PENDAKIAN GUNUNG ANDONG via PENDEM

PENDAKIAN GUNUNG ANDONG

via jalur BaseCamp Pendem

(catatan-perjalanan)

PENDAKIAN GUNUNG ANDONG via PENDEM
Jalur naga
Kalau kamu suka dengan Anime Dragon Ball, pasti pernah mendengar namanya Jalur Naga, dimana Goku kesasar di akhirat. Kalau belum pernah mendengar, berarti umur kita terpaut cukup jauh, karena itu adalah tontonan anak era 90an. hehehe


Di Gunung Andong ini, kalian akan menemukannya saat sedang kabut tebal. Dimana antara kanan kiri mu di tertutup awan, sedangkan jalan satu-satunya adalah didepanmu yang hanya muat dua orang saja.




PENDAKIAN GUNUNG ANDONG via PENDEM

Ehm,
Ini pendakian ku yang kedua ke Gunung Andong, dalam rangka nganter temen dari Magetan. Yang sebelumnya juga pernah aku ceritakan disini (Pendakian Gunung Andong - Season 1)

Mungkin, tak perlu aku jelaskan lagi yes deskripsi tentang Gunung yang memiliki ketinggian 1.463mdpl yang berada di Magelang ini.

Sekali lagi, aku ingin menuliskan lagi catatan perjalanan ku dengan gaya penulisanku yang garing ini. Hehehe... ketika nanti sudah punya anak dan kebetulan lupa, ada serep ceritanya lah biar tak segaring penulisannya... ^_^

CATATAN PERJALANAN

Awal Mula.

PENDAKIAN GUNUNG ANDONG via PENDEM
with Lely
Perjalanan kali ini, berawal dari ajakan teman mendaki sebelumnya sewaktu di merbabu. Namanya Lely.

Dia minta tolong untuk bisa menemaninya mendaki ke Gunung Andong bersama satu temannya. Sebelum ini, aku beberapa kali mendaki dengannya. 

Mempertimbangkan hal tersebut aku pun tak keberatan untuk mengantarkannya. Meskipun pada saat itu sebenarnya, aku sudah mulai kerasa kalau badan sebenarnya sudah mulai nggak enak.

Tapi karena sendiri memang sedang lagi tida kerjaan, jadi aku mengesampingkan hal tersebut, dan lebih memilih untuk berangkat.

Hal semacam itu, seharusnya tidak boleh di paksakan. Ini adalah contoh yang buruk sebenarnya. APalagi ini berhubungan dengan kegiatan di alam. Akan tetapi sebenarnya aku punya trik tersendiri untuk mengantisipasi hal tersebut sehingga tidak membahayakan tim maupun diriku sendiri. Hehehe...

Komunikasi itu, penting.

PENDAKIAN GUNUNG ANDONG via PENDEM
Pemandangan saat pagi
Dalam mendaki, komunikasi itu sangat penting. Terlebih aku dan Lely hanya berkoordinasi via Whatshapp saja. Dalam kondisi seperti ini, cukup sulit bagiku untuk mengkoordinir perlengkapan dan juga peralatannya. Apalagi dengan waktu yang cukup mepet. Yaitu 1 minggu

Tenda, adalah titik fokusku jika bertemu dengan kondisi seperti ini. Jadi, dengan mempertimbangkan jumlah anggota yang ikut, maka pemilihan kapasitas tenda akan lebih mudah.

Lely mengkonfirmasi, bahwa yang ikut adalah dua orang. Dia dan seorang temanya. Jika ditambah dengan aku, berarti tiga orang.

Melihat jumlah tersebut, maka aku memutuskan untuk memakai tendaku yang kebetulan memiliki kapastitas maksimal adalah tiga orang. Maka, urusan tenda sudah langsung beres, dan peralatan-peralatan lainnya, biasanya sudah bisa menyesuaikan. Terlebh aku sudah memiliki peralatan dasar untuk pendakian personal.

Sesuatu yang menjengkelkan.

Kalau tidak salah, beberapa jam sebelum berangkat. Aku mendapat info bahwa Lely akan mengajak ke tiga temannya. Dengan bertambahnya anggota tersebut maka jika di total menjadi enam termasuk aku.


Diwaktu yang bersamaan aku mencoba menahan emosiku. Ingin sekali aku memarahinya.



Bukan tanpa alasan. Dengan bertambahnya personil, berarti juga harus menyesuaikan kondisi peralatan dan perlengkapan. Baik untuk peralatan pribadi, maupun untuk tim. Khususnya tenda. 



Untung saja kami sedang tidak bertatap muka. Dan aku sendiri juga tidak jadi tengsin.



Lalu aku mencoba mensolusikannya. Dan menanyai perlengkapan mereka yang ingin ikut secara mendadak tersebut. Lely sendiri mengaku kalau sudah menyiapkan tenda sendiri. Dan peralatan personilnya juga sudah bisa diatasi.



Dengan mempertimbangkan waktu. Baiklah, aku ingin mempercayainya walaupun sulit. Dengan begitu aku juga bisa fokus ke perjalanan menuju basecamp.

Menuju Basecamp Sawit

Basecamp sawit adalah satu-satunya meeting point yang aku pikirkan saat itu. Karena dari awal koordinasi, aku dan lely tak pernah menyebut dimana lokasi kami bertemu.

Jam 15:00 (kurang lebih), aku berangkat dari Jogja menuju BC Sawit. Dengan estimasi kurang lebih 4 jam, jadi kemungkinan sampai di BC sawit Maghrib.


Perjalanan lancar seperti biasanya. Hanya saja, perkiraan ku meleset. Aku kira,bisa melakukan sholat Maghrib di Basecamp, ternyata tidak cukup waktunya maghrib jika aku teruskan sampai BC Sawit.


20 menit sebelum BC, aku menemukan langgar yang berada di dalam SD. Kebetulan juga di depannya ada minimarket. Jadi sekalian sholat dan mencari kebutuhan logistik.


OH, iya, disini aku aku mulai merasakan tidak enak badan. Tapi masih bisa aku kondisikan.


Tak ada yang kebetulan.

Sudah menjadi budaya Indonesia yang susah di hilangkan. Sejak setelah maghrib sampai dengan jam 21:00, Lely dan rombongannya belum kelihatan. Alih-alih memberikan kabar pun tidak. Jadi aku sempet sebel juga waktu itu.

Sempet mengumpat dalam hati. Tapi, setelah kesini aku memahami bahwa kejadian itu bukanlah suatu kebetulan.

Sisi postifnya, aku bisa menyimpan tenaga lebih banyak untuk aku pakai saat mendaki nanti. Dan itu benar-benar aku rasakan ketika saat sudah mendaki. Dimana aku tidak cepat lelah meskipun membawa beban jauh lebih berat dari temen-temen yang lain. Apalagi dengan trek jauh lebih menanjak dari pada jalur Sawit.


JALUR PENDEM

Melakukan tindakan tanpa pemberitahuan

PENDAKIAN GUNUNG ANDONG via PENDEM
Punggungung jalur pendem
Aku lupa tepatnya, tapi seingatku mereka memberikan kabar sudah sampai sekitar jam 22.00. Tapi, mereka sampai di basecamp yang lain.

Ini adalah salah satu karakter yang tidak aku suka dari Lely. Suka melakukan tindakan tanpa ada pemberitahuan. Jika ini acara personal sih, mungkin akan ada toleransinya. Tapi ini adalah acara kelompok yang berkoordinasinya hanya via online tanpa tatap muka.

Ya, aku ada lah perasaan sebel.

Udah menunggu hampir 4 jam dengan satu-satunya kabar adalah ketika mereka sampai di Salatiga untuk makan. Eee.... ketika mereka sampai, ternyata sampai di basecamp satunya.

Untungnya sih, basecamp satunya hanya berjarak tak lebih dari 5kilometer. Dekat. Tapi tetap aja bikin sebel.

Akhirnya pun aku yang harus mengalah, dengan menyusul mereka ke basecamp satunya. Dan sesampainya dibasecamp sawit, aku harus lebih dulu menyembunyikan perasaan sebalku, daripada nanti membuat moment mereka rusak karena kekesalanku.

huft.

Sambutan

Ketika waktu istirahat mereka sudah cukup. Dan persiapan sudah selesai, maka aku dan teman-teman baru ini tidak mau membuang-buang waktu lagi. Kami langsung berangkat melalui jalur pendem.

Trek ini, aku rasa trek yang cukup menantang dan tentunya mengasyikan. Karena menyuguhkan pengalaman dan kesan yang menarik bagiku.

Hanya beberapa menit saja sebelum memasuki ladang penduduk, sebagai penanda bahwa trek pendakian sudah di depan mata.

Sesaat setelah keluar dari Makadam dan memasuki area ladang penduduk. Sambutan pertama kali adalah trek landai disela-sela pepohonan. Kalau siang, trek ini bakal mengasyikan karena cukup rindang. Tapi kalau malam malah bikin semakin mencekam. Di trek ini pula, kami sempat mau nyasar karena jalannya yang gag terlalu terlihat.


Sambutan kedua, adalah trek menanjak berzig-zag. Trek landai sebelumnya tidak terlalu panjang. Mungkin hanya beberapa menit saja, sebelum memasuki trek zig-zag ini.


Meskipun menanjak, karena treknya berbentuk zig-zag maka tidak membuat kami langsung kepayahan. Trek zig-zag ini cukup panjang menurutku yang semakin keatas trek menanjakanya semakin terasa. Mungkin efek lelah.


Sambutan ketiga adalah trek yang semakin menanjak di punggungan gunung. Kalau belum tahu apa itu jalur punggungung

Ciri jalur punggungan, yang paling umum adalah jalur dimana kanan-kiri adalah jurang. Dan apabila vegetasi sudah mulai habis, biasanya memiliki pemandangan yang indah
Aku baru sekali melewati jalur pendem ini, tapi langsung jatuh cinta. Aku melihat pemandangan GUnung Merbabu yang terlihat begitu kokohnya dari kejauhan. Dan juga cahaya lampu pedesaan yang benderang. Padahal ketinggian mungkin masih dibawah 1000mdpl, tapi pemandangannya sudah cukup menghibur.


Mungkin jika dilewati ketika siang, ada kesan lain yang bisa di dapat.


Di trek ini pula, kami juga harus mulai berhati. Dan aku sendiri juga harus mulai mewaspadai. Sesekali memperhatikan jalur-jalur yang mereka pakai. Jalurnya bercabang-cabang, dan mereka berpencar. Sesekali aku teriaki untuk menemukan lokasi mereka. Mengingat kanan kiri mereka adalah jurang, dan angin juga cukup kencang.


***
Baca Juga :
  1. 4 Prinsip Bertahan Ketika Cuaca DIngin Di Gunung
  2. Pendakian Guung Ungaran Via Basecamp Mawar - Jimbaran (2016)
  3. Mengenal 7 Prinsip - Leave No Trace
  4. Perjalanan ke Puncak Sikunir Dieng Wonosobo
  5. 9 Gejala Hipoksia
  6. Ketika Cupit Nesting disamakan dengan Cincin Kawin
***

Estimasi perjalanan.

Kalau tidak salah, kami membutuhkan waktu 3,5 jam an untuk mencapai puncak. Dengan beberapa personel yang masih awam dengan pendakian seperti ini. Meskipun pada gunung di ketinggian 1.465mdpl ini.


Selain itu, mungkin karena treknya memang sangat menanjak. Memangkas waktu lebih banyak daripada jalur Sawit yang memang cenderung lebih landai.


Dan ketika masih sampai puncak pertama, ternyata lokasi untuk mendirikan tenda sudah habis terpakai. hehehe.. jadi kami harus menuju ke Puncak kedua, dengan harapan masih dapat tempat.

PUNCAK

Berkabut

Kabut sudah menyebar saat kami mencapai puncak. Jarak pandang waktu itu mungkin tidak lebih dari 10 meter. Banyak tenda sudah berdiri dan nyaris tidak ada tempat yang aman untuk mendirikan tenda.

Aku pun berinisiatif untuk menuju puncak kedua. Dengan meninggalkan rombongan ini untuk beristirahat dengan harapan disana masih ada tempat.

Sendirian menjajaki "jalur naga". Masih dengan kabut yang kian tebal. Sedikitpun aku tak ragu untuk melangkah menuju puncak kedua meskipun jarang pandang di jalur naga lebih pendek dari puncak pertama sebelumnya.

15 menit berlalu. Dan aku sampai di puncak pertama dengan hati riang gembira. Banyak lokasi pendirian tenda yang aman. Area masih cukup luas yang masih kosong. Setelah aku meninggalkan Carrier ku. Pun aku menjemput rombongan yang aku minta untuk beristirahat disana.

Berpisah

Sekali lagi. Mereka memutuskan tanpa bermusyawarah. Saat aku menjemput mereka, ternyata mereka telah memutuskan untuk mendirikan tenda di bawah puncak pertama kami datangi. 

Tepat disamping jalur penghubung antara puncak satu dengan puncak lainnya. Dengan tingkat kecuraman yang sedang namun membahayakan. Meskipun aku sudah memberitahukan bahwa di puncak kedua masih ada banyak tempat, mereka tetep berkeuh-keuh untuk mendirikan tenda disana. Mungkin alasan sudah capek dan mengantuk karena memang kami sampai puncak pas tengah malam.

Akhirnya kami berpisah disini. Dan aku lebih memilih mendirikan tenda yang PASTI aman dari struktur tanah yang lebih landai.

Pemandangan malam kota Magelang

PENDAKIAN GUNUNG ANDONG via PENDEM
Suasana kota Magelang
Aku tidak menyangka, jika kota magelang begitu indah bila di lihat dari ketinggian. Lampu yang dari kejauhan begitu memanjakan mata. Apalagi ditambah dengan cahaya bulan yang waktu itu lebih terang. Meskipun sesekali bersembunyi dibalik awan.

Aku tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Setelah tenda sudah berdiri. Aku langsung mengambil ponsel dan mengabadikan dengan mode Profesional. 

Aku memakai ponsel Oppo A37, yang sebelumnya pernah memberiku pengalaman yang tak terlupakan saat dipendakian gunung ungaran. Berharap kali ini aku juga mendapat pengalaman serupa.

butuh pengalaman dan kesabaran



PENDAKIAN GUNUNG ANDONG via PENDEM
dari dalam tenda
Seberapun banyak aku memotret. Hasilnya tetap sama saja. Tidak memuaskan. Dan harapan bisa mendapatkan tangkapan seperti di gunung Ungaran pun pupus.

Sudah feeling sejak awal. Karena aku memang tidak membawa tripod. Beda halnya saat aku di Gunung Ungaran, dimana aku memakai tripod untuk dudukan ponsel ku. Sedangkan di gunung Andong ini, aku hanya mengandalkan Matras sebagai dudukan.

Yah. mau gimana lagi. Walaupun begitu, aku bisa mendapatkan foto terbaik dari semua jepretan yang ada pada malam itu.

hehehe...

Sudah banyak foto yang diambil. Saatnya untuk beristirahat. Mengingat waktu sudah hampir pukul 02.00.

Ohya, disini aku mendapat teman pendaki dari jakarta yang berada samping tenda ku pas. Mereka lebih dulu disini. Dan aku hanya pendatang. hahaha

SUNRISE

Udah kayak pengungsian


PENDAKIAN GUNUNG ANDONG via PENDEM
Sunrise di Gunung Andong

Adzan shubuh berkumandang dengan lantang. Masih terdengar jelas dari ketinggian ini. Aku bangun dan mata yang masih sangat berat. Dan akhirnya terlelap lagi.

Kemudian terbangun lagi, karena suara langkah kaki yang berlalu-lalang tanpa henti di sekitar tendaku. Mulanya aku mengabaikannya, karena hal seperti itu sudah menjadi rahasia umum di berbagai gunung di Indonesia.

Semakin lama semakin terdengar ramai. Membuatku ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi. Setelah aku membuka tenda, ternyata banyak orang yang menggelar tikar, matras di sekitar tendaku. Bahkan ada yang berada tepat didepan pintu masuk tenda.

Gilak.

Banyak diantara mereka yang tertidur beralaskan tikar dan matras dan berselimutkan sarung, beberapa diantara nya malah hanya memakai jaket.

Sisanya bercengkrama bak di cafe. Lengkap dengan aneka jajanan dan minuman yang mereka bawa, berjejer didepannya. Macam tempat pengungsiannya saja disini.

Ternyata mereka sedang menunggu Sunrise.

Dari ufuk barat. Muncul semburat cahaya merah kekuning-kuningan. Dan serentak, mengeluarkan ponsel masing-masing untuk mengabadikannya.

Sedangkan aku, AKu lebih memilih masuk tenda lagi dan menarik SleepingBag ku lagi.

Para pengungsi sudah pada pergi

PENDAKIAN GUNUNG ANDONG via PENDEM
Suasana disekitar tenda


Mungkin sekitar jam setengah 6 an. Ketika matahari sudah mulai meninggi. Aku mulai berani keluar tenda setelah memastikan bahwa sudah mulai berkurang keramaian di luar tenda. Akhirnya bisa merasakan segarnya udara gunung yang rasa-rasanya sudah lama tidak aku nikmati.

Sempat terhipnotis karena kesegaran udara gunung, sekaligus pemandangan yang sangat cerah pada saat itu. Merupakan anugrah mungkin ya, bisa menikmati pemandangan sekitar Gunung Andong yang mana dipendakian sebelumnya hanya kabut yang ada.

Setelah termenung sejenak, kemudian aku membereskan barang-barangku didalam tenda, lalu dilanjutkan mengecek keadaan tenda luar. Sempet berfikir aneh-aneh tentang kondisi tenda luarku ketika mengingat beberapa jam lalu tempat ini begitu ramai orang-orang menunggu sunrise.

Ok. Aman.

Pun setelah itu, aku menjemput rombongan lely di puncak sebelumnya.

Jalur naganya lebih menegangkan ketika sudah terang

Berbeda sekali saat aku melewati jalur ini ketika ingin mengecek keadaan di puncak kedua yang mana kanan kiri tertutup kabut. Pagi itu sangat cerah, nyaris tidak ada kabut sama sekali, sehingga pemandangan disekitar gunung Andong bisa di nikmati. begitu juga dengan pemandangan jurang yang berada disamping kanan-kiri jalur ini.

Sangat dalam dan curam. Tapi anehnya, aku begitu sangat menikmatinya. Apalagi ketika angin tiba-tiba berhembus dari bibr jurang. Wusssshhh....

Tak lupa aku dokumentasikan memakai Yicam ku.

Saat terang, semua lebih jelas

Ternyata, Lely dan teman-temannya sudah berkelana mencari spot foto sejak pagi. Aku bisa tahu karena ketika aku sampai di tenda mereka, tidak ada orang sama sekali dan ditinggalkan begitu saja.

Selain itu, aku juga baru menyadari. Jika tempat mereka mendirikan tenda, lebih ekstrim dari apa yang aku pikirkan dimalam sebelumnya.

Berada di samping jalur pendakian, diatas rerumputan yang sedikit licin, tidak ada tanggul apapun untuk menghalangi terpaan angin. Dan yang lebih ekstrimnya, posisi tendanya begitu miring.

Tak bisa membayangkan bagaimana mereka bisa tidur pada posisi tenda seperti itu.

PULANG

Menuju puncak Selanjutnya.

PENDAKIAN GUNUNG ANDONG via PENDEM
Popo Renjes kitah
Setelah puas foto-foto. kemudian kami merubuhkan tenda mereka. Kami tidak sedang buru-buru waktu itu. Dengan cuaca cerah seperti itu, dan juga dalam kondisi hembusan angin yang cukup stabil, kami melakukan packing dengan santainya.

Setelah selesai melakukan packing. Lalu kami langsung menuju puncak Gunung Andong. Tempat aku mendirikan tenda semalam. Karena kondisi Gunung Andong yang sudah mulai sepi, kamilebih  memilih untuk menikmati suasana gunung yang seperti milik pribadi ini.

Dalam perjalanan ke puncak satunya, kami masih menyempatkan selfie ria. Pun kami lebih leluasa berfoto karena pada saat itu Gunng Andong sudah mulai sepi. Itu dikarenakan sebagian besar pendaki yang memadati saat menjelang pagi adalah pendaki TIP-TOPan. Yang sekali sampi puncak langsung turun.

Jadi semakin siang, gunung andong serasa milik sendiri. Kami bebas ngapain saja, dan menuangkan segala ekspresi kami  melalu foto selfie.



Hal kecil yang disepele kan. 

PENDAKIAN GUNUNG ANDONG via PENDEM
Makan siang cuy
Sampai di tendaku. Kami langsung memodifikasi tendaku agar bisa menampung lebih banyak orang, dengan membuka Mantel sebagai atapnya. 

Itu dikarenakan cuacanya semakin panas. Dan kami lapar. Jadi kami memasak ala kadarnya untuk membuat stamina kami pulih untuk perjalanan turun.

Aku tidak percaya jika yang membawa peralatan masak hanyalah aku. Sedangkan semalam tenda kami terpisah.

Beruntungnya, Gunung Andong yang memeliki tingkat kesalamatan yang jauh lebih tinggi daripada Gunung-gunung yang lain. Sekalipun masih ada resiko cidera jika tidak berhati.

Akan tetapi, ini akan jadi pengalaman berharga jika ini berada di GUnung Merbabu, Gunung Merapi, atau gunung-gunung lainnya yang mana, peralatan masak harus berada di toplist peralatan yang harus dibawa.

Yang disayangkan adalah kelompok Lely tidak memberitahukanku jika kelompok mereka tidak membawa peralatan masak. 

Selain itu, ini juga menjadi pengalaman penting bagiku untuk memastikan peralatan tim ku yang lain sudah 

Jadi kemungkinan besar, semalam mereka hanya memakan makanan kering. Inilah akibatnya jika mengambil keputusan sendiri tanpa didiskusikan.

Bolehlah memakai alasan lelah. Tapi setidaknya, dengan mendengarkan pengarah dari orang yang memiliki jam terbang lebih tinggi, bsa menghindari situasi seperti ini.

Aku juga berlagak tak tahu, dan tak menanyai mereka soal peralatan masak yang mereka bawa. Biarkan itu menjadi pelajaran dan pengalaman penting bagi mereka. Jika tidak begini, mereka tidak akan belajar.

Turun via jalur Sawit

PENDAKIAN GUNUNG ANDONG via PENDEM
Top
Setelah makan pagi yang dirapel pada saat menjelang siang. Kami pun sepakatuntuk turun melalui jalur yang berbeda. Yaitu turun melalu jalur sawit.

Sebelumnya kami juga tidak ingin melupakan tradisi kid jaman now. FOTO DIPUNCAK SEBENARNYA. Sebagai bukti bahwa kami sudah pernah kesini.

Dan dimana-mana nasib tukang foto selalu tidak mengenakan. Tidak bisa ikut berpose dengan teman-teman.

Makin siang, Kabut mulai merangkak naik dari lembahan di bawa Gunung Andong. Awan mendungpun mulai bermunculan.

Sisi positifnya, adalah kami tidak kepanasan saat kami turun. Dan sisi negatifnya, kami tidak bisa menikmati pemandangan dari Jalur Sawit. Bagiku ini adalah kali kedua aku turun melalui jalur yang sama, dan sama-sama tak bisa merasakan pemadangannya dengan leluasa.

Berharap, agar tidak hujan saat kami turun. Mengingat bahwa saat perjalanan ke basecamp dari jogja, sempat gerimis setelah melewati kota magelan.

PENDAKIAN GUNUNG ANDONG via PENDEM
Gerbang Pintu Masuk via Jalur Sawit
Ritme perjalanan turun kami lebih lambat daripada sebelumnya. Aku bisa memaklumi itu. 

Aku memilih berada di barisan paling belakang untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. 

Setelah berjuang turun dari rasa kelah, akhirnya kami sampai di gerbang pintu masuk Gunung Andong via jalur Sawit. Sembari istirahat sejenak, tak lupa kami mengabadikan foto bersama sebelum berpisah.

Setelah selesai foto-foto, kami melanjutkan perjalanan menuju Basecamp Pendem yang hanya berjarak beberapa meter saja dari Gerbang itu.

Serasa melayang tanpa beban

PENDAKIAN GUNUNG ANDONG via PENDEM
Santai di basecamp Pendem
Sesampainya di basecamp Pendem. Segera aku turunkan beban di pundakku, melepas sepatuku dan, menselonjorkan kakiku. wah..!!! Serasa melayang tanpa beban. hahaha...

Sembari melihat beberapa teman berisitirahat, beberapa ada yang sudah berbenah juga, aku juga melakukan hal yang sama.

Sembari mendengarkan kesan yang mereka rasakan. Merupakan obat lelah bagiku yang menceritakan kepuasaan mendaki melalu jalur pendem ini.

Terlebih, ini juga kepuasaan tersendiri bagiku, bisa menemui jalur pendakian yang cukup menantang dengan seukuran gunung ini. Aku juga bersyukur akan hal itu.

Sayonara

Setelah berganti pakaian, makan, dan berbagi foto. Saatnya kami berpisah. AKu akan pulang melalui rute yang sama, yaitu lewat magelang. Begitu juga dengan rombongan lely yang melewati rute yang sama saat mereka berangkat.

Dan kami pun berpisah di persimpangan jalan.

Selesai.


( ALBUM ANBUSENJA DI PENDAKIAN GUNUNG ANDONG VIA PENDEM )


PENDAKIAN GUNUNG ANDONG via PENDEM

PENDAKIAN GUNUNG ANDONG via PENDEM

PENDAKIAN GUNUNG ANDONG via PENDEM

PENDAKIAN GUNUNG ANDONG via PENDEM

PENDAKIAN GUNUNG ANDONG via PENDEM

= SELESAI =

0 Response to "PENDAKIAN GUNUNG ANDONG via PENDEM"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel