PENDAKIAN GUNUNG UNGARAN via BASECAMP MAWAR

PENDAKIAN GUNUNG UNGARAN via BASECAMP MAWAR - JIMBARAN

PENDAKIAN GUNUNG UNGARAN via BASECAMP MAWAR
Doc. Pribadi | Pos Bukaan - Gunung Ungaran via Jalur Jimbaran.

Gunung Ungaran adalah gunung yang berketinggian 2.050 mdpl. Berada diwiayah Ungaran, Semarang, Jawa Tengah. Gunung ini cukup populer untuk kalangan penikmat Lelah di kota tersebut untuk menikmati akhir pekan mereka.

Tak sedikit pula, yang dari luar kota yang juga ingin menikmati indahnya cahaya lampu Kota Semarang dari ketinggia. Termasuk aku dan juga kawan-kawanku.

Gunung Ungaran sendiri, memiliki beberapa jalur pendakian yang umum di gunakan, yakni ;

  1. Via Basecamp Mawar,
  2. Via Candi Gedungsongo.

AWAL PERJALANAN

Berawal dari Keisengan dalam candaan, Berakhir dalam sebuah catatan perjalanan

Awalnya, aku berniat mendaki gunung ini sendirian, alias Single Trip. Sebuah keinginan yang sudah aku siapkan ketika sewaktu-waktu kesempatan itu datang. 😁


Wacana ke Ungaran sendiri, mulai di bahas saat aku, dan beberapa kawan yang juga ikut dalam rombongan kali ini, selesai melakukan pendakian dari Gunung Andong.

Dalam sebuah grup chat berisi orang-orangng yang tak jelas, kami ngobrol kesana kemari membahas perjalanan kami di Gunung Andong, tiba-tiba aja ane nyletuk "ke Ungaran wae". Eeeeee.... tak disangka, ternyata direspon positif oleh kawan-kawan. 😃

Setelah itu, dibuatlah grup untuk pendakian ini (yang menambah daftar grup di hape ane tambah buanyak 😂) untuk koordinasi segala persiapannya. Mengingat bahwa kami nyaris tak ada waktu hanya untuk sekedar membahas persiapan secara tatap muka.






Sebuah tujuan, yang mulai terealisasikan.

Diperjalanan ini, Gunung Ungaran adalah gunung ke-5 yang sudah ku kunjungi di Jawa tengah, yaitu ;


Dan untuk melengkapi SEVEN SUMMIT CENTRE JAVA. Tinggal Gunung Merapi dan Sindoro. Hehehe. (LAST UPDATE : Gunung Merapi Sudah Euy 😎)

Jika tak ada halangan, akan aku lengkpao pada tahun ini. Entah bersama kawan, ataupun sendiria. Itu Goal ku tahun ini.

UPDATE : 25 September 2019 = Tinggal Gunung Sindoro yang masih belum.

MENUJU UNGARAN.

Personil

Yang ikut dalam pendakian kali ini adalah :


  1. Aku sendiri,
  2. Dwi RS Septian
  3. Kojek
  4. Pak dosen
  5. Bembi


Memacu kendaraan, menuju Jimbaran.

Basecamp mawar di Jimbaran, adalah tempat yang kami sepakati untuk mengawali perjalanan kami menuju ke Puncak Gunung Ungaran.

Bermodalkan Google Maps, kamu pun akhirnya sampai di Basecamp Mawara dengan sehat dan selamat. Hahaha. Meskipun awalnya sempat merasakan perasaan was-was. Soalnya, kondisi motorku yang sudah mulai rewel, selepas melewati Kota Magelang.

Apalagi, ketika akan mendekati jalur menuju basecamp mawar yang menanjak. Hahaha... Disinilah saya mulai rajin berdoa agar motorku sampai basecamp tanpa halangan suatu apapun. 

Dan Alhamdulillah. Sampai euy.


Selalu cek kondisi kendaraan kalian. Khusus bagi kalian yang belum pernah kesini, dan ingin ke sini. Jika lelah, lebih baik  istirahat, jangan di paksakan, terlebih saat berada di jalan menuju Basecamp Mawar yang sangat membutuhkan konsentrasi lebih.


PENDAKIAN GUNUNG UNGARAN via BASECAMP MAWAR
Salah satu trek landai sepanjang jalur menuju camp mawar. Masih banyak titik curam yang membutuhkan kehati-hatian.

Kami beruntung, sesaat sebelum memasuki jalur menuju camp mawar ini, hujan sudah reda. Yang sebelumnya telah menghajar kami saat mulai memasuki wilayah Ambarawa. Hujannya cukup deras, dan mengurangi jarak pandang kami, khususnya aku sendiri yang bermata empat dengan kendisi motor yang loyo pula.

4 jam perjalanan sudah kami tempuh. Sudah termasuk makan siang di pinggir jalan (tak disarankan makan di tengah jalan yes), Isi bahan bakar, belanja logistik, belanja obat-obat an, dan bayar retribusi 3x.. hahaha

Satu jam lebih lama dari yang sudah kami perkirakan. Tentunya acuan ini di peroleh pemetaan yang dilakukan Google Maps. Eit. Nyasar tidak termasuk lho ini. Karena navigator kami yang cukup diandalkan. 😄



PENDAKIAN GUNUNG UNGARAN via BASECAMP MAWAR
Rute kami.

BASECAMP MAWAR

Ritual sebelum melakukan pendakian.

Sebagai PEMULA (pendaki muka lama), dengan jam terbang yang mumpuni, mereka sudah cukup  familiar dengan RE-PACKING, semacama ritual sebelum dimulainya sebuah pendakian.

Bahkan saking seringnya, banyak diantara mereka tak perlu melakukan re-packing lagi. Karena semua kebutuhan termasuk logsitik, sudah ditata dengan rapi di dalam kerilnya masing-masing.

Aku sendiri, masih suka melakukan re-packing sebelum pendakian di mulai saat berada di basecamp, karena untuk kebutuhan logistiknya biasa aku lengkapi saat mendekati basecamp. (beraaat gan jika harus diisi penuh keril ane dari rumah 😭). Tapi untuk kebutuhan lain, sudah aku persiapkan semuanya. Jadi untuk logistik, tinggal memasukan didalam keril bagian atas aja.

Kami melengkapi logistik kami saat berada di kota Ambarawa. Di Indom*ret yang merupakan market terakhir yang kami temui sebelum basecamp.

PENDAKIAN GUNUNG UNGARAN via BASECAMP MAWAR
Re-packing

Repacking selesai. Pukul 15:30, setelah sholat Ashar, kami mulai berangkat meninggalkan basecamp untuk menuju Pos Bukaan. camping ground yang akan kami gunakan untuk mendirikan tenda.


BASECAMP - POS 1

Keril sudah di pundak, saatnya menuju puncak.

Sore itu, langit mulai gelap. Kabut tipis menghalangi mentari senja. Ada sedikit rasa was-was dalam hatiku, apakah kami bisa sampai puncak?. Perasaan semacam itu pasti akan muncul dibenak para pendaki saat mulai pendakian, terlebih pendakian pada gunung yang baru dikunjungi.

Bagiku dan timku, wajar saja perasaan itu muncul. Belum memasuki di jalur pendakian saja, udah main tersesat saja, 😂  (malu juga seeh buat mengakui, tapi memang seperti itulah cerita kami). Untung ada bapak-bapak pemilik warung di area camp mawar yang kasih tahu jalan sebelum kami lebih jauh berjalan di jalur yang salah.



PENDAKIAN GUNUNG UNGARAN via BASECAMP MAWAR
Breifing dadakan setelah tersesat sebelum memasuki jalur pendakian 😂

Pada saat melakukan simakasi, kami sudah di kasih peta jalur pendakian, tapi menurutku dan kawan-kawan, peta tersebut tak sepenuhnya membantu. Terlebih penunjuk arah yang berada di peta yang sukses membuat kami bingung. Setidaknya itu kami sadari saat kami sudah sampai di Pos Bukaan.

Bahkan kami mendengar banyak dari pendaki yang kami temui mengaku bingung juga dengan jalur barunya. 😅 (beberapa di antara ada yang tersesat selama 4jam perjalanan). Sukses lah pengelolanya yang membuat kami tersesat berjamaah. hhaa



PENDAKIAN GUNUNG UNGARAN via BASECAMP MAWAR
Bembi, yang lagi merasakan trek pertamanya.


Setelah memasuki jalur pendakian kami sudah di hadapkan dengan trek menanjak yang licin. Bisa dimaklumilah, karena hujan baru saja reda, Dan sejujurnya, trek seperti ini lah yang membuat aku menyukai yang namanya penjelajahan. (Tak tahunya, trek di depan justru membuat jidat ketemu dengkul, hahaahaha...)


Pos 1

45 menit dari basecamp. Yaa.. lumayanlah ... Trek pertama rasa-rasanya memang terasa trek yang paling berat.

Di pos ini. Kami mulai sering berpapasan dengan beberapa pendaki yang baru saja turun. Kebanyakan dari mereka hanya membawa daypack saja.

Mungkin mereka mendaki Gunung Ungaran dengan TipTop an. Cek Disini euy Istilah-istilah dalam dunia pendakian.



Gunung Ungaran jalur Mawar
Kau kenapa bem? pucat amat... 😃


PERJALANAN POS 1 - POS 3

Sumber mata air.

Sumber mata air di jalur pendakian Jalur via Jimbaran, memliki sumber mata air berupa aliran sungai yang dimanfaatkan oleh pendaki sebegai kebutuhan air minum mereka. Untuk sampai sumber mata air berupa aliran sungai ini, hanya berjarak + 30 menit dari Pos 1.

Karena langsung dari sumber, air tersebut bisa untuk langsung di minum. Rasanya dingin serta menyegarkan.

Selain itu, tempat ini lumayanlah luas. Dan cocok untuk istirahat. Namun tak disarankan untuk mendirikan tenda disini. Selain jaraknya masih belum ada setengah perjelanana, penuh dengan bebatuan, juga untuk mengantisipasi meluapnya aliran sungai. (tapi,,, ya siapa juga seeh yang mau mendirikan tenda disini hihihi...)


PENDAKIAN GUNUNG UNGARAN via BASECAMP MAWAR
Sumber mata air di jalur pendakian via Jimbaran.

Cukup lama kami istirahat disini. Entah sudah berapa banyak pendaki yang kami sapa disini, dari yang naik ataupun yang turun. Tapi memang bukan keputusan bijak untuk berlama-lama disini. Karena perjalanan masih jauh, bahkan kami belum ada setengah perjalanan dari Basecamp Mawar. 😄 (kita mah pendaki woles bang)

Kami pun segera beranjak. Menyusul rombongan didepan kami yang rata-rata adalah cewek-cewek geulis. Jadi lebih semangat niih. 😏


Potong Jalur.

Kami melewati pos 2. Bukan karena kami tak mau, kami hanya tak tahu. 15 menit setelah dari Sumber mata air, kami bertemu dengan persimpangan yang terdapat sebuah plakat penunjuk jalan.

Plakat yang terpasang menunjukan bahwa untuk ke Promasan, kebun teh, dan Goa jepang adalah dengan mengambil jalur kiri. Seperti peta yang kami dapat saat simaksi, bahwa pos 2 berada sebelum tempat-tempat yang ane sebutkan diatas. Atas info itulah, kami segera ambil tindakan untuk ambil jalur kiri.

Gunung Ungaran jalur Mawar
ke kiri adalah jalur alternatif yang lebih menanjak | ke kanan adalah jalur lama yang lebih landai

Entah apa yang dipikirkan oleh pengelola. Kenapa harus mengarahkan pada jalur yang ekstrim, bila beberapa wisatawan, hanya ingin menikmati kebun teh, goa jepang, dan promasan, jika masih ada jalur lama yang lebih landai. 
Seperti rombongan 4 cewek yang masih belia yang kami temui. Saat kami tanyai, dan mereka menjawabnya ingin ke kebun teh. Tapi jalur yang dilewati adalah jalur alternatif berupa tanjakan yang sengaja dibuat untuk pendaki.
Semoga, info ini bisa sampai di pengelola ya... 😁

Suasana malam di jalur baru, ditengah lereng hutan yang gelap dan lembab.

Saat senja mulai tergantikan oleh malam, kami masih berada di lereng hutan yang lembab. Jalur trek yang terlihat baru dibuat, membuat tanah yang kami pijak lebih labil. Ditambah gerimis yang membuat jalur semakin licin. Tapi kami terus melanjutkan perjalanan meskipun jatuh bangun menjaga keseimbangan.


Gunung Ungaran jalur Mawar
Jalur trek setelah persimpangan.

Mantel sudah ane pakai sejak kami masih di sumber air. Bisa dibayangkan lah, bagaimana susahnya jika berjalan di jalur yang mempunyai kemiringan 45derajat, dengan kondisi tanah yang licin dan labil. Apalagi mantel yang ane pakai adalah mantel jenis ponco.

Istirahat di lahan yang basah

Ketikat suara adzan Maghrib berkumandang, masih jelas terdengar oleh telinga kami. Kami hentikan perjalanan saat itu juga. Istirahat di tengah lereng hutan yang basah. Pun akhirnya kami relakan celana kami basah tembus sampai kebagian dalamnya untuk sekedar melepas beban kami di punggung serta mengistirahatkan tubuh yang mulai kelelahan.

Kami akan menjamak sholat kami sesampainya diatas, karena sangat tak memungkinkan bila kami harus melakukan kewajiban kami ditempat kami beristirahat.

Tantangan demi tantangan saat melewati jalur baru kami lewati. Diawali jalur yang licin, kemudian menyusul jalur yang berlumpur. Trek seperti inilah yang justru membuat ane jauh lebih semangat.

Iqomahpun selesai dikumandangkan, waktunya kami melanjutkan perjalanan. Headlamp sudah terpasang di tempatnya. Guna menerangi jalan kami menembus hutan ini. Hingga kami menemukan POS 3. Disitulah kami bisa mengistirahat badan lebih nyaman, karena tempat yang lebih kering. 😊

Pos 3

Sebuah tempat peristirahat, terbuat dari atas seng, bertiang dari kayu sekitar. Berada di persimpangan antara menuju puncak bila ambil jalur ke kiri (keatas), dan menuju promasan, goa jepang, dan kebun teh bila ambil jalur kanan (kebawah).
PENDAKIAN GUNUNG UNGARAN via BASECAMP MAWAR
POS 3 | (foto ini, ane ambil saat perjalanan turun)

kami sudah merasakan dinginnya saat berlama-lama berdiam diri di pos ini.. Kami pun sesegara mungkin beranjak untuk melanjutkan perjalanan. Selain waktu yang kian larut, serta angin gunung yang mulai menusuk, semakin banyak pula pendaki yang telah melewati kami. Salah satu yang kekhawatirkan kami adalah saat sudah sampai atas, tapi kami tak mendapat untuk mendirikan tenda.

Sebenarnya, bukan karena tidak mau percaya dengan info yang didapat dari pendaki yang sudah kemari berkali-kali, yang memberikan info bahwa di atas memiliki area camp yang luas. Hanya saja dari pengalaman ane saat pendakian ke Gunung Sumbing beberapa tahun yang lalu, membuat ane lebih selektif dalam menerima info dari pendaki yang sudah berkali-kali mendaki sekalipun.



AACA JUGA : PENDAKIAN GUNUNG ANDONG JALUR PENDEM



POS 3 - POS BUKAAN

"ketika JIDAT reunian sama LUTUT"

hahaha... ada yang pernah mengatakan seperti itu kepada ane dulu. Anepun cuman menganggapnya sebagai pemanis saat bercanda yang belum tentu benar adanyanya. Dan pada saat itu juga ane bisa merasakannya secara langsung. 😂


https://anbusenja.blogspot.com/2019/05/pendakian-gunung-andong-via-pendem.html
Foto ane ambil diatas pos 3 saat perjalanan turun.



PENDAKIAN GUNUNG UNGARAN via BASECAMP MAWAR
Foto ane ambil diatas pos 3 saat perjalanan turun.

Trek berupa bebatuan licin. Disebabkan oleh lumut yang tumbuh subur di permukaanya. Selain itu, tanah lempung pun juga ambil peran dalam membuat trek menjadi lebih dramatis untuk dilalui. 😂


Treknya berupa bebatuan, licin, dan untuk menggapai pijakan selanjutnya harus mengangkat lutut setinggi mungkin sampai-sampai lutut menyentuh jidat, ditambah pula beban keril di pundak yang membuat perjalanan ane dan kawan-kawan pada malam itu serasa lebih panjang. 😁😄 Gimana kalo kalian ikut ngebayanginnya... 


Jika diantara kalian ingin mencoba mendaki Gunung Ungaran via Bascemp mawar, trek ini akan kalian temui antara pos 3 sampai dengan pos bukaan.


Saat ane dan rombongan ane melewati trek ini, kami bebarengan dengan rombongan lain yang masih duduk di bangku sekolah menengah. Ada seorang cowok yang terlihat begitu kesusahan sekali saat melewati jalur ini. Sampai-sampai ia harus merangkak seolah trek yang dilaluinya berdiri secara vertical. Padahal ia sama sekali tak membawa beban apapun dipunggungnya. Ane pun membatin "kira-kira, apa yang membuat dia begitu kesusahan melewati jalur ini ya?"



Menganalisa

Setelah ane perhatikan (yang memang kebetulan dia berada di depan ane). Dia memang tak mengenakan sepatu tracking, tak bawa penerangan seperti headlamp atau semacamnya.

Entah analisa ane itu berpengaruh dengan yang dialami cowok itu. Tapi, dengan tidak memakai sepatu traking, otomotis saat kaki mencari pijakan akan sangat mudah sekali terpeleset, namun beda halnya jika memakai sepatu yang memiliki gigi di telapak kaki yang ada di sepatu trakking. Yang berfungsi untuk mencengkram agar pijakan lebih kuat. Terlebih di meda yang licin.

Ditambah lagi dia tak memakai alat penerangan (red. Headlamp). Itu akan lebih menyulitkan lagi. Terkadang, yang sudah berkali-kali melewati suatu jalur, jika dia memang memiliki jiwa petualang didalam dirinya, akan berpikir dua kali untuk melewati sebuah jalur tanpa penerangan. Adalah suatu tindakan untuk mengurangi resiko yang tak di inginkan.



Alam memang tempat untuk belajar. Tapi, tidak ada salahnya mempelajari dari kesalahan serta kekurangan orang lain untuk mengurangi resiko. Resiko yang akan menimpa dirimu khususnya. Jangan menyusahkan orang lain karena kelalaianmu. 😁


Pos Bukaan

Jam 9 malam (kurang lebih), kami berlima sudah sampai di pos bukaan. Pos terakhir yang bisa kami gapai pada malam itu. Dengan kondisi tim yang sudah letih setelah dihajar trek yang tanpa ampun, begitu juga dengan ane sendiri, kami putuskan mendirikan tenda di pos bukaan.

Selain pertimbangan tersebut, di Pos Bukaan, baru ada 3 tenda yang baru berdiri, dan kami sendiri tak berani memastikan bila kami melanjutkan perjalanan, apakah masih mendapat camp area yang muat dengan 2 tenda yang kami bawa. Mengingat sudah begtu banyak rombongan yang telah melewati rombongan kami saat berada di bawah.

Setelah kami menemukan beberapa tempat yang bisa digunakan untuk mendirikan tenda. Bergegas kami mulai membongkar keril. Tugas dibagi antara yang membuat lahan, mendirikan tenda, serta memasak. 

https://anbusenja.blogspot.com/2019/05/pendakian-gunung-andong-via-pendem.html
Pos Bukaan di tengah malam

Mencari pemandangan di tengah malam di Pos Bukaan.

Sesaat setelah tenda berdiri, setelah semua barang sudah dimasukan kedalam tenda, dan ketika peralatan tidur sudah mulai dipersiapkan, hanya tinggal menunggu mata terkantuk disela-sela obrolan ngalor-ngidul tak jelas. Justru ane merasa terpanggil untuk keluar mencari udara segar (eee.. mungkin lebih tepat bila dikatakan udara dingin. hehe)

Yang awalnya mata sudah begitu berat rasanya, ingin segera membuka sleeping bag dan menggeliat di dalamnya. Malah membuat rasa kantuk dimata ane hilang seketika setelah melihat pemandangan kota Semarang di pos bukaan.


https://anbusenja.blogspot.com/2019/05/pendakian-gunung-andong-via-pendem.html
Ane yang menggunakan timer.

Mungkin masih belum banyak yang tahu. Tapi bisa percaya atau tidak, foto yang ane ambil dengan menggunakan timer itu adalah foto dengan menggunakan smartphone Oppo a37f. Terdapat settingan sederhana yang justru bikin ane ingin terus berlama-lama bermain ISO dan Shutter yang biasa ane gunakan pada DSLR ane

Puas (Ngantuk sih sebenarnya.. haha) bermain dengan main an baru, jam 2 pagi ane pun balik ke tenda untuk segera mengistirahatkan badan yang mulai kelelahan. Pas di tenda, angin kencang datang dengan tiba-tiba. Merubuhkan beberapa tenda di samping tenda kami. Tenda kami aman-aman saja, hanya Flysheet yang ikatannya terlepas dari pasak.

Berniat untuk segera tidur, terpaksa ane harus hujan-hujan ditengah-tengah angin kencang utntuk membetulkan ikatan flysheet agar lebih kuat. Setelah yakin dengan ikatan ane, ane pun segera masuk ke Sleeping Bag. Ane tidur diantara tenda ane dan tendanya pak dosen yang tersambung oleh flysheet.

PAGI YANG INDAH untuk MENUJU PUNCAK.

Kami bukan pemburu Sunrise

Yapz, kami memang bukanlah pemburu sunrise. Yang bersusah payah bangun pagi-pagi summit untuk sekedar menikmati terbitnya matahari di atas puncak. Padahal dari atas kek, dari bawah kek tetap aja sama,  yang keluar dari balik cakrawala adalah sang surya. Gag ada berubah. 😃

Ane terbangun jam setengah enam pagi untuk sholat. Kemudian dilanjutkan tidur lagi disaat yang lain malah pada bangun untuk menikmati suasana pagi. Jam 8 ane kembali terbangun, dan mengajak yang lain untuk segera summit. Tanpa banyak komentar, mereka langsung mengiyakan. (berasa jadi leader aja nii 😎)

Menuju puncak

Persiapan summit udah siap. Jam 8 pagi (lebih dikit) kami muali meninggalkan camp area yang tak seramai saat malam. Kabut masih belum menghalangi pemandangan panorama alam kota Semarang. Sembari melakukan perjalanan, kami sempatkan untuk mengabadikan beberapa pemandangan yang begitu enak untuk di pandang.

PENDAKIAN GUNUNG UNGARAN via BASECAMP MAWAR
Pos Bukaan, saat kami mulai summit.

Perjalanan ke puncak, trek serasa begitu bersahabat dengan kaki. Pijakan demi pijakan dapat kami atas dengan baik. Itu karena trek menuju puncak dari Pos Bukaan, tas sesadis trek dari pos 3 menuju pos Bukaan.

Banyak camp area yang tersedia, tapi...

Saat kami tiba di Pos Bukaan, jam memang sudah menunjukan pukul 9 malam. Tak ada waktu bagu kami untuk mencari satu persatu -satu lokasi yang memungkinkan untuk mendirikan tenda. Terlebih dengan kondisi kami yang mulai kelelahan. Akhirnya kami putuskan untuk mendirikan tenda di Pos Bukaan yang masih tampak lenggang.

Tapi, saat kami mulai summit. Ditengah perjalanan kami menemukan berbagai camp area yang memungkinkan untuk mendiri tenda. Namun sayangnya, kebanyakan yang kami temukan, hanya memiliki luas yang cukup satu sampai dua tenda saja. Itupun terpisah-pisah. Ditambah tak ada bebatuan atau semak yang menghalangi terpaan angin. Sangat berbahaya bila badai datang secara tiba.

Ane sendiri menyarankan bagi kalian yang ingin ke sini. Jika sudah malam, dan di Pos Bukaan masih ada ruang. Dirikanlah disitu. Bukan jaminan jika kalian meneruskan keatas akan mendapatkan tempat. Meskipun ada tempat juga sebelum puncak.


PENDAKIAN GUNUNG UNGARAN via BASECAMP MAWAR
beberapa titik camp di atas Pos Bukaan.

Trek yang tak terlalu menanjak, disertai dengan suguhan pemandangan yang menyejukan mata, telah membakar rasa lelah ane. Banyak spot-spot yang indah untuk mengabadikan moment perjalanan.

PENDAKIAN GUNUNG UNGARAN via BASECAMP MAWAR
Ternyata, ane masih perlu banyak belajar tentang 'angle | spot sebelum puncak'

PUNCAK!!

PENDAKIAN GUNUNG UNGARAN via BASECAMP MAWAR
Suasana Puncak.


Puncak Tertinggi Gunung Ungaran dinamakan sebagai Puncak Tugu. Disebabkan karena terdapat Tugu dari beberapa kesatuan Tentara Indonesia yang dibangun disini.
Dan pada jam 9.30, ane lengkap dengan kawan-kawan ane, telah sampai Puncak Tugu Gunung Ungaran dengan selamat. Rasa lelah yang kami rasakan, seolah hilang seketika.

PENDAKIAN GUNUNG UNGARAN via BASECAMP MAWAR
PUNCAK TUGU - GUNUNG UNGARAN

"di puncak, ada camp area yang cukup luas mas".  Yapz... memang tak salah dengan kata-kata pendaki yang kami temui diperjalanan. Kenyataannya memang area di puncak ini cukup luas untuk menampung sepuluh tenda sekaligus.

Akan tetapi, justru mas Fajar, teman seperjalanan kami mengingat ada LARANG MENDIRIKAN TENDA DIAREA PUNCAK di brosur PETA. Namun di puncaknya sendiri justru malah terpasang plakat "CAMP AREA". 😂 ... enggak habis pikir, ini mau nya apa siiih....  DILEMA BROOOO.....

Geli juga melihat hal semacam itu. Tapi ane sendiri juga merasa menyesal ketika pas mau balik, tapi mendiamkan saja tanpa melapor kepada petugas yang berjaga tentang kejanggalan yang ane temui di depan mata ane. Ah.. sudahlah... 😣


Makan siang sebelum perjalanan pulang.

Tak banyak waktu yang kami habiskan di Puncak. Karena memang hari sudah semakin siang, kami putuskan untuk segera balik ke tenda untuk persiapan pulang.

Tak lebih dari 20 menit, kami sudah sampai di Pos Bukaan. Pos Bukan sudah terlihat sangat sepi dari saat kami tinggalkan. Terlihat tinggal tenda kami dan tenda mas Fajar & Bayu yang masih berdiri disana.

Kami sempatkan untuk sarapan meskipun terlambat. Jadi sebelum membongkar tenda, kami membuka logisitik yang masih tersisa. Tak lupa nesting serta kompor sudah kami rapikan sebelum summit.

Namun beda dengan mas fajar cs. Mereka lebih memilih untuk segera membongkar tenda dan dilanjutkan untuk turun. Kami hanya bisa melepas kepergian mereka dengan saling bersalaman dan saling berkenalan (meskipun kami sudah bersama sebelum pos 3, barulah kami kenal nama mas fajar dan mas bayu sesaat sebelum mereka turun 😂)

PENDAKIAN GUNUNG UNGARAN via BASECAMP MAWAR
Makan siang sebelum perjanan pulang  ala koki kojek

PERJALANAN TURUN

Udah siang, waktunya pulang 

Saat kojek sibuk masak, ane dan pak dosen lebih memilih beres-beres tenda. Mempacking apa yang bisa di packing. Karena beberapa peralatan masih digunakan untuk keperluan memasak, jadi tak semuanya bisa langsung masuk ke dalam keril.

Beres dengan urusan tenda, si kojek pun sudah beres dengan urusan memasaknya. Tenda sudah rapi, dan makan siang pun sudah jadi. Kami nikmati waktu terakhir di ungaran dengan memakan makan siang kami dengan senyum yang mengembang, 😁

https://anbusenja.blogspot.com/2019/05/pendakian-gunung-andong-via-pendem.html
waktunya pulang

Jam 1 siang, akhirnya kami meninggalkan camp area di Pos Bukaan.  Sementara itu, sebelumnya kami foto bersama sebagai kebiasaan kami saat melakukan pendakian bersama sebelum pulang.


Mencoba jalur yang berbeda

Saat perjalanan turun, kami sepakati untuk melewati jalur Promasan. Ane sendiri masih penasaran apa yang terjadi di promosan, sehingga membuat beberapa pendaki menyesal ketika kami disesatkan oleh plakat yang tertancap di persimpangan sebelum.

Mungkin akan memakan waktu lebih lama, tapi setidaknya kami tahu apa yang terjadi disana. 

Setelah sampai di kebun teh, ane tak menemukan sesuatu yang menarik disitu. Tak ada yang beda dengan kebun teh pada umumnya. Terbesit untuk belok ke kiri menuju Promasan saat ada plakat yang menunjukan arah kanan menuju Basecamp Mawar.

Niat itu akhirnya ane urungkan. Ane lebih memilih ambil jalur kanan untuk menuju basecamp mawar, agar segera bisa sampai di basecamp mawar, kemudian pulang.

Saat menuju basecamp mawar, kami kembali bertemu dengan mas Fajar dan mas Bayu di tempat pertama kali ketemu, di Sumber mata air. Entah apa yang mereka lakukan disana, yang mengakui sudah berada disitu sejak dua jam sebelum kami datang. Hemm... mencari wangsitkah? 

Basecamp mawar, selamat tinggal

Jam 5 sore, ane dan kojek lebih dulu sampai di basecamp. Yang kemudian mampir ke warung pertama yang kami temui sembari menunggu teman-teman yang lain jauh tertinggal.

Saat yang lain sudah sampai, istirahat sebentar sembari memesan beberapa gorengan. Ane tinggalkan mereka untuk mengerjakan sholat ashar dan dzuhur yang ane jamak.

jam setengah 6. Kami mulai meninggalkan Basecamp mawar,


============= *SELESAI* =============


Galeri Pendakain Gunung Ungaran lainnya

Video




Foto

foto kami yang lain :
sebelum pos 1


pos 1


Sumber mata air


persimpanga yang menyesatkan. hahaah


dari pos bukaan


PENDAKIAN GUNUNG UNGARAN via BASECAMP MAWAR
pemandangan di atas pos bukaan


juragan nya niih


bembi masih kuat... 
sebelum puncak




Pos Bukaan, terlihat dibawah


bongkar tenda


gagal gaya... hahaah


trek saat turun


trek saat turun 2


Puncak, view Merbabu




kami dengan personil tambahannya.


timer


0 Response to "PENDAKIAN GUNUNG UNGARAN via BASECAMP MAWAR"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel