Lebaran di Kota Perantauan

LEBARAN DI KOTA PERANTAUAN

Lebaran di kota perantauan
Masjid Baiturahman Nitiprayan, Bantul, DIY

Tahun 2019M / 1440H ini, adalah tahun ke 9 aku berada di kota pelajar sebagai anak perantauan. Bisa dibilang selepas lulus SMK aku merantau di Provinsi yang memiliki keistimewaan ini.


9 tahun tahun yang lalu yaitu tahun 2010 yang juga merupakan tahun pertama aku merasakan ramadhan jauh dari orang tua. Begiu juga dengan Hari Raya Idul Fitrinya. Sebagai anak baru, udah seperti tradisi saat itu bahwa pasti akan dijadikan tumbal oleh karyawan lama agar bisa stay di kantor sedangkan karyawan senior yang khususnya juga perantauan, bisa merasakan Lebaran di rumah.



***
Diari Anbusenja :




***






Lebaran di kota perantauan
Suasana Syawalan.
Terenyuh. Pasti. Karena itu adalah pertama kalinya aku rasakan. Meskipun setelah itu, pada saat hari itu juga, ketika sore menjelang aku baru beranjak pulang. Merasakan mudik ke kampung halaman untuk pertama kalinya. Senang di campur sedih. Dan itu memang dilema yang sering dirasakan oleh anak perantauan.

Selama sembilan tahun ini pula, aku juga sudah beberapa kali merasakan lebaran di Jogja. Tapi kali ini aku merasakan hal yang berbeda.

Tahun ini, adalah pertama kalinya aku lebaran di Jogja, yang turut serta ikut merayakan bersama dengan warga sekitar.


Lebaran di kota perantauan
Suasan Syawalan
Sebelumnya, delapan tahun terakhir, aku tinggal di kantor. Segala bentuk aktifitasku berada di kantor. Makan, tidur, istirahat berada di kantor. Ketika aku mendapat jatah lembur, aku masih tetap di kantor. Tak pernah sekalipun merasakan suasana lebaran seperti saat di kampung. Mungkin karena kebetulan pekerjaan yang nggak bisa ditinggalkan atau diminta tolong yang tak bisa tangguhkan ke orang lain.

Tahun ini, aku mulai menyewa rumah sendiri. Berada di kampung yang tak jauh dari tempat ku bekerja. Nitiprayan, ngestiharjo, Kasihan, Bantul - Jogja.

Sejak itu, aku mulai bersosialiasi dengan warga sekitar. Mulai dari kerja bhakti, ronda, melayat dan sebagainya. Karena tidak bisa pulang disaat lebaran, kemudian bentuk sosialisasiku lainnya adalah ikut merayakan hari raya bersama dengan warga kampung tempat kami tinggal.

Memiliki cara dan Tradisi yang berbeda.

Indonesia, memiliki keberagaman yang tak bisa di hitung banyaknya. Termasuk tata cara melaksanakna tradisi setiap daerahnya. Jika di kampung ku, setelah Sholat Ied langsung bersalaman kemudian pulang. dilanjutkan keliling kampung. Menyambangi setiap rumah. Terlebih yang sesepuh desa. Itu rutin di lakukan sejak aku masih kanak-kanan sampai sekarang.


Lebaran di kota perantauan
Namun, ditempatku tinggal ku saat itu, tidak begitu. Ba'da sholat Ied, kami pulang kerumah masih-masing. Beberapa saat kemudian, akan ada panggilan dari masjid untuk berkumpul lagi untuk melakukan syawalan. Bersalam-salaman. Kemudian pulang lagi. Tidak ada lagi acara keliling kampung. Hanya ke beberapa kerabat dekat saja.

Sebagai warga orang baru, dan begitu beda nuansanya. Membuatku belajar lagi untuk bisa bertoleransi. Hehehe...


Sywalan

Lebaran - Ngantor

Hehehe... Udah ye, aku mau ngantor dulu. Lumayan. Dapat tambahan uang jajan. Abis Aplot bloig ini, langsung deh mluncur ke kantor. jaraknya deket ini.

Oh iya ding. Bini ane hari ini juga lembur di kantor nya. Maklum, anak baru dia. Udah jadi Tradisi. Wkwkwkw.. Aku mah udah pernah ngerasain. Jadi ya biasanya kalo di gituin.

Oke deh.

Bye-bye dulu.

NB:
Ini adalah Bloig Diari pertama ku yes. Walaupun terdengar aneh, tapi gag apa-apalah. Buat menuhin konten aja. Meskipun tak berfaedah. Hehehe.





0 Response to "Lebaran di Kota Perantauan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel