MENDAKI GUNUNG ANDONG via JALUR SAWIT

MENDAKI GUNUNG ANDONG via JALUR SAWIT

MENDAKI GUNUNG ANDONG via JALUR SAWIT
bukan karena efek kamera. tapi memang luas tempat ini.

KILAS


Gunung Andong, berada di Kota Magelang. Yang berada di tiga desa sekaligus yaitu Desa Ngablak, Tlogorjo dan Grabang. Gunung ini, memiliki ketinggian 1463 mdpl. Walaupun tampak lebih rendah daripada gunung-gunung sekitarnya, tapi memiliki medan yang cukup menantang.

Gunung cilik-cilik cabe rawit cuy.




Udah lama rencana pengen ke tempat yang satu ini. Dekat juga dari tempatku yang sekarang, dan karena seabrek alasan, akhirnya baru kesampaian kemarin.



Baca juga:  Pendakian Gunung Andong Part-2


Biasa, hanya sebatas wacana aja

Barang Bawaan yang dibawa saat memakai metode TIPTOP

Gara-gara nya temen ku yang namanya Dwi. Dia ditinggal bini nya yang lagi balik kampung, menurutnya INI adalah waktu yang tepat untuk berkelana. hahaha...

Diawal rencana, kami berniat melakukan pendakian dengan metode TIPTOP-an. Yaitu sekali nanjak langsung turun. Karena pendakian kali ini di waktu liburan Pemilihan Kepala Daerah, dan kami semua serentak juga untuk golput.

Secara, kami semua nya memang bukan asli jogja. Sebagaimana tempat kami domisili.

Karena pake metode TIP-TOP an, jadi peralatan yang kami bawapun juga tak seribet peralatan yang biasa dibawa saat mendaki di gunung yang berketinggian di atas 2000mdpl. 

Yang aku bawa saat itu, hanya :
1. Headlmap,
2. Sepatu Gunung,
3. Topi Rimba
4. Mantel
5. Matras
6. Jaket
7. Kamera.

Estimasi Perjalanan menuju Basecamp

Untuk efisiensinya sih, kami sepakat untuk berkumpul di kantor sebagai Meeting Point kami. Setelah sudah pada kumpul, dan mengecek masing-masing barang bawaannya, lalu kami pun langsung berangkat menuju basecamp Sawit.

Jam 00:30, kami mulai start, dengan Pak Dosen sebagai leader kami. Karena hanya dia sendiri yang udah pernah kesana sebelumnya. 

Pertimbangannya, kami berharap mendapat sunrise disana jika berangkat lebih pagi. Sebagaimana info-info yang kami dapatkan di internet tentang estimasi perjalanan dan model treknya seperti apa.

Aku yang udah kebiasa naik gunung yang lebih tinggi dari Gunung Andong, sudah sewajarnya jika aku bisa membandingkan kemudian mempertimbangkan dengan info-info yang kami dapat, lalu kami terapkan di Gunung Andong ini.

PENDAKIAN GUNUNG ANDONG via JALUR BASECAMP SAWIT | catper
rute : 00:30 - 02:30
Estimasi perjalanan kami dari Jogja menuju Basecamp, adalah 2 jam perjalanan. Itu dengan menggunakan kendaraan bermotor.


Lebih dingin daripada yang aku kira

Masih dalam perjalanan kesana. Dimana, setelah melewati kota Magelang menuju basecamp, ternyata dinginnya melebihi apa yang aku kira.

Selain karena gerimis, juga karena rasa capek ku setelah seharian kerja. Sempat beberapa detik terlelap ketika diboncengin Pak Dosen. Rasa kantuk waktu itu benar-benar tak bisa ditahan. Ngantuuuuuuk banget.

Jadi, jika kalian ingin melakukan perjalanan jauh memakai kendaraaan, pertimbangkan jugga kondisi fisik kalian. Ini adalah kelalaian ku dari persiapan ku sebelumnya.


Dengan segala upaya agar sadar dari buaian angin malam, akhirnya pun kami tiba di basecamp dengan selamat. Walaupun akhirnya kena omel juga sama Bembi dan Dwi yang tertinggal jauh di belakang karena akunya, nggak mencegah pak dosen yang terus tancap gas tanpa ampun, Bembi dan Dwi memang masih awam dengan jalan, ditambah gerimis, malam-malam, di tanah asing pula... jadi... ya wajar aja kalo ngedumel ke kami. 

Aku tanggepin aja dengan cengar-cengir


Ketiduran karena dengkurang kucing.


jam 02:30
Sampai di basecamp, Hal pertama yang kami lakukan adalah Membayar retribusi masuk dengan harga per orangnya Rp.13.000,- (hemm.. 😏 relatif). Kemudian mencari tempat ngopi untuk menghangat badan. Ketika yang lain siap-siap, ane nyolong-nyolong waktu buat sekedar memejamkan mata. bodo amat.... hhhaaa 😜


jam 03:40
Bangun-bangun ada kucing di belakang ane... hhaaa.... alhasil, mager lah ane... 😂. Tapi, karena nggak enak sama yan lain, dengan amat~sangat~terpaksa~sekali, ane usir kucing kampung yang tampan itu untuk segera bergegas persiapan. 

Kuganti sendal dengan sepatu, ku masukan sarung, dan ku keluarkan headlamp. Setelah dirasa semua siap dan tak ada yang tertinggal, kami pun berangkat.

Trek pertama adalah jalan kampung yang dicor, sebagai salah satu akses penduduk untuk menuju ke ladang mereka. Pak Dosen berada didepan sebagai guide kami, karena memang dia yang sebelumnya udah pernah naik. Kami bertiga hanyalah pengikut yang sama sekali tak menghiraukan instruksinya... hhahaahha....

Sampai kami ketemu gerbang masuk Gunung Andong. 


PENDAKIAN GUNUNG ANDONG via JALUR BASECAMP SAWIT
pas udah balik
Karena memang bukan weekend, jadi jarang kami temui pendaki lain yang berpapasan dengan kami saat berangkat (apalagi yang turun). Hanya dua rombongan yang kami temui di basecamp saja yang berpasan dengan kami di atas pos 2. Ngakunya mereka juga dari Jogja, yang udah duluan  dari kami. Berencana mau ngecamp diatas, namun karena hujan dan membawa seorang pemula, dan mengantisipai hal yang tak diinginkan jadi mereka lebih suka menunggu ujannya reda (keputusan bijak).

Setelah gerbang masuk. Trek selanjutnya yang kami temui adalah tanah lempung yang lembek. Karena sesaat sebelum kedatangan kami di basecamp, area ini diguyur hujan yang cukup deras. Sangat disarankan untuk tetap konsentrasi (begitu juga untuk pendakian dimalam hari, yang cerah sekalipun), selain licin karena tanahnya berupa lempung, suasana juga gelap. ditambah jarak pandang sedikit terbatas karena kabut tebal disertai gerimis sedang.

Setelah melewati trek berlempung, dengan pohon-pohon pinus yang melindungi kami dari terpaan angin malam yang dingin. Trek selanjutnya adalah trek jalan setapak yang sebelah kiri kami adalah jurang yang cukup dalam. Sanking dalamnya ane gag ngeliat dasarnya (iyalah, kan gelap,, hhee)


pukul 04:30
Kami istirahat sejenak di deket pancuran air. Kami ambil air wudlu untuk sholat shubuh setelah sampai atas, yang katanya pak dosen, puncaknya udah deket, dan tak memungkinkan bila sholat di jalan. Karena untuk berpapasan aja kesulitan sebab sisi satunya, berhadapan langsung dengan jurang yang sangat dalam.

Karena kami disini lebih pemula dari pak dosen. Okelah kita nurut apa kata senior . 😪


pukul 05:30
Kami sudah sampai di persimpangan, yang mana bila ambil ke kiri akan menuju ke makam (katanya pak dosen) dan bila ambil ke kanan menuju puncak. Kami ambil kekiri untuk mencari tempat yang lebih rata, untuk kami gunakan buat sholat.


pukul 06:00
Kami sudah sampai di Camp Area, tempat yang sering digunakan pendaki untuk menggelar tenda mereka. Kira-kira lebih dari 20 tenda, bisa tertampung disini. Namun cukup berbahaya menurut ane, karena area tersebut enggak ada tumbuhan yang bisa digunakan untuk menahan angin.


PENDAKIAN GUNUNG ANDONG via JALUR BASECAMP SAWIT
bukan karena efek kamera. tapi memang luas tempat ini.

Sangat berbahaya bila badai datang secara tiba-tiba, dengan kondisi tenda serta pasaknya tak terpasang dengan baik. Seperti yang ane lihat waktu itu disepanjang jalan dimana tenda-tenda yang didirikan yang terkesan asal-asal an. Ada yang stik tendanya patah, ada yang tendanya berdiri tanpa pasak yang menancap ditanah, dll. 😔

Karena sewaktu kami sampai diatas, angin nya semakin kencang, jadi kami mlipir, memilih berlindung di salah satu warung yang ada disekitar camp area itu. Sembari menunggu angin nya biar sedikit lebih tenang, kami pesen beberapa makanan hangat. Dan  ane sendiri, tarik selimut, tiduuuuuur,,,    😫

PENDAKIAN GUNUNG ANDONG via JALUR BASECAMP SAWIT
Model : Dwi
30 menit berlalu, dan anginnya tak kunjung reda, ditambah Guide kami yaitu pak dosen sedang kebelet pup. 😪 Untuk pak dosen mungkin masih awam, mungkin tak akan pernah mengerti betapa nikmatnya menyalur hajat di gunung. Yaa,  tentunya dengan cara yang tak merugikan orang lain. Karena keawaman tersebut,ia pun lebih memilih untuk menahannya dan pup di bawah (kalo ane mah, kagak nahaaaaaaan)... hhaa...

Sejujurnya, selain menyiksa diri sendiri, yang seperti itu juga sangat membuat tidak enak rekan perjalanannya. Ia lebih memilih turun dari pada pup ditempat yang sudah di rekomendasi oleh pemilik warung yang mungkin ada beberapa alasan yang bisa di ambil. Karena tak terbiasa, kedinginan, atau mungkin takut kalau ketahuan sama pendaki lain. Ane seh nggak tanya, cuamn mengasumsikan aja (kurang kerjaan banget nanya yang gituan 😪)

Dengan kerendahan hati nya (enggak tahu tingkat kebeletnya sudah sampai level berapa itu 😂) akhirnya pak dosen memilih untuk mengantarkan kami sampai ke puncak. 

Setelah selesai mengantar kan kami kepada dua puncaknya, dan selesai foto-foto di puncaknya, pak dosen memilih untuk turun duluan (mungkin waktu turun dia pake perseneling 10 kali ya 😂)

PENDAKIAN GUNUNG ANDONG via JALUR BASECAMP SAWIT
PUNCAK ANDONG , 1726mdpl
Memang tak banyak yang kami lakukan di puncak. Foto pun juga cuman ala kadarnya, selain kabut disertai angin yang sangat tidak baik jika kami berlama-lama dipuncak, juga karena nggak enak sama pak dosen yang udah turun duluan karena kebeletnya... hhaa ..

Perjalanan turunnya pun, kami lebih memilih santai. Bukan bermaksud tak menghargai pak dosen. Disini pun si bembi juga mulai mengeluh kakinya sakit. Jadi kami lebih menikmati waktu perjalanan turunnya karena si Bembi,

Si Bembi ini pun ternyata , juga mengaku merasa kebelet sejak di atas, tapi tingkat kebelet nya masih di bawahnya pak dosen yang di bela-belain turun hanya karena pengen bok*r di basecamp.

Dan lucunya lagi, sebenarnya ane juga merasa kebelet sesaat setelah meninggalkan warung tempat kami berteduh. Dan itu dirasakan kami bertiga (ane, bembi pak dosen) yang sama-sama pake celana pendek. Ngaruh nggak seeh sebenarny.. hhaaa... 😃😂 Bahkan ane sempet kepikiran buat pup di bawah puncak. Bukannya tak tahu malu, tapi karena kabutya yang sangat tebal. Bahkan jarak pandangnya bisa kalian definisikan melalui foto diatas. Jadi sangat memungkinkan kan, pup tanpa ketahuan.. hehehe.... tapi ane urung kan niat itu karena alasan lain. 😁

PENDAKIAN GUNUNG ANDONG via JALUR BASECAMP SAWIT

Tak lupa, kami dokumentasikan perjalanan turun kami yang terpaksa tanpa pak dosen. Menurut pendapat pribadi, ane sangat suka trek ini. Terlebih saat kabut seperti ini. Meskipun tak mendapat view panorama yang sudah bergentayangan di berbagai media sosial, seperti keindahan saat kunjungan ane ke atap Jawa Tengah beberapa waktu lalu yang bikin ane ketagihan, cukup dengan keindahan seperti ini pun sudah  membuat ane bersyukur bisa berkunjung ke sini. 

Jam 10:20
Kami sudah sampai di Gerbang. Kami habiskan waktu kami disini. Bahkan waktu kami disini lebih lama ketimbang pas lagi dipuncak. Karena memang sudah capek tak tidur seharian (kecuali ane yang suka nyolong buat tidur, hehe) juga karena matahari bersinar dengan terangnya. Anget euy....

Namun pas ane balik memandang ke arah puncaknya Andong, tampak disana kabut yang masih menggelayut disekitar puncak. Seolah enggak meninggalkan puncaknya meski di bawahnya sama sekali tak ada kabut yang menutupinya. Aneh...

PENDAKIAN GUNUNG ANDONG via JALUR BASECAMP SAWIT
tampak kabut masih menutupi puncaknya.
Setelah puas poto diri sendiri alias selfie, kami beranjak balik ke basecamp. Buang hajat yang tertunda, makan pagi, kemudain segera balik ke Jogja. Karena saat itu, entah Bembi atau Pak Dosen, sama-sama mendapat jatah Shift pagi malam.

=======***=======
SELESAI
=======***=======


[ biaya ] yang ane keluarin untuk trip ini ;
Rp.13.000 = Biaya retribusi sekaligus parkir
Rp.6.000 = Makan Mie rebus (bonus mendoan) pas di atas
Rp.4.000 = Stiker
Rp.8.000 = Makan pagi pas di Basecamp

[ peralatan ] yang ane bawa;


[ catatan ] kecil buat ane ;
Tissue tak dibawa
Pisau terlupakan
Kompaspun tertinggal



0 Response to "MENDAKI GUNUNG ANDONG via JALUR SAWIT"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel