Hidayah setelah Anak Kedua.

Anbusenja - Mendapat Hidayah dari Anak Kedua.
Someone

Hidayah setelah Anak Kedua.

About Someone

Ini bukan tentang ku. Tapi tentang seseorang yang aku kenal. Bukan teman, bukan juga saudara, Just, someone.

Pertama kali aku mengenalnya, rasanya sudah sangat lama sekali. Tapi hanya mengenal sosok fisiknya, tanpa mengenali sifat, karakter, dan maupun namanya.

Beberapa tahun lalu yang sebenarnya masih dalam hitungan jari. Aku mulai mengenal Namanya, seiring dengan waktu, pun aku juga mulai mengenal karakter serta sifatnya.


Dibalik kecerdasannya

Bagiku, melihat karakternya adalah sesuatu yang baru. Karena sebelumnya, aku hanya berkutat di kota asalku. Kota kelahiranku. Kami sama-sama perantauan. Yang membedakan kami, dia berangkat merantau jauh sebelum diriku.

Aku mengakui bahwa dia adalah pribadi yang cerdas. Menggunakan pengalaman serta pengetahuannya untuk membentuk karakternya. Begitupula dengan nasibnya.

Banyak orang yang menganggap bahwa dirinya menggunakan jalan pintas untuk membuat dirinya diakui secara finansial. Setidaknya, itulah tanggapan orang yang sama sekali tidak tahu bagaimana dia mendapatkannya. Tapi, aku tahu sejarahnya, dan aku tak mau menanggapinya.

Dibalik kesuksesan itulah, aku mendapati karakternya yang menurutku berbeda. Dia lupa siapa yang memberikan itu semua.

Seorang Hamba yang seperti lupa dengan Penciptanya.

Melupakan sesuatu

Aku tahu itu. Ia Pekerja keras. Waktunya, dihabiskan untuk membangun perusahaannya. Sampai ia lupa untuk berterima kasih kepada Penciptanya.

Kala itu, belum pernah sekalipun aku melihat dia mengerjakan Sholat lima waktu. Saat itu, aku masih sangat naif. Aku juga punya teman lainnya yang melakukan hal yang sama, tapi entah kenapa, aku gregeten untuk mengingatkannya.

Tak berani aku mengingatkannya secara langsung. Jadi aku lebih memilih jalan lain. Menyindirnya.

Sering aku membuat sindiran-sindiran halus tentang dia yang tak mau sholat. Sering banget. Sampai suatu ketika, di merasa. Dan aku mendapatkan akibatnya.

Bukan sesuatu yang baik, melainkan sesuatu yang tak pernah aku lupakan sampai saat ini. Dia membentakku di depan banyak orang, yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Setidaknya selama kami saling mengenal.

Masa intropkesi diri

Semenjak itu, aku tak lagi membuat sindiran-sindiran lagi. Lebih tepatnya aku mendiamkannya. Lebih memilih menghormati pilihannya. Walaupun masih ada perasaan kecewa.

Bukan kecewa karena bentakannya. Tapi kecewa dengan pilihannya. Berselang beberapa lama, dia masih sama. Bahkan cenderung menghindarinya.

Aku tak lagi seperti dulu. Aku sudah belajar untuk menghormati pilihannya. Dan pilihan orang-orang disekitarku. Aku memiliki anggapan, bahwa kewajibanku sudah gugur jika aku sudah mengingatkannya. Walaupun sekali, dan tak ada yang mau mengikuti.

Aku menjadi seseorang yang berkarakter, Masa Bodoh.

Berubah menjadi lebih baik

Saat memiliki anak yang pertama. Aku melihatnya sebagai seorang yang sudah kenal seperti Biasa. Tak ada perubahan yang signifikan. Berjalan sebagaimana waktu yang terus berputar.

Kemudian terdengar kabar bahwa anak kedua telah lahir. Aku mendapati ada yang berbeda dari dirinya. Yang aku tahu, saat dimana aku mengharapkannya sebagai seseorang yang sukses dunia akhirat, mulai tumbuh di dalam dirinya.

Mulai berani mengimami kawannya. Bahkan mau mengingatkan orang lain sebagaimana yang pernah aku lakukan dahulu kala.

Dan itu, semenjak akan bertambahnya anggota keluarganya.

Anak pembawa rezeki

yang aku tahu, rezeki tidak melulu soal materi. Tapi rezeki sangat banyak bentuknya. Salah satunya mungkin, HIDAYAH.

Dan sekarang, aku merasa iri dengannya.

1. Secara finansial. Sangat mampu sekali, melihat kesuksesan yang mana aku juga ikut melihat prosesnya.
2. Memiliki keluarga yang sederhana.
3. Cerdas dan bersosialisasi tinggi.
4. Banyak yang merasa nyaman akan keberadaanya.
5. Begitu mencintai kedua orang tuanya.
6. Dan sentuhan hidayahnya yang memberi kelangkapan dari semua yang sudah diberikan kepadanya.

Itu lah proses. Itulah takdir manusia, yang tak ada tahu bagaimana akhirnya.

^_^


0 Response to "Hidayah setelah Anak Kedua."

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel