PENDAKIAN GUNUNG SLAMET - Menuju Atap Jawa Tengah

PENDAKIAN GUNUNG SLAMET via BAMBANGAN

Menuju Atap Jawa Tengah

:. 10 ~ 12 Juni 2016 .:
Anbusenja - Pendakian ke Gunung Slamet
Puncak


INTERMEZZO DULU

Angan-angan Menuju atap Jawa Tengah pun akhinya bisa terwujud. Pendakian Gunung Slamet, yang merupakan atapnya Jawa Tengah. Itu dikarenakan, puncak Gunung Slamet yang memiliki ketinggian 3.428mdpl, yang merupakan titik tertinggi di Provinsi Jawa Tengah. Provinsi yang memiliki begitu banyak tempat wisata alam, khususnya adalah wisata alam Gunung.


AKan tetapi, Meskipun terkenal dengan medan berat, tetap saja sebagai tujuan yang cukup populer bagi pecandu ketinggai, seperti ane. 



.: Personil :.

Dalam pendakian kali ini, jumlah personil dalam rombongan ku ada 4 orang.
1. AKu - [JOGJA]
2. Bedur [SERANG]
3. Kancil [PURWOKERTO]
4. & Oppal [PURWOKERTO]

.: Persiapan :.

Persiapan yang kami lakukan adalah sejak dua bulan sebelum hari H. Karena kondisi kami yang berbeda kota, seperti yang sudah aku sebutkan pada point "personil" diatas.

Koordinasi, kami lakukan via grup chat. mulai membahas segala persiapan berupa alat, logistik, estimasi waktu, dll.


Persiapan alat, diserahkan sepenuhnya kepadaku. Logistik pada Bedur. Sedangkan untuk estimasi perjalanan diserahkan pada kancil dan oppal yang sudah mengetahui medan di sekitar Gunung Slamet.



.: Menuju ke kota Tujuan :.

Sabtu, 11 Juni 2016 / KOTA JOGJA yang masih terasa lebih sepi ketimbang dengan hari-hari biasanya. Yaaa, karena memang pada saat itu masih dalam suasana lebaran. Namun terasa begitu rame saat berada di jalan provinsi. hehehe

Pukul 10.00 / Kami mulai start dari Kantor tempat aku kerja (Karena selama ini aku bertempat tinggal di kantor), yang kemudian langsung menuju jalan antar provinsi yang memang tak jauh dari kantor ku.


Tempat tujuan kami pertama kali adalah kota Purwokerto yaitu ke tempatnya Kancil, yang kemudian akan di lanjutkan lagi ke Probolinggo, Basecampe Bambangan sebagai titik awal kami melakukan pendakian.



Baca : Pendakian Gunung Andong via Jalur Pendem


.: Akomodasi :.

Akomodasi yang aku gunakan dengan bedur dari JOGJA adalah motoran. Berbagai pertimbangan sudah kami fikirkan. Dan dengan motorlah, satu-satunya alternatif yang bisa kami pakai untuk menembus padatnya jalan yang dipakai untuk arus balik lebaran.

Melelahkan memang, tapi karena menggunakan motor itulah, kami bisa jauh lebih leluasa mencari jalan alternatif ketika jalan raya tampak macet.


Kami sempet nyasar juga. Berniat mencari jalan alternatif. Yang ada kami malah disesatkan oleh google maps yang kami pakai. hahahaha... dikarenakan kami terlalu masuk kedalam daerah yang sulit mencari sinyal, sehingga membuat maps yang kami pakai jadi tak fungsi. hahaha 



PENDAKIAN GUNUNG SLAMET
Terlambat 3 jam dari info perkiraan sampai yang di kasih sama mbah G*ggle Maps.


Waktu yang kami gunakan menembus jejeran pemudik yang kembali ke kota-kota tempat mereka kerja adalah 8 jam. Terhitung dari jam 9 pagi, ane dan bedur sampai titik point yang disarankan kancil jam 5 sore. Seperti gambar dibawah, adalah rute yang kami ambil.



Pukul 17:30.

Kami sudah di rumah kancil. Lebih tepat, rumah adik e kancil. Sejak di Klenteng, udah gerimis. Beruntung bagi ane dan bedur, karena perjalanan dari Jogja tak terlalu terik, apalagi mendung, dan sesampainya di tempat kancil pakaian ane dan bedur udah basah karena gerimis. Tidak dengan kancil yang menjeput kami dengan mobil bak terbuka. Asem...

Pukul 18:00,

Setelah berbenah diri, kami ngobrol santai di samping dapur. Evaluasi sambil menyeruput baksa yang begitu menggoda. ahahaha... sembari membuka catatan untuk keperluan yang dirasa belum selesai.

Dari masalah peralatan, akomodasi, rute, dll nya sudah kami bahas di Grup dan itu di anggap close. Tinggal masalah logistik yang akan beli di mana, karean sudah terlanjur malam jadi ambil kesepakatan melengkapi di toko disepanjang perjalanan nanti menuju basecamp.



PENDAKIAN GUNUNG SLAMET
Tim sudah lengkap, saatnya makaaaaan




Pukul 19:30
Kami berangkat ke Basecamp Bambangan, Pas perjalanan ke BC ane ngerasain suasana yang sama ane rasain pas maen ke Jakarta untuk pertama kalinya. Enak dan menenangkan. Suasana malamnya bikin ane pengen lama-lama ngerasain suasana ini, Namun sikon memang tak mendukung. Kami sedang mengejar waktu.


Pukul 23:00,

Kami sudah di BaseCamp Bambangan. Sebelumnya tadi kami sempet mampir ke suatu tempat, mungkin beliau adalah guru Spiritualnya si Kancil. enggak tahulah siapa beliau itu, hanya saja ane merasakan ketenangan setelah beranjak dar kediamannya.



Baca : Pendakian Gunung Lawu via Jalur Cemoro Sewu

Sesaat setelah tiba di parkiran (markirnya di pinggir jalan...:p), kami jalan lagi menuju POS pendaftaran Bambangan. Pemanasan yang bahkan belum masuk ke pintung gerbang pendakian. hahahaah,,,, kami daftar diri yang di wakili sama kancil...



PENDAKIAN GUNUNG SLAMET
Pendaki bijak adalah pendaki yang ngikuti aturan yang berlaku | Mendaftaran diri

Kami akan berangkat esok jam 3 pagi. Jadi untuk menghemat tenaga, kami akan istirahat dahulu sebelum start. Banyak pendaki yang juga ingin mendaki di dinihari nanti. Maka tak heran kalau melihat basecamp kayak penampungan pengungsi.


DI Basecamp kami "kedatangan tamu", kami mengangga mereka teman baru. Datang 60 menit setelah kami. Setelah di ajak ngobrol sama sik Kancil, kami ketahui mereka datang dari Jakarta, baru lulus SMK tahun ini, ada Jojo, Imam, dan Sarah. Kami akan start bareng dan atas paksaan si Kancil, juga akan kami antar sampai Terminal setelah nanti kami turun. Ah kancil,, bener-bener ni anak.... Solidaritasnya tinggi banget...




Minggu, Pukul 02:30

Waktu kami percepat 30 menit dari rencana. Hujan pun juga sudah reda setelah semalem gerimis. Kami awali dengan berdo'a yang dipimpin oleh Kancil. kemudaian GAS...


Tim kami menjadi 7 orang setelah kedatangan mereka bertiga. Beranjak dari gerbang pendakian, kami menyusuri jalan setapak yang sering dilalui oleh para petani setempat. Ambil jalur kanan, kira-kira 5 meter setelah gerbang. Jalan becek, tentu saja karena dari petang sampai malam, gerimis mengguyur kawasan BaseCamp.


Tim ane sebelumnya, lebih menikmati perjalanan sehingga jalan kami bak kura-kura yang sedang santai jalannya. Bisa bayangin kalo kura berjalan buru-buru secepat apa. hahaha,, dalam sekejap pun si Jojo, Imam, dan Sarah sudah tak terlihat. Dari awal mereka memang berada di depan.


Menurut isu yang beredar, jarak Basecampa dengan Pos 1 puanjaaaaaaaang. Dan memang benar adanya.... hahaha.... tapi karena masih gelap, ane sendiri tak terlalu ngedap melihat jalurnya.



Pukul 04:00,

Terdengar adzan shubuh yang sayup-sayup diantara gemerisik suara dedaunan. Kami tiba di pos bayangan, setengah perjalanan lagi dari POS 1. Rombongan si Jojo, ternyata juga tengah berisitirahat disini.


Dengan niat Tayamum, kami tunaikan kewajiban kami sebagai seorang Muslim. Kami sholat Shubuh Berjamaah dengan beralaskan matras.



Baca Juga : Catatan perjalanan ke Kebun Teh Nglinggi Kulon Progo

15 menit kami gunakan beribadah, dan sesegara mungkin kami prepare dan melanjutkan perjalanan. Teknik kami pun tak jauh beda dengan sebelumnya. berjalan bak kura-kura berjalanan dengan santainya. hahaha



Pukul 06:00,
Kami sudah sampai di Pos 1. Kami tanggalkan Keril kami, sembari menikmati Sunrise yang kelewat beberapa menit. Mentari sudah hampir sejengkal terlepas dari garis garis cakrawala. Bonus sih ane bilang itu. (FOTO: Korup gan T_T)

15 menit. Jangan lama-lama lah. Kami masih mengejar waktu. Angkat keril, setting tali, dan kami lanjutkan perjalanan.



Pukul 09:00,
POS 2. Oh legaaaaanya... pikirku dalam hati. Sesegara mungkin ane lepas keril yang membeni pundak ane. Karena sedari tadi sejak beranjak dari pos 1 ane merasakan kantuk yang sangat, Ane sempetin buat memejamkan mata.
PENDAKIAN GUNUNG SLAMET
ane yang sedang di Camdig


Suasana di POS 2 masih cukup ramai. Banyak tenda yang berdiri disini. Belakangan ane ketahui bahwa ketika kami masih di basecamp. Hujan cukup deras di sepanjang jalur pendakian  dan memaksa para pendaki untuk membuka di tenda di tempat yang dianggap layak

30 menit yang cukup lama  rasanya menurut ane. Kantuk reda, kami lekas angkat ransel dan memulai perjalanan.


Rute pendakian di Gunung Slamet via bambangan ini, menurut ane sangat keren. Jika panas maka cahaya matahari akan bersusah payah menembus dedauan  pohon yang mungkin sudah berumur ini. Menjadikannya payung alam disaat terik.



Pukul 10:30
POS 3. Tanah lapang yang muat dengan 4 tenda dengan kepasitas 4 orang. Pas kami disini, tak ada tenda yang berdiri disini. Kayaknya sudah pada packing dan melanjutkannya ke puncak.


Baca : Pendakian Gunung Ungaran via Jalur Mawar - Jimbaran

Disini kami juga ketemu sama si Imam dan Sarah yang tampaknya kelelahan, mungkin si Sarah yang lelah kemudian Imam yang menjaganya. Sedangkan si Jojo sudah tak terlihat. Ia meneruskan perjalanannya sendirian. di POS 3, ane gag ada dokumentasinya. :'( :Sad.


Hanya sekedar melepas lelah sejenak disini. Kami segera meneruskan perjalanan. Tak lupa kami ajak barengan lagi si Imam dan Sarah. Kami kembali berjalanan beriringan.



 Pukul 11:30

POS 4. Pos yang dikenal angker di kalangan pendaki. Jadi bukan tempat yang direkomendasikan untuk mendirikan tenda disini.


Tapi saat itu, ane melihat ada dua tenda yang berdiri disini. Mungkin mereka terpaksa harus mendirikan tenda disini, seperti info yang ane tulis di sebelumnya, bahwa malam sebelumnya jalur pendakian ini di guyur hujan yang cukup deras.


Ane menggunakan ritme yang konsisten dalam berjalanan. Tak cepat namun juga tak lambat. Nafas yang ane atur agar tak cepat capek.


Selepast Pos 4, jalur sudah mulai menyempit. Kanan kiri diapit oleh rerimbunan tanaman liar. Bahkan tak jarang kami harus melewati pohon tumbang dengan membungkuk. Bisa bayangkan bila membawa Keril dengan ukuran 70+5 liter, berjalan membungkuk. Namun justru itulah kenikmatan yang ane harapkan.


Tak jarang pula kami temui jurang cukup dalam disamping jalur pendakian setelah pos 4. Mungkin langsung menuju lembahan.



Pukul 12:30
Bisa dibilang. Jalur dari pos 4 ke pos 5 adalah jalur favorite ane untuk pendakian Gunung Slamet via Bambangan. Yaitu jalan setapak yang hanya bisa dilalui satu orang, Lebih dari itu bisa namun harus ada yang mengalah, heheh. ...

Jam makan siang tiba. Ane dan Oppal sudah sampai Pos 5 duluan. Bedur dan Kancil berada di belakang. Begitu juga dengan Imam dan Sarah. 


Pas tiba disini, ternyata Jojo juga sudah tiba. Kayaknya di seperti lagi ngebooking tempat. Nungguin pendaki lain membongkar tendanya sedangkan ia sendiri menunggu disamping mereka. Cerdas,, hahaha... Jika tikda begitu, meungkin akan diserobot pendaki lain.


Bisa dikatakan POS 5 adalah pos favorit bagi para pendaki untuk mendirikan tenda. Selain jarak antara puncak tak terlalu jauh, Terhalang pepohonan bila badai tiba-tiba datang, juga ada sumber air yang bisa di manfaatkan bagi pendaki untuk memenuhi kebutuhan logistik mereka.



Baca Juga : Jurig malam Menuju Puncak Kosakora

Cukup ramai di POS 5 ini. Hampir-hampir ane dan Oppal tak kebagian tempat bila tak ada pendaki yang baik hati, yang ngasih tahu ada pendaki yang kebetulan juga sedang membongkar tendanya.


Setelah mereka pergi. segera ane dan oppal pasang tenda. Kebetulan Keril bedur yang ada tendana dibawa si Oppal, di tambah ane sendiri juga bawa tenda. Jadi sembari menunggu Bedur dan Kancil, kami dirikan kedua tenda bersama oppal.


Tak sampai 15 menit. dua tenda sudah berdiri kokoh. Kami masukan keril dan perlengkapan lain ke dalam tenda. Lokasi kami mendirikan tenda, memang tak terlihat dari jalur pendakian, jadi ane dan oppal jemput di samping jalur pendakian


Tak berapa lama, Bedur dan Kancil sampai. Bedur yang terlihat capek, langsung ane tunjukin tenda kami, sedangkan kancil, kayaknya dia dapet kenalan dari teman sepergurannya.



Baca : Informasi Unik Seputar Gunung Lawu


PENDAKIAN GUNUNG SLAMET
Silahturohmi bersama pendaki sekaligus pendekar Sidoarjo.

Setelah bertegur sapa, mereka pun pamit balik. Ane, Kancil, dan Oppal segera menghampiri Bedur yang tekulai lemas di tendanya. Entah beban apa yang dibawanya sehingga membuat dia tak berdaya menghadapi trek yang ane bilang trek yang mengasyikan ini. Malah, kata kancil dia mau pingsan... wkwkwkw.... padahal ini bukan agenda pertamanya lo dalam pendakian.... hahahaha



Didalam tenda, kami melepas lelah sambil guyon ala kadarnya Tak sadar, kami pun juga ikut terlelap karena sama-sama kecapekan. Sampai kami melupakan kewajiban kami :sad.



Pukul 15:30

Nyaris kami terbangung bersamaan. pulas juga kami tertidur siang itu. Cuaca yang tadinya mendung waktu kami bangun sudah mulai cerah, bahkan cahaya matahari sempat menghangatkan tenda. Kami mulai beraktvitas agar otot meregang sehingga tak membuat kami kedinginaan.


Banyak aktifitas yang bisa kami lakukan untuk menunggu summit. Salah satunya Masak, dan ambil air. Ane dan Oppal masak, Kancil mencari air, dan Bedur masih terkulai lemas di dalam tenda. Kasihan kamu nak...



PENDAKIAN GUNUNG SLAMET
Bedur masih kriyip-kriyip


PENDAKIAN GUNUNG SLAMET
Makan siang kitaaaaa

Karena ane tak ada kerjaan, jadi ane tanya ke Kancil buat nunjukin dimana jalur sumber airnya. Ane pun kesana, diikuti sama Oppal. jalannya ada belakang tenda ane. Turunan menuju ke lembahan. 


Pas ane turun ke lembahannya, Ada sesuatu yang bikin ane dongkol, marah, atau apalah yang bisa menunjukan rasa tidak suka ku terhadap sesuatu. Ada RANJAU yang dibuat  manusia yang tak berotak. Tak habis pikir aja, orang tak berotak mana yang bisa-bisanya membuang limbah mereka diakses jalan menuju tempat yang sering dilalui pendaki lain untuk mencari air. Untungnya, tempat limbah itu berada jauh dibawah sumber air. Jika di atasnya, dan diketahui, mungkin disumpahin semua pendaki agar tak bisa Buang hajat seumur hidupnya lagi.



Baca Juga : Mengejar Senja di Pantai Greweng

Skip dari sifat pendaki bar-bar yang tak berotak tadi. Ane, dan Oppal sudah sampai disumber, lebih tepatnya aliran dari sumber. Sumber aslinya ane enggak tahu, karena semakin ane keatas untuk mencari tahu sumbernya, Jalannya semakin sulit dilalui.

PENDAKIAN GUNUNG SLAMET
Oppal, yang tengah melamun di sampng aliran sumber

Hari pun semakin gelap. Tak lupa kami ambil air Wudhu sebelum balik ke tenda. Kami juga membawa air yang akan gunakan untuk memasak. Karena alirannya kecil, jadi harus sedikit bersabar. Terlebih udara juga sudah mulai dingin.



Pukul 18:00

Setelah ane dan yang lain menyelesakan sholat maghrib, langsung masuk ke dalam tenda masing. Ane setenda dengan oppal, sedangkan kancil setenda sama bedur. Untuk rombongan Jojo, mereka mendirikan tenda di atas kami. Dan kami mulai khawatir dengan mereka yang sejak tenda berdiri, tidak ada aktifitas yang terlihat di tenda mereka. Kancil pun mengeceknya, di dapati mereka terlelap. Heddeh.... hahaha



Pukul 19:00

Waktu Isya' tiba. ane bergegas sholat sebelum ane membatalkannya. Sengaja ane menahan agar wudlu ane tak batal, yaaa rasanya sedikit males aja siih, harus turun di lembahan itu dengan kondisi gelap dan dingin seperti itu. Bahkan ane belum makan agar tak membatalkan wudhu ku. Dikuti yang lainya, sehingga kami selesai melaksanakan kewajiban kami. Jadi kami akan lebih tenang mempersipkan summit esoknya.


Makan malamnya, tak jauh dari Mie Instan, Telur dan Nasi. Kombinasi yang tidak baik sebenere, namun karena keterbatasan kemampuan kami dalam mengolah makanan, jadi hanya menggunakan yang instan-instan saja.


Gerimis mulai turun, ane pun memastikan kekokohan tenda. dari mengecek tali, pasak, sampai membuat parit jika tiba-tiba hujan. Begitu juga dengan kancil yaang juga memastikan kekohonan tendannya. Setelah dirasa aman, ane kembali ketenda, begitu juga dengan kancil. Kami melanjutan obrolan-obrolan garing kami sembari membunuh waktu yang rasa-rasanya lama banget beranjaknya.



Baca : 10 Alasan Kami Harus Mendaki Walau Cuma Sekali


Pukul 20:30

Dimulai dengan bedur yang suaranya mulai tak terdengar, diikuti oppal yang juga sudah ingin terlelap, tinggal ane dan kancil yang masih terjaga.


Ane sendiri pun juga dalam posisi PW banget, didalam sarung yang sudah ane lapisin Sleeping Bag, tak lupa jaket dengan penutup kepala, di tambah sarung tangan dengan kaos kaki yang sudah menutup rapat badan ane. Ane dan kancil juga masih bicara kayak orang nglindur, pertanyaanya apa, jawabannya apa... jadi segaring apapun yang kami obrolkan membuat kami tertawa terpingkal-pingkal. Mungkin karena capek. Dan sesaat kemudian, ane terlelap.


Seperti biasanya. Karena perlengakapan ane yang terbilang jauh dari profesional. Jadi ane masih suka bangun, memposisikan badan agar PW, membenarkan SB dan sarung yang membuat badan ane menggiggil. Dikit-dikit kebangun, dikit-dikit tertidurr, dikit-dikit melihat jam yang masih ane kenakan meskipun ane tertidur, boro-boro jam tangan, kacamata ane aja masih suka ane pake kalo pas tidur saat digunung.


Berkali-kali ane melihat jam, seolah-olah kayak gag jalan. Jalan seperti seperti kura-kura yang sedang jalan dengan santainya.. hahaha... 



Baca juga : gunung kendil yang kerdil



Senin, 12 Juni 2016


Pukul 02:00
Ane bangun sendirian, karena yang lainnya masih masih berlarian di dalam mimpinya, bisa jadi ada yang lagi menari sembil bernyanyi di tengah guyuran hujan.. haha

diikuti oleh si Oppal yang setenda sama ane. Mungkin dia terbangun karena keberiisikan ane. Ane kedinginan e vroooh,,, butuh kehangatan, Makanya ane banyakin gerak... hahahaaha


Bedur pun kayaknya sudah mulai terbangun. dan yang terbangun terakhri tentu saja Kacil. Dan ngebanguninnya susaaaah banget. Bahkan sampe ane, oppa, bedur udah ready buat summit, kancil masih kriyip-kriyip matanya. Bener-bener ni anak.


Jojo yang tendanya gag jauh dari tenda kami, menghampiri kami, tanya apakah sudah siap. Kami jawab aja belum siap, lawong si Kancil aja nyawanya masih belum genap. kami sarankan ke jojo untuk makan dulu. Karena sebelum kami siap-siap untuk tidur, kami masih belum belum melihat aktifitas dari mereka. Bisa kami asumsikan di situ, jika mereka sejak tiba dipos 5 sampai pagi ia nyamperin kami, dihabiskan untuk tidur, dan belum makan,



Pukul 02:30

Rombonan ane sudah siap. Siap summit, sekaligus siap meninggalkan pacar-pacar kami. Tenda kesayangan. hallah... tak lupa kami samperin rombongan Jojo, dan kedapatan mereka sedang menyantap mie instan dengan lahapnya. Jadi bener asumsi kami bahwa mereka belum makan sama sekali semenjak sampai di Pos 5 ini. 


Kami disarankan untuk berangkat duluan. Dan kami iyakan saja. sembari menunggu rombongan si Jojo, kami memperlambat langkah kami. Sedikit jalan banyak duduknya.. hahaha



Pukul 03:00

Kami sudah ada di Pos 6. Tempat yang sangat luas untuk satu tenda yang berdiri di kapasitas 5 orang. Disini kami menunggu rombongan Jojo, sembari foto-foto. dan Fotonya ada di si Kancil. Asem.


Tak kunjung datang, kami lanjutin jalannya lagi. masih dengan ritme yang sama, dikit jalannya, banyak istirahatnya. hehehe. 


Diatas  pos 6, barulah kami dapatin jojo cs datang. Ane dan kawan-kawan pun juga mulai mempercepat langkah kami sesaat setelah Jojo cs datang.


Tredari pos 6 menuju pos 7, cukuplah asyik. Jalannya melewati parit yang sempit. Tak mungkin bisa dilalui oleh 2 orang bisa di pastikan bila terporosok bakal susah naiknya. Treknya juga masih di dominasi dengan tanah basah. Tapi tak terlalu licin. 



Pukul 03:50an

Kami sudah ada di pos 7. Menjelang Shubuh, udara semakin menusuk. Jika saja kami nggak banyak bergerak, gag sampai hitungan menit mungkin kami sudah menggiggil. DI Pos ini personil kami masih lengkap. Termasuk rombongannya Jojo. Dan suasananya juga semakin rame, karena banyak pendaki mengejar sunrise. 


Kami lanjutkan perjalanan, sampai dengan Pos 8 yang nggak sampai setengah jam. Pos 8 ini sangat tidak rokemenden utnuk mendirikan tenda Tempatnya lapang rawan badai, dan pengahalang angin pun hanya setinggi dada orang dewasa.





Pukul 04:30

Sudah mendekati batas Vegetasi yaitu pos terakhir sebelum puncak. Pos 9.  disepanjangan perjalanan dari pos 8, ane masih sering menemui tenda-tenda yang berdiri di tempat yang geg semestinya, seperti berdiri ditanah yang miring, di tempat yang enggak ada pengahalang anginnya, bahkan ada tenda yang tidak direkomendasikan untuk digunakapan pada gunung di atas ketinggian seperti gunung slamet. Ane hanya miris melihatnya.


Sebelum mencapai pos 9, trek didominasi  oleh bebatuan yang rapuh. sangat berbahaya bila tak bijak mengambil langkah, karena bisa jadi ketika salah menginjak dan bebatuan terporosok, yang menjadi korbannya adalah yang dibawah.



Pukul 05:00

Kami sudah di pos 9, pos terakhir sebelum puncak sekaligus batas vegetasi. Setelah ini, tidak ada tumbuhan bisa kami gunakan utuk berlindung bila sewaktu terjadi badai disertai kabut tebal yang sangat tidak mungkin sekali untuk melanjutkan perjalanan. Beruntungnya, hari itu langit cukup cerah. Pun cahaya lampu kota masih sangat bisa kami nikmati dengan jelas dari situ.


Sebagai ganti dari langit yang cerah adalah, angin nya yang semakin kencang dan semakin menusuk. Meskipun sama-sama berpotensi terkena hypotermia, selama pakaian tidak basah, itu lebih dari cukup.


Selepas pos 9, trek terdiri atas tanah dan batu yang rapuh. Kewaspadaan yang diutamakan disini, selain menjaga kesalamatan diri sendiri, juga kesalamatan pendaki disekitarnya.


Sesekali ane menghisap madu yang ane bawa dan kawan-kawan bawa. Sangat membosankan bila ane tak melakukan apa-apa selain naik, istirahat, ambil nafas, naik lagi, istirahat lagi, ambil nafas lagi. Boring sangaaat... namun karena adanya Madu sachet jadi ane ada aktifitas lain di mulut. Selain itu juga menjaga panas di dalam tubuh,


Karena waktu, akhirnya kami hanya bisa menikmati sunrice di tengah perjalanan. Cukup kami syukuri, karena cuacanya mendukung.

PENDAKIAN GUNUNG SLAMET
Mereka menunggun sunrise

DI trek ini, ane juga menemui pendaki yang bisa dibilang nekat. Ane dan kawan-kawan temui di bawah pos 8, yang cepat mendakinya. Cewek dan Cowok. Namun pas di pos 8, ane tak tak melihatnya. Mungkin karena ane terlalu fokus dengan kondisi ane yang capek.


Saat mendekati puncak, ane melihat dua anak yang terlihat begitu baik kondisinya. Sekilas memang tak ada apa-apa dari kejauhan, namun semakin di dekati, diketahui bahwa ada gejala hypotermia menyerang si Cewek.



Baca : Pendakian Gunung Andong via Jalur Sawit

Langit sudah mulai terang, Mentaripun juga sudah terbit, itulah kenapa ane dan kawan-kawna bisa mengetahui dari kejauhan. Karena respon si Kancil yang cepat, ia memberikan pertolongan pertama dengan memberikan Kain Morinya, melilitkannya pada kaki, memberikan jaketnya, dan tak lupa kami kenakan Breket yang dibawa oleh si Bedur yang sudah di atas kami.



PENDAKIAN GUNUNG SLAMET
Korban
PENDAKIAN GUNUNG SLAMET
Solidaritas antar pendaki, memberi pertolongan kepada pendaki yang terkena gejala Hypotermia.
Karena kesigapan si Kancil, akhirnya bisa teratasi dengan cepat. Jika telat sedikit saja, tidak menutup kemungkinan jika ia akan menjadi korban dari kecerobohannya sendiri. Kami tungguin mereka sampai mereka benar-benar membaik. Meski si Cowok katanya pernah mendaki ke sini, namun tidak dengan si cewek.

Rekan cowoknya mengembalikan jaket dan slayer milik si Kancil. Namun si kancil hanya menerima jaketnya, dan tetap menyuruh kain morinya untuk digunakan. Merasa di perhatikan, mereka berdua nurut dan menyetujui untuk turun kembali. kamipun lanutkan perjalanan kami.





Pukul 06:00

kami sudah di Puncak Gunung Slamet. Ucapan terima kasih kepada Allah SWT, yang telah memberikan kesempatan dan kesahatan dalam perjalanan menuju atap jawa tengah.



PENDAKIAN GUNUNG SLAMET
PUNCAK GUNUNG SLAMET

Bangga, tentu saja. Lelah yang menyerang sedari bawah, sirna seketika sesaat ketika melihat pemandangan yang luar biasa yang kami nikmati di puncak ini. Mentari yang masih belum begitu tinggi, di tambah kumpulan-kumpalan awan, seolah merupakan formasi keindahan yang hanya bisa di dapat di puncak gunung sepeti ini.





PENDAKIAN GUNUNG SLAMET
Bedur dan pemandangannya


PENDAKIAN GUNUNG SLAMET
Oppal dan pemandangannya



Kami habiskan waktu di puncak dengan berfoto. Mengabadikan moment yang kemunngkinan untuk bisa kembali ke sini adalah sangat lah sedikit. Namun jika ada kesempatam, ane pengen ke sinin lagi. Dan ingin aku lakukan sesuatu yang belum sempet aku lakukan di sini.



PENDAKIAN GUNUNG SLAMET
ane dan Kancil

Setelah puas dengan foto-foto di puncak. Kami mlipir kebawah, mendekati kawah lebih dekat lagi. Dan kami habis kan waktu disitu. Melepas beban, makan makanan yang kami bawa dari tenda, dan kami mendapat kenalan baru lagi. Pendaki dari Boyolali katanya. Tak lupa kami mengajak mereka berfoto.



PENDAKIAN GUNUNG SLAMET
Bersama pendaki Boyolali


 Pukul 07:30
Sudah mulai siang. Kamipun langkahkan kaki kami menuju ke tenda kesayangan kami. Berjalan lebih cepat dari biasanya. Dengan senyum lebar diwajah. Saat nanti kami tiba dibawah dengan selamat. Kami akan punya cerita untuk dibagikan kepada siapapun yang ingin mendengarnya.

Turun dari Puncak, ternyata lebih susah dari yang ane bayangkan. Kekuatan bertumpu pada kaki semua. Jika gemetaran, dan terpelesat, wassalam dah,...




PENDAKIAN GUNUNG SLAMET
otewe turun


PENDAKIAN GUNUNG SLAMET






cukup dengan 30 menit, kami berempat sudah sampai di pos 9. Cepat memang, tapi dikaki rasanya lemas.


Oiya, di pos 9 ini, ada kejadian di mana ada pendaki yang terpeleset, ooo,,,, enggak terpeleset ding, lebih tepatnya meluncur, beruntung dia tidak sampai menyentuh bibir jurang yang tak jauh dari ia mendarat. Awalnya di berlari, dan mungkin dia tersadung, sampai ia tak menemukan pijakan yang pas, sehinga ia terporosok. Cukup jauh. Faktor kelelahan mungkin yang menyebabkan insiden itu.



Pukul 10:30
Kami ber empat sudah sampai di tenda. Tenda kesayangan kami sudah lama nunggu niih,, minta di belai, alias di bongkar.. hahaha.... namun sebelu di bongkar, kami prepare dan istirahat sejenak, sembari menyiapkan makanan dari sisa logistik yang kami bawa.


PENDAKIAN GUNUNG SLAMET
Siap bongkar muatan

di Awali dengan membongkar tendanya Bedur dahulu. dan menyisakan tenda ku. Ketika yang lain membereskan peralatan, sisanya ada yang memasak. Menunya pun tak jauh beda dengan sebelumnya. -_- Mie, Telur, Nasi... fiuuh...


Kami benar-benar menikmati sisa-sisa waktu kami di pos 5 ini dengan baik. Kesan yang bisa ane tangkep sendiri, adalah keharmonisan dalam suatu hubungan adalah saling mempercayai satu sama lain, 


Tak butuh waktu lama. Sajian cepat kami siap disantap.

PENDAKIAN GUNUNG SLAMET
SELAMAT MAKAN


Pukul 11:00
Kami sudah siap untuk turun. Tak lupa kami memastikan bawan bawaan kami yang tak tercecer. Begitu pula dengan sampah-sampah yang kami bawa. Kami bawa turun yang selanjutnya akan kami buang di bawah. Untuk rombongan si Jojo, juga terlihat sudah siap untuk turun. Dan untuk kesekian kalinya, kami beranjak dari tempat secara bersamaan.

Mulai dari ini, sejujurnya ane merasakan nyeri pada paha kiri ane. Awal ane rasakan adalah setelah meninggalkan pos 5 ini. Yang sebelumnya ane di tengah rombongan, lama kelamaan ane tertinggal di belakang sendirian. Namun semakin ane langkahkan kaki, ane mendapati bedur yang juga terlihat santai. Meskipun terlihat ia sedang menunggu ane, tapi yang ane rasain kalo dia juga sudah kelelalahan. Apapun alasannya, Terima kasih. ^_^


Justru karena kami jauh dibelakang, kami lebih leluasa untuk berfoto. Modus sekali... hahaha



PENDAKIAN GUNUNG SLAMET
Mbuh,, kesel...
Semakin lama, kami semakin tertinggl jauh. Kami sadari itu, bukan karena banyak narsis, karena memang kaki ane tak bisa di ajak jalan cepat. Untuk turun saja butuh perjuangn extra. Ane menggunakan Tracking pole milik Bedur yang ane gunain  untuk mengurangi beban di Kaki. Dan itu adalah cidera pertama yang bisa ane nikmatin saat dalam perjalan naik turun gunung.

Kau tahu, sungguh nikmat rasanya.



Pukul 13:00
Kami sampai di trek percabangan. Jika ambil kiri, akan sampai di basecamp Dipajaya, sedangkan bila ambil kanan, nanti akan sampai di Bambangan.
PENDAKIAN GUNUNG SLAMET
Percabangan
Ternyata, rombongan Jojo, serta Oppal dan Kancil sudah menunggu disini. Ane tak tanya berapa lama, tentu saja sangat lama,,ane aja jalan kayak kura2 lagi jalan santai kok. Sesaat setelah ane dan bedur datang, Rombongan Jojo berangkat, namun tidak dengan Oppal dan Kancil. Yang masih setia nungguin kami untuk istirahat sejenak.

Kami masih di atas pos 3, dan kami harus segera turun sebelum petang. Jadi kami tak berlama-lama disitu. Mulanya kami berangkat bareng lagi, namun karena lelah menunggu kami, akhirnya kami tertingal lagi. Oppal dan Kancil sebenarnya tahu kalo ane sedang cedera, tapi mereka lebih tahu kalo ane tak mengharapkan mereka menunggu ane. Ane pun berdua lagi dengan bedur.



Baca : Tips Sebelum Mendaki

Sampai di gerbang masuknya, ane masih berduaan dengan si bedur. Dan semakin lama, kaki ane rasanya makin nyeri. Untungnya sudah dekat basecamp. Jadi ane terus paksain, sampai akhirnya pas sampai basecamp, sesaat setelah keril ku lepas, kaki ane tak bisa di gerakin... hahahaah....


Pukul 18:00
Kami siap-siap untuk balik ke Purwokerto bersama Jojo dan kawan-kawannya. Udah jadi naluri mungkin, kancil ngajakin orang lagi pas mau balik. Alhasil, mobil semakin sempit karena penumpang bertambah. hahaahah... kawan  baru lagi nih.

Pukul 20:00
Sudah sampai di rumah. Aktifitas kami saat itu, mandi, tiduuuuur.... Karena rasa letih yang sangat, kami langsung tidur.

Esoknya, baru kami melanjutkan perjalanannya untuk balik ke jogja. Kami : ane & bedur... hehehe...


** CATPER GUNUNG SLAMET Part 1, selesai **



1 Response to "PENDAKIAN GUNUNG SLAMET - Menuju Atap Jawa Tengah"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel