelahan ini. Saat itu kami masih berada di trek tanjakan. Dari situ, suara angin begitu menyeramkan. Seperti ada badai yang mengamik di atas sana. Bagi ane, itu bukan hal pertama yang pernah alamin, enggak tahu apa yang mas cahyo, iqbal, dan inka rasakan ketika mendengar suara angin yang terdengar menyeramkan itu.




~24:00~

...tepat. Kami sudah memasuki kawasan camping ground. Dan kalian tahu... sudah sesak. Penuh dengan tenda-tenda yang bergoyang, menahan terpaan angin yang sangat kencang. Melihat pemandangan seperti ini, ane bergegas mencari tempat kami mendirikan tenda. Meskipun ane sudah mengenaka jaket, teap saja tidak bisa menahan terpaan angin yang menusuk. Angin kala itu sangat lah kencang. Beruntung kami ada bukit kecil setinggi 5 meter dari tempat kami berdiri. Kemungkinan kami terkenda hypo kecil, namun tak menutup kemungkinan bila kami tetap berdiam diri. Kami harus terus bergerak.



...Karena malam semakin larut, dan angin kencang semakin menusuk tubuh kami. Kami menemukan area yang cukup untuk mendirikan tenda. Lahan miring yang berada ditengah tenda-tenda yang kokoh. Ane tak pikir panjang untuk mempertimbangkannya. Ane langsung mengeluarkan tenda yang ane taruh di keril ane.




...Meski sudah terhalang oleh bukit kecil, namun angin itu masih cukup kuat untuk menerbangkan tenda kami yang berkapasitas lima orang ini. Btw, tenda ini adalah milik temen iqbal. Tenda ane  yang kasih foto diatas, nggak jadi ane bawa. Tenda yang menurut ane sudah lanjut usia. 👀 . Ane tak berharap pagi-pagi ketika bangun tenda kami sudah tak ada. 😁😃




...Makan malam, terpaksa kami lakukan didalam tenda. Dengan kondisi tenda yang menurut ane cukup memprihatinkan. Tak ada unsur kokohnya sama sekali. 😂 Dan sangaaaaat beruntuh, tenda ini masih berdiri sampai pagi.




INTERMEZZO.

~03:00~
...Mungkin karena pengaruh adaptasi. Pagi-pagi buta, pas ane enak-enaknya tidur di tengah badai yang masih terus berlanjut. Mas cahyo ngebangunin ane, Tanya dimana kalo mau boker. Wah, pertanyaan yang aneh menurut ane. Secara, dia cowok, dan tak masalah kalo harus boker dimana saja tanpa harus malu. Meskipun disitu juga ada aturan tak tertulis.
...udah wajarlah, pikir ane. Ane anterin dah. Sebenarnya ane paham maksud mas cahyo. Bukannya dia yang bikin ribet masalah panggilan alam itu. Mungkin lebih ke Takut daripada Malu. 😁  keknya ane bisa maklum deh, Ante anterin di semak-semak yang menurut ane pas buat buang hajat. Tak lupa ane kasih tau tata cara buang hajat yang baik di alam terbuka.



Minggu, 7 September 2016

~06:30~
.... Tak tau siapa yang bangun lebih awal. Yang ane tahu, Inka yang pas di samping ane sudah berisik dandan, Mas Cahyo yang ada disisi ane satunya, juga udah berisik. Tinggal si Kebo yanng masih pules. Iqbal. 😁



...Pas resleting tenda ane buka... Brrrrrr.,., adem cooy... Beeeeeh, uadem tenan.... Ane tutup lagi dah resleting tenda. Ane cari SB ane yang di pake mas cahyo. Buka resleting SB, bubuk lagi... wkwkwkwkw




~07:30~

... ane susah tidur kalo udah bangun mah. Sejak tadi juga guling kanan, guling kiri, Yaudah lah... ane keluar lagi. Itung-itung nyari view. Apalagi kalo pas di gunung, waktu yang paling indah buat menikmati pemandangan adalah pagi. Meskipun agak kesiangan siih.
Selfie dulu gaaaan. | Cantik yeee... :v


Tangan busik ane.
... Yang lain, masih didalem tenda. Meskipun jam sudah mununjukan hampir pukul 8. Anginnya masih aja kenceng. Awet juga nih angin nemenin perjalanan ane.



...Ane juga gag lama-lama diatas bukit ini. Masih adem coy, ane balik lagi ke tenda. Eeeeee. pas mau balik ke tenda. Malah yang lain siap-siap ke atas bukit buat poto-poto. Yaaa ,, walaupun diantaranya  ada yang matanya masih sembab gara-gara waktu enak-enak nya tidur, jadi ke ganggu gara kebelet. 😂



Mekso tenan ki bocah-bocah lek melek.... hahaahah
... Yaaaa, ane balik lagi dah. ngapain juga dolap-dolop sendir di tenda. Yaaaa mumpung ada yang nge-potoin. Mumpung bagus juga view nya. Gaaaaas bukit. (bukitnya pas dibelakang tenda padahal).




dede" inka ni
Kami masih alay


enggk ketinggalan laah.


No Caption
~09:00~
...Kami sudah mulai packing. Tenda sudah mulai di bongkar. Peralatan juga sudah mulai di dimasukan ke dalam daypack masing-masing. Dan memang kurang kerjaaan banget. Setelah semuanya sudah beres. Dan yakin sudah tak ada yang kami tinggalkan selain jejak dan limbah tadi pagi. Kami balik lagi ke bukit buat poto-poto lagi. Kenapa ane juga ikut-ikut an yaak... 😫

~10:00~

.... udah Puas poto-poto sampai baterai kamera nyaris habis. Akhirnya kami meninggalkan Prau. Sayangnya, kami,, khususnya ane, tak sempat sampai ke puncaknya. Entahlah. Mood ane saat itu gag baik selain itu,,, ANE LUPA MASIH ADA PUNCAK... 😆😆 Jadi ya bodo amat lah gag sampai di Puncaknya. Nyesel juga seh... kenapa bisa lupa yaa... hahaha

~12:00~

...Tak ada yang bisa ane ceritin pas waktu turun gan. Kami lalui dengan kelelahan. sampai tak ada topik yang bisa kami obrolkan. Kami sudah sampai di BaseCamp. Dan waktunya kami siap-siap balik ke jogja, dengan mandi dan ganti baju. Ane mah,, bodo amat... meski udah bau keringet, pakaian masih kece.. tinggal semprot aja parfum di badan. Ane yakin,,,, baunya akan sedap (bau keringat ane... 😢

~16:00~

...Kami sudah sampai Kantor. Setelahnya kemi ngelaju sampai diperbatasan Jogja - Jateng tanpa istirahat dengan rute yang sama saat kami lalui waktu berangkat. Jadi kami hanya istirahat pas makan sore aja perbatasan.

...lepas keril, ambruk dah ane... tidur sampai pagi menjelang. Tak mandi, tak makan, tak sholat. 😢


SELESAI.



0 Response to "PENDAKIAN GUNUNG PRAU - DIENG WONOSOBO"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel