PENDAKIAN GUNUNG LAWU VIA CEMORO SEWU

PENDAKIAN ke GUNUNG LAWU via CEMORO SEWU

(19 - 20 Oktober 2016)


Pendakian Gunung Lawu via Cemoro Sewu
Pos 5 Gunung Lawu Jalur Cemoro Sewu

SEKILAS

Gunung Lawu, sebagaimana udah banyak tahu, berada di perbatasan dua provinsi yaitu Jawa Timur dan Jawa Tengah. Memiliki ketinggian 3.265mdpl tidak menyurutkan peminat pendaki, termasuk yang masih dalam kategori pemula. Juga merupakan salah satu gunung paling sering aku kunjungi saat ini. Ini adalah pendakian yang ketujuh.



Akses yang sangat mudah dan strategis, menjadikan Gunung Lawu tak pernah sepi dari para pendaki dan Peziarah.








AJAKAN TEMAN SESAMA PENDAKI

Terbui oleh Janji Manis

Rasanya, disini aku termakan oleh info hoax, dan ya aku adalah korbannyaSatu-satunya alasan aku ikut mendaki kala itu adalah karena akan adanya cewek yang bakalan ikut, dan aku diiming-imingi untuk bisa nge-bonceng salah satunya. Bagaiman tak tergoda coba cuy, secara aku udah nge-jomblo selama 6 tahun saat itu. Tanpa pikir panjang lagi, fix-lah aku ikut. Dan setelah hari H nya. Tidaaaaaaaakkkkk.... saya terdozlimi, tak ada ceweknya sama sekali. Kamvret sekali.



Yasudahlah, udah terlanjur janji ini. Sebagai cowok gentle kan ya. Harus bisa memegang janjinya buat menamani mereka. Walaupun dengan berat hati.




Yang bikin malas tuh, sebenere saat itu sedang musim hujan. Apalagi kalo udah tahu dengan karakter cuaca di gunung lawu yang lembab. Tapi ya mau gimana lagi. Aku orange gag enak an sih. Hehehe.


Selalu di awali dari obrolan ringan.

Setiap kali ingin melakukan pendakian, selalu diawali dengan obrolan ringan. Hampir setiap Catper ku selama ini. Jarang sekali dengan niat yang mantaf. begitu juga dengan catper kali ini.



Saat kenalan baruku. Namanya Rahmat. Yang saat itu, ia masih suka main ke tempatku. Dan ya, saat itu aku masih bertempat tinggal di kantor. 




Malam-malam di balkon kala itu, dia sedang searching di youtube dan menemukan video pendakian ke lawu. Keluar celetukan "Kayane enak ki munggah lawu". Mungkin karena sudah terlalu sering, seolah ingin pamer pengalaman ku, aku pun menanggapi nya dengan menceritakan pengalaman ku selama ini saat mendaki ke Lawu.


***
Baca Juga artikel lainnya :
***


Terkesan mungkin dengan ceritaku, dia langsung menyampaikan keinginannya untuk mendaki ke sana. Dan aku sama sekali tidak tertarik untuk ikut. Hehehe.



Pertemuan berikutnya, di waktu dan tempat yang sama. Topik pembicaraannya ternyata masih sama. Masih seputar pendakian Lawu. Dan kali ini, aku terbui dengan janji manis mereka. Oh iya, kali ini si rahmat datang denga robi. Robi mengatakan. -"ono cewek e bro, lumayan kui, koe iso mbonceng siji". Keimanan ku pun goyah, dan tanpa aku sadari, aku katakan "Gas gaan.."  :sad.




Wadaw, akhirnya yang ikut cuman empat anak doang. Sialan. Wkwkwkw.... terlanjur janji e. Kan asem ya. Alasannya sih pada mager. Bodo amat lah.


SERBA - SERBI KEBERANGKATAN MENUJU BASECAMP CEMORO SEWU

Belum juga berangkat - udah di gerebek Hujan

(19/10/16) - Pagi itu, cuaca tampak mendung. Tak heran karena saat itu emang sedang musim hujan. Meskipun berharap kalo hari itu cerah cuacanya. Sampai siang, mendung masih menyelimuti langit jogja. Aku terbawa suasana, yang membuat hatiku cemas dan sedikit gusar.

Mepo, kami sepakat dirumahnya rahmat jam 4 sore. Tapi sejak pagi, aku udah uring-uringan. Mungkin karena berangkatd dengan berat hati kali. Korban janji manis. Wkwkwkw.

Pukul 15:00 - Aku sudah bersiap berangkat ke tempatnya Rahmat. Dan saat mau berangkat, Glek. Hujan turun. Wadaw. Ini nih yang bikin aku uring-uringan sejak pagi. Perasaan udah gag enak. Tapi mau gimana lagi. Tetap berangkat dong. jadi, lepas tas dulu buat ambil Ponco. jadi, belum apa-apa nih udah keujanan aja. Hehe.

Nungguin orang Berak 

Pukul 15.30 - Aku udah nyampek di tempatnya Rahmat. Disana udah ada si Obi. Tinggal si Guntur yang belum datang. Jadi kami menunggu sambil ngobrolin soal pendakian ini.



Banyak yang kami antisipasi disela-sela obrolkan saat menunggu si Guntu. 1 Jam berlalu, Guntur datang. Kami bertiga serempak menanyakan alasannya. Si guntur menjawabnya tanpa dosa "aku ke belet ee"  Jadi sejam kami nunggui orang berak.




Kalo sejam di buat jalan udah hampir sampai Solo tuh. Kamvret. Wkwkwkw

Pendakian Gunung Lawu via Cemoro Sewu
Guntur - Obi - Rahmat

Molor dua Jam - Tidak keren Euy

Saat kami mau berangkat. Hujan masih juga belum reda. Terlebih sudah mendekati Maghrib. Jadi kamipun menunda lagi keberangkatan kami yang udah molor 2 jam. Berharap setelah Maghrib Hujan sudah mereda saat perjalanan kami menuju Cemoro Sewu.

Pukul 18:30 - Hujan belum juga reda. Dengan segala pertimbangan yang ada, akhirnya kami lebih memilih nekat dengan menerabasnya. Lantas kami membongkar kembali tas keril untuk mencari mantel kami masing-masing dan langsung dikenakan.

Mantel tetap kami pakai sampai di basecamp Gunung Lawu Cemoro Sewu.


Mlipir di salah satu warung setelah jembatan Layang Palur

Pukul 20:00 - Sesaat setelah kami keluar dari kota Solo. Tepatnya setelah jembatan layang palur, ada jejeran warung yang seakan melambai-lambai kepada kami. Tak kuasa kami menahan sehingga kami mlipir ke salah satu warung disana.


Ada yang menarik perhatianku ketika berhenti di depan salah satu warung. "Soto Koya". Merupakan kuliner yang selama ini membuat ku penasaran, rasa sebenarnya dari soto koya. Maklum selama ini, aku hanya menikmati soto koya dalam versi mie Instan 😩

Tak butuh waktu lama, langsung aku memesan satu soto koya tanpa menghiraukan teman-teman yang masih diatas motor merapikan tas kerilnya. Ternyata, rasa lapar bisa membuat egois ya. 😖

😰Seumur-umur. Baru kali itu aku merasakan yang namanya Soto Koya sesungguhnya. Entah karena lapar, kedinginan atau emang racikannya. Rasanya benar-benar sangat Nikmat. Nikmat sekali.
Pendakian Gunung Lawu via Cemoro Sewu
Soto Koya, menikmati malam yang Syahdu.


Pukul 20.30 - 30 menit menurutku waktu yang sangatlah cukup untuk mengisirahatkan mesin sekaligus mengumpulkan energi untuk menerobos dinginnya malam terselimuti gerimis tipis kala itu.


Ini bukan termasuk Endorse ya. Hanya ingin membagikan pengalaman saja ;
Harga soto sini, selain enak, penjualnya ramah, harga nya cukup murah lo, aku sendiri habis Rp.10.000,- untuk Soto, jeruk anget, dan tahu. Harganya yang masih terjangkau untuk seukuran kami, Para (jomblo) pendaki terhormat... hahahaha 😂


Basecamp Cemoro Sewu Tampak Sepi

Pukul 23:00 - kami sudah sampai di Cemoro Sewu sambil kedinginan. Mulai dari rumah sampai Basecamp, gerimis senantiasa setia menemani perjalanan kami 😍

Setelah aku amati dengan seksama, pun aku membatin "Sepertinya pendakian kali ini bakal lebih sepi dari biasanya". 😱

Parkiran yang biasanya penuh dengan kendaraan pendaki, apalagi pas weekend selalu penuh. Bahkan sampai benar-benar tidak dapat bagian parkir. Tapi waktu itu - SANGAT LONGGAR BUANGET. Sepi cuy.

Tak heran seh. Di Jogja aja sejak pagi hujan, walaupun sempet berhenti, faktanya bahwa kami selalu ditemani gerimis sepanjang perjalanan menuju basecamp cemoro sewu 😂.


Menolak Sial

Ach. Udah dari awal di kibulan. Di jalur pendakian tidak ada penyemangat pula. 😂 hahaha.

Tapi aku tidak mau menyebut itu sebuah kesialan. Itulah yang dinamakan takdir. Dimana manusia tidak punya kuasa untuk merubahnya. Anjay. So.. nikmatin aja apa yang ada. Walaupun rada nyesek juga. 😂

MULAI PENDAKIAN

Re-Packing

Berhubung jam sudah mendekati tengah malam, kami harus segera berangkat. Tak lebih dari 15 menit, untuk pelemasan dan Re-Packing, setelah membayar Retribusi kami langsung berangkat.

Lazimnya sih, ini aku lho ya - paling tidak 30 menit pertama aku gunakan untuk Re-packing dan istirahat. Namun kami memiliki tujuan untuk bisa mencapai pos 4 sebagai lokasi tempat kami bermalam. Dan lagi-lagi... takdir mengatakan lain cuy.


Jalur Pendakian yang Sepi

Tidak terlalu mengherankan sih 😁 . Parkirannya aja sepi banget. Kalau tidak salah, kendaraan yang terparkir di parkiran tidak lebih dari sepuluh. Apalagi jam keberangkatan kami yang mendekati tengah malam. Hahaha

selama kami berjalan, tak sekalipun kami berpapasan dengan pendaki lain. Bahkan aktifitas di pos pun juga sama sekali tidak ada. Malah ada Pos yang terlihat kosong. Padahal biasanya jam segitu sudah sesak. 😃


Kondisi Pos Tiga

(20/10/16) Pukul 03.00 - Setelah perjuangan panjang, kami pun sampai di POS 3 dengan kepayahan. Aku akui, secara fisik saat itu aku sudah tidak kuat untuk menerikan perjalanan. Setelah diam-diam aku merahasiakan dari teman-teman yang lain, mungkin disini saja batasku waktu itu.

Lokasi Pos 3 sebenarnya bukan tempat yang cocok untuk mendirikan tenda. Kontur tanah yang tidak rata serta didominasi batu, akan sangat sulit mencari lokasi untuk mendirikan tenda yang nyaman. Jika tidak berhati-hati saat mendirikan tenda, akan beresiko merusak tenda. Terlebih luas pos e yang sangat kecil. 

Sesampainya disana, aku melihat beberapa tenda berdiri dengan tidak rapi. Mencar & Nyempil. Dengan kondisi fisik yang tidak memungkinkan untuk meneruskan perjalanan, maka mau tidak mau kami harus mencari tempat yang pas.

Pendakian Gunung Lawu via Cemoro Sewu
Pos 3

Insiden di Pos tiga

Lantas aku mencari lokasi untuk mendirikan tenda, dengan menyusuri seluruh lokasi pos tiga. Sebelum memulai mencari, aku letakkan tas kerilku disamping jalur pendakian tepat di tas bangunan pos tiga. Aku sandarkan undakan disana.

Aku tinggalkan tas keril ku disana. Melihat setiap sudut lokasi di pos tiga. Udara yang semakin dikin membuatku sedikit terburu-buru dalam mempertimbangkannya. Da hasilnya tetap nihil.

Tidak ada lokasi tersisa untuk mendirikan tenda. Akhirnya aku kembali ke tempat semula.

Saat aku mau kembali ke tempat semula, spontan aku berlari secepat yang aku bisa dan segera menyahut tas ku sandarkan sebelumnya.

Ada api menyela di pengait utama. Dengan sigap aku langsung memadamkannya.

Rahmat, Obi dan Guntur hanya mematung melihat kejadian tersebut. Mereka tidak reflek karena aku tahu mereka juga sedang kelelahan. Aku bisa memakluminya.

Terus aku cek kondisi tas kerilku.

Beruntungnya hanya pengait, Coverbag serta body tas yang berlubang sebesar kepalan tangan dan matras didalamnya yang rusak. Sisanya aman. Kurasa aku sedang beruntung.

Lalu tanpa pikir panjang lagi, aku dan juga temen-temen segera mendirikan tenda di tempat kami beristirsahat tersebut. Tempat yang kecil dan kontur tanah yang miring. Tak menjadi soal. Dan aku segera melupakan kejadian itu. Takut jika teman-teman merasa bersalah yang kemudian akan berimbas ke psikilogis mereka yang lantas akan merusakan perjalanan ini.

Jadi aku merelakannya. 😊 


Lokasi Mendirikan Tenda

Tepat disamping jalur pendakian. Meskipun tempatnya kecil asal tidak berbatu itu sudah lebih dari cukup.

Lokasi yang diluar jalur pendakian, juga membuat ku lebih tenang, sehingga tidak menganggu akses perjalanan naik dan turun para pendaki lainnya. 

Malam (menjelang pagi) itu, kami dengan cepatnya terlelap.

SUMMIT - MENUJU PUNCAK

Terbangun Gegara Suara Kaki Diatas Kepala Kami

Pukul 07:00 - aku terbangun. Dibarengi Obi yang setenda dengan ku.  Kurasa, terbangun karena suara orang yang berlalu lalang melewati tenda kami. Maklumlah, tenda kami memang berdiri di atas bangunan di pos 3, memakan sedikit badan jalan tapi tidak menganggu aksesnya. Jadi tak heran jika kam terbangun karena itu. hehehe ...

Pendakian Gunung Lawu via Cemoro Sewu
Pos 3, = Wajah-wajah lesu.
Beruntung sekali rasanya, kali ini aku mendapat tim yang tak terlalu banyak menggerutu 😁.

Kemudian setelah itu kami sarapan dengan menu andalan - MIE INSTAN dan langsung kami melanjutkan perjalanan. Waktu semakin cepat berlalu dan masih terus berjalan.


Jauh Dari Ekspetasi

Bangun pagi, sarapan, summit kemudian mendapat sunrise adalah ekspetasi yang kami bayangkan. Tapi sayangnya itu hanyalah sebatas angan-angan. 😄

Bangun jam 7, sudah sangat terlambat untuk mendapatkan sunrise. Belum lagi perjalanan ke puncak yang kurang lebih membutuhkan waktu 2 hingga 3 jam lagi.

Dari kekecewaan gara-gara bangun kesiangan, ternyata tidak begitu berpengaruh bagi Obi dan Guntur. Entah merupakan pelampiasan atau memang karakternya seperti itu, sepanjangan perjalanan menuju pos empat mereka berdua banyak narsisnya.

Bertolak belakang dengan Rakhmat yang seperti dikejar-kejar waktu. 😃

Dia tidak menggurutu tanpa sayangnya, dengan melihat ekspresinya saja aku bisa tahu. 😉

 Pendakian Gunung Lawu via Cemoro Sewu Siap Gas lagi.
Jomblo terhormat :v

Disambut kabut

Pukul 11:00 - sampai di Pos empat, dan 20 menit berikutnya kami sudah ada di Pos lima.

Saat masih dibawah pos 4. Aku masih optimis jika kami bisa mendapat secercah cahaya untuk menghangatkan tubuh. Namun, sepertinya harapan itu harus pupus ketika kami sampai di pos lima. Kami disambut oleh kabut tebal. Membuat jarak pandang menjadi sangat terbatas.

Terbesit untuk mengabadikan moment itu, lantas aku aku segera mengambil handphone dan meminta Rakhmat untuk memotrenya. 😁
 Pendakian Gunung Lawu via Cemoro Sewu Siap Gas lagi.
Taken by Rahmat | Pos 5

Kabut semakin tebal. Kami tak bisa berlama-lama berdiam di pos lima. Jam sudah hampir menyentuh angka 12. Waktunya untuk meneruskan perjalanan.

Aku dan Rahmat berangkat duluan, sembari  menunggu Guntur dan Obi, kami berjalan perlahan. Sempat berharap-harap cemas akankah mendapat view sesuai dengan ekspetasi mereka.

Aku pribadi, tak terlalu banyak berharap ya. Lawong ini sudah yang ketujuh kalinya.  jadi view-view seperti ini, sudah sering aku nikmati dan rasakan. Berbeda bagi mereka bertiga yang baru kali pertamanya. jadi Ya, aku memakluminya.



Puncak

Pukul 12:00 - kami akhirnya sampai puncak. Walaupun aku dan Rakhmat sempat menggurutu dengan lamanya Obi dan Guntur menghabiskan waktu dengan selfi ria.

Obi dan Guntur bermain dengan Bunga Edelweiss. Sedangkan dan Rakhmat hanya duduk bercengkrama sembari melihat mereka berdua. Rasa-rasanya sedang Momong anak ya. 😃 

PENDAKIAN GUNUNG LAWU VIA CEMORO SEWU
jalan setapak sebagai batas penantian. PUNCAK
Sepertinya Rakhmat sudah tak sabar sehingga dia meninggalkan aku yang masih PW (Posisi Wuenak) sembari melihat tingkah polah Obi dan Guntur. 😤

Aku memberi isyarat kepada Obi dan Guntur untuk segera menyusul dan aku sendiri akhirnya  mengejar si Rakhmat. 


Mencari Spot Terbaik

Sesampainya di Puncak. Aku melihat disekeliling dan mengetahui posisi si Rakhmat. Tidak seperti pendaki laiinya, mengetahui puncak sudah di depan mata sama sekali tak punya nafsu untuk ikut berselfie disana. Aku lebih memilih mencari spot yang aku idam-idamkan. Semak-Semak.

Bukan untuk Berak, melainkan buat memejamkan mata walau hanya sesaat. Ternyata, doa ku terkabul, ada sinar matahari yang muncul di balik kabut sesaat setelah kami di pucak.

Angin semilir, riuh hiruk pikuk puncak oleh pendaki dan sedikit sinar matahari yang hangat membuat ku cepat tidak sadarkan diri. Aku tertidur.


PENDAKIAN GUNUNG LAWU VIA CEMORO SEWU
> Obi > Rakhmat > Guntur

Ngeces 😂

Kayak orang blo'on pas bangun. Kayaknya sih aku mbeweh deh waktu itu, sisa guratan air liur ku di pipi masih segar, hihihih... jam 13:30 kami beres-beres. Spot selanjutnya adalah ke tempat nya Mbok Yem. Sebelum turun,,, tak lupa kami menyempatkan melakukan ritual, yaitu :

bukti kami sudah sampai puncaaaaaaak
Perjalanan ke tempatnya mbok Yem dari puncak, sebenere gag sampai 20 menit, Hanya turun mengikuti jalur, kemudian ada persimpangan yang tak jauh dari puncak, ambil ke kiri. Namun karena pas turun kami mencar-mencar, terpaksa kami harus turun di persimpangan antara Puncak, Mbok yem, dan Sendang Drajat. Yaaaa,, apalagi kalo bukan karena mereka yang tak ingin memanfaatkan kesempatan yang belum tentu mereka dapatkan lagi. POTRO-POTRO .... 

Dari waktu 20 menit bila melalui jalan yang benar. Kami habis waktu 30 menit lebih sampai ketempatnya mbok Yem. waktu yang berharga melihat langit sudah mulai mendung.

tampak dari kejauhan warung Mbok yem || Model : Rahmat

Disana, di area warung tertinggi di pulau Jawa, pas kami ingin masuk ke warung e  Mbok Yem, banyak tamu yang berbincang-bincang diluar. Dari logatnya jelas sekali kalo mereka dari Surabaya. Kami urungkan untuk menikmati pecel nya Mbok Yem yang fenomenal,, (jarene loo :D) dan kami memilih warung yang di dekatnya.

Terlihat hanya ada 2 pendaki di dalamnya, kami masuk, melepaskan keril, dan enteng sekaliiiiiiiii,,,,  mungkin keril ane paling berat kali ya. Sampe ane kepayahan lo ngebawa keril ane sendiri. Apa mungkin packing ane yang salah.. Hmmm...

Di Warung, kami pesen pecel dan minuman hangat, Harganya Rp,7.000 kalo gag salah. Lupa ane,,,, tapi yang jelas harga itu sangat lah murah buat kami. itu gag termasuk minumannnya... nggak tau kalo tambah minumannya lawong ane gag mesen minuman jee...

Bukan warung-nya Mbok Yem
Dengan kondisi badan yang letih, karena terlaku memforsir sejak berangkat sampai ke tempat ini. Membuat kami mager diwarung ini. Selain hangat, juga membuat mata pedih.... hahaha,,, karena asap pembakaran masuk ke Warung. Tapi tak kami pedulikan itu. Yang kami pikirkan saat itu adalah kasur empuk dan selimut hangat. Menghantarkan imajinasi-imajinasi yang membuat kami enggan untuk beranjak... hahaha... namun demikian, kami sadar,,, bahwa perjalanan masih panjang, bahkan terlalu panjang untuk sampai rumah kami.


***
Baca Juga :

***

45 menit. Cukup mengistirahatkan badan dan membuat makanan yang baru kami makan untuk cepat turun sampai lambung. Kami bergegas untuk packing, sesasaat setelah terdengan suara gemuruh dari kejauhan. Dibawah berarti sudah hujan. Kami siapkan raincoat masing-masing. Selanjutnya... Gasss,,, Turun.

30 menit berjalanan meninggalkan warung. Ternyata cerah... seperti kesia-siaan mengenakan raincoat ini. Dan sepakat, kami menanggalkan. Tapiiii, saat itu juga,, mak bresss , hujan turun, diawali gerimis sedang, cukup deras, kemudian langsung deras. Mau gag mau lah,,, kami kenakan raincoat kami lagi, hahahaha,,,,, baju kami pun tak luput dari sambutan air langit yang turun tiba-tiba itu. Basah ee dab... :v :V

wis kadung mantel e di copot,,, malah Udiaan.... hahahahah
Dari pos 5, hujan semakin deras. Meskipun begitu kami akan tetap terjang. Mengingat waktu sudah semakin sore. Sejujurnya, ane sangat menikmati perjalanan turun itu, namun sayangnya si Rahmat harus merelakan kenikmatan seperti yang ane rasakan karena cidera kaki nya di rasakan selepas meninggalkan warung.

Disaat seperti itu, aku tidak mengetahui kondisi Rahmat saat itu, karena ane dan Guntur berada jauh di belakang. Rahmat bersama Obbi. Sebenere niat ane meninggalkan mereka, adalah membuat sesuatu yang hangat sesampainya di pos 3, dan segera ganti pakaian ku yang sudah basah karena Raincoat ku bocor. Namun sesampainya di Pos 3, ternyata sudah disesaki oleh pendaki yang sama-sama memilih berteduh. 

pos 3 yang sesak. 
Menggigil. Tentu saja... apalagi hujan yang disertai angin membuat nyali menciut jika harus memaksa untuk turun. Ane dan Guntur sudah ada di pos 3 cukup lama. Dan belakangan diketahui mengapa Rahmat dan Obi terlalu lama sampai di pos 3, karena si Rahmat mantelnya bocor, air masuk melakui sela-sela lehernya yang membuat ia mendadak pusing. Tekadnya nya menuntun ia tetap bertahan sampai di Pos 3.

Di Pos 3, Obi dan Rahmat istirahat sejenak, dan menyiapkan apa yang perlu mereka siapkan untuk perjalanan turun. Headlamp, ganti pakaian yang basah, mempersiapkan mantel, dll. Kami akan nekat menerjang lagi hujan itu. Karena di pos 3, waktu sudah menunjukan pukul 16:30. Tak mungkin kami akan sampai di Basecamp Maghrib. Terlebih dengan kondisi si Rahmat.

Hujan sudah sedikit reda. Kami yang tak bisa menunggu waktu lebih lama lagi, bergegas meninggalkan pos 3. 15 menit berjalanan, yang dialami oleh Rahmat, di alami juga oleh Guntur, Jalan terhuyung-huyung. Disebabkan karena ia terlalu pasif ketika di pos 3 tadi. Terlebih dengan persiapannya. Mantelnya tak mendukung. Ane aja pake double mantel, Raincoat dan Ponco. DI tengah jalan, kami memaksa si Guntur untuk minum obat pusing yang kami bawa dari rumah sebagai perlengkapan P3K. Ia sok kuat dengan menolak tawaran kami, itu sudah umum terjadi, yang ujung-ujungnya nanti akan merepotkan semua tim. Kami paksa sampai akhirnya dia mau minum obat itu. Kami lanjutkan perjalan lagi.

Di Pos 2, langit sudah gelap. Jam menujukan pukul 18:00. Kami hidupkan headlamp, kemudian menerjang lagi hujan yang tak henti-hentinya turun. Tak banyak memang yang kami obrolkan setelah pos 2. Kami banyak diamnya, sesekali ngobrol ngalor-ngidul tapi tak bertahan lama. Kesunyian yang menemani kami sepanjang pos 2 sampai dengan pos 1.

Jam 23:00, kami sampai di Basecamp dengan selamat. Guntur yang dipos 3 terlihat kepayahan. Justru ia yang paling pertama sampai di Basecamp. Kami langsung menuju masjid diseberang basecamp untuk berbenah diri, karena kami ketahui, didalam BC sudah penuh dengan pendaki lain.

1 jam setengah, waktu yang kami gunakan untuk re-packing buat perjalanan balik ke jogja. Ganti pakian yang basah dengan pakaian kering yang sudah ane siapkan dari awal. Namun sayangnya, si Guntur, mungkin terlalu meremehkan cuaca dan persiapan. Semua pakaianya basah, termasuk seluruh peralatan yang ada di dalam tasnya. Ia hanya mengandalkan Cover Bag nya untuk melindungi dari air masuk ke dalam tasnya. Ane kesel, tapi juga kasihan. Untung saja sudah di basecamp. Jadi ane berharap waktu itu, ia tetap bertahan sampai jogja dengan kondisi pakian yang basah. 

Barulah, Jam 1 pagi, hari senin,,, kami start menuju Jogja, setelah makan di warung belakang basecamp, dan 30 menit sisanya kami gunakan untuk tidur di warung tersebut seijin yang punya warung.
Go.. Jogja
Jam 4 pagi. Kami sudah sampai di rumahnya Rahmat. Tanpa istirahat, Obi dan Guntur langsung balik kerumahnya. Sedangkan ane, ane ketiduran di teras rumah nya Rahmat, Jam 5, ane lihat jam pas di bangunin disuuruh pindah ke ruang Tamu. Dan jam 7 pagi, ane pun juga balik ke Kantor, tanpa membangunkan si Rahmat yang tampak pulas sekali tidurnya.

SELESAI.

Sisa-sisa fotonya :
Ane Gan


Rahmat diatas pos 3
Obi 


Guntur


Apalah ini maksudnya ... hahahaa






0 Response to "PENDAKIAN GUNUNG LAWU VIA CEMORO SEWU"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel