Jangan Ajari Burung Terbang

JANGAN AJARI BURUNG TERBANG




KILAS

Jangan ajari burung terbang, walaupun merasa mempunyai sayap. Sebab mempunyai sayap aja belum pasti dapat terbang. Misal, Penguin. Hahaha...

Yakni mengibaratkan kepada seorang yang tengah mengajari orang lain, dimana orang lain itu sesungguhnya lebih menguasai daripada yang mengajari.

Dalam kehidupan sehari- haripun,, sesungguhnya banyak kok contoh- contoh hidup. Permasalahan dimana yang baru saja menguasai sesuatu ilmu, telah merasa pongah serta merasa lebih pintar, sementara itu yang lebih dari itu saja malah cenderung menyembunyian. Heheh

CERITA

Curhatanku, emang nggak jauh-jauh dari kehidupan kantor deh kayaknya. Hahaha

Baiklah.

Ini terjadi udah berbulan-bulan lalu sebenere. Dimana aku merupakan karyawan dengan agendaku 80% dilapangan dan sisanya di kantor.

Suatu ketika, metode yang sudah sering aku terapkan di lapangan, diragukan. Disebabkan karena satu kesalahan dihari yang sama. Oleh seseorang yang struktural adalah merupakan atasanku. Namun secara penerapan, metodeku ku ini jauh aku lakukan sebelum atasanku tersebut join. Selama itu, tak pernah ada yang meragukan, apalagi menyalahkan.

Gimana bisa mengkoreksinya apalagi menyalahkan, jika tugas yang biasa ku kerjakan itu hampir aku bekerja sejak pertama kali bergabung sampai dengan sekarang. Dan hanya satu orang yang pernah menggantikannya. Itupun hanya bertahan satu tahun saja.


INTERMEZO - Aku bekerja hampir 9 (sembilan) tahun, terhitung sejak 1 Juli 2010 sampai sekarang. Dengan Jobdesk yang sama. Hanya 1 (satu) tahun aku vacum karena pada saat itu, ada orang yang menganggantikan posisiku dan kemudian aku naik ke level selanjutnya. Namun karena suatu alasan, karyawan baru sekaligus teman main ku itu tidak kuat dan mengundurkan diri, sehingga aku harus menggantikannnya, dan mengerjakan (lagi) apa yang dia kerjakan. Secara otomatis, levelku kembali turun.

Jika di total, sudah 8 tahun aku mengerjakan jobdeskku itu, lengkap dengan metodeku yang aku lakukan, dimana kantor selama ini tidak pernah sekalipun memberikan pengarahan sekaligus solusi dari apa yang aku terapkan dalam metode ku. Pyur, itu merupakan ide dari diriku sendiri, yang aku kembangkan sefektif mungkin seiring berjalannya waktu.


MERASA DIRAGUKAN

"Jangan terpaku dengan Google Maps". Ach, kata-kata itu masih terngiang di ingatanku lho.

Google maps, adalah metode yang aku bicarakan diatas. Setiap kali aku mendapat update terbaru, aku berusaha untuk berusaha dahulu. Sebelumnya akhir tanya, setelah aku tidak mengetahui lokasinya.

Masalahnya, aku menemukan di maps. Dan sangat jelas nama yang aku dapat dari rekan kerjaku, tertera dalam google maps. Lalu aku menuju ke lokasi tersebut. Persis seperti yang ada di google maps. 

Aku memasuki gedung. Sebelum memasuki gedung, aku menanyakan satpam dan membenarkan apa yang aku cari. Itu yang semakin menyakinkan ku bahwa apa yang aku cari sudah sesuai setelah aku menemukan di Maps. Terus aku menuju suatu ruangan sesuai yang di instruksikan oleh satpam barusan.

Sesampainya di dalam suatu ruangan, yang mana didepan ruangan tertempel nama, yang setelah aku cermati persis dengan nama didepan amplop yang aku bawa. Itu merupakan point ketiga yang membuat ku yakin bahwa aku berada di tempat yang benar.

Didalam ruangan, ada seseorang yang aku simpulkan bahwa dia merupakan pegawainya, yang sedang menerima tamu. Aku datang datang belakangan. Etikanya aku harus menunggu sampai dengan tamu yang pertama selesai dengan urusannya.

Akan tetapi, sebelum merampungkan urusan dengan tamunya, aku sudah disambut oleh pegawai tersebut dengan pertanyaan.

"Ada yang bisa dibantu mas?" tanya pegawai wanita berhijab yang aku prediksi berumur 30.

"Maaf mbak, saya ingin bertemu dengan bagian keuangan untuk menitipkan ini." aku, sembari menjulurkan tangan disertai amplop.

"Atau mungkin bisa aku titipkan ke mbaknya" imbuhku.

Mbak-mbak pegawainya, lalu mencermati amplop dan nama yang ada didepan amplop.

"Bener mas, gedungnya disini. Tapi untuk administrasinya pindah ke gedung (...), coba kesana saja langsung mas". Kata mbak pegawainya.

Aku lupa saat itu, mbak pegawainya mengarahkan ke gedung apa, tapi gedung itu sebenarnya sama dengan gedung lain yang juga merupakan rute perjalananku saat itu. Namun mbak pegawainya menyebut dengan nama lain yang masih asing bagiku.

Aku mengambil ponsel, kemudian mencari kepastian kepada rekan yang berada di kantor dengan menanyakan pertanyaan seperti ini.

"(...) ini, dapat alamatnya dari mana ya?" tanya ku kepada rekan yang ada di kantor melalui pesan Whatshapp.

"Dari niaga mas." Jawabnya, sembari mengirimkan foto alamat. 

Setelah aku cermati, Alamat memang berbeda. Persis saat aku mengabaikannya saat pertama kali aku membacanya. 
KEBIASAANKU - adalah ketika aku mendapati suatu cara ternyata terlalu sulit, lantas aku akan menggunakan cara lain sebagai opsi alternatif. Adapun opsi kedua itu ternyata lebih efektif tanpa pikir panjang aku akan meninggalkan cara pertama. Begitu juga dengan PERMASALAHAN ini. ---> sejak awal, aku memang sudah baca alamatnya, akan tetapi sekilas aku melihat alamat tersebut tidak lengkap dan akan sulit bagi Google maps untuk membantuku untuk mencari lokasinya. AKu tidak memastikan di google. Kemudian aku beralih ke NAMA penerima sebagai alternatif lain karena merupakan tempat yang jelas akan di indeks oleh Google Maps - DAN KETEMU!
Aku mengaku lokasi tersebut aku dapatkan dari Google Maps. Dan ditimpali oleh atasanku. "Jangan mengacu ke Google Maps". 

Deg!

Sedetik serasa jantungku berhenti mendengar pernyataan tersebut.

DIPERMASALAHKAN

Sekali pernyataan yang langsung merubuhkan. Wkwkw...  Jujur, sakit lho kalo metode yang bertahun-tahun aku pakai dan selalu berjalan akhirnya dipermasalahkan.

Terlebih saat tim niaga juga menimpali dengan pertanyaan "Biasanya mas Wi* tanya dulu lho, kok sekarang nggak lagi ya?" 

aku tak menjawabnya langsung. Aku berusaha menahan emosi ku yang pada saat itu tiba meledak-ledak. Aku berusaha menahan agar tidak menjalar kemasalah lain. Kutunggu sampai benar-benar reda, sebelum akhirnya aku menjawabnya.

Setelah dirasa sudah cukup tenang, lalu aku membalasnya.

"Aku baru bertanya, setelah pencarianku di Google Maps nggak ketemu mas." Jawabku yang masih sedikit menahan emosi.


0 Response to "Jangan Ajari Burung Terbang"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel